Aktual.co.id – sebagai makhluk sosial sering bersentuhan dengan orang yang menguras energy emosi. Berurusan dengan orang racun terasa seperti lari maraton, membuat kelelahan dan bertanya-tanya apa yang harus dilakukan.
Orang-orang ini, yang sering dikenal sebagai vampir emosional, sulit dikenali. Orang ini tidak selalu pelaku kriminal, tetapi kebiasaan dan ucapannya menguras kesejahteraan emosional orang lain.
Psikolog Eliza Hartley memberikan gambaran orang yang memiliki tekanan emosi dengan kepribadian racun.
Memiliki Ketergantungan yang Tinggi
Salah satu tanda paling signifikan dari orang yang emosi adalah ketergantungannya yang tinggi pada orang lain. Orang ini bergantung pada orang-orang di sekitar nya untuk dukungan emosional, pengambilan keputusan, dan harga diri.
Ketergantungan ini sering kali memberi banyak tekanan pada hubungan, sehingga menciptakan ketidakseimbangan yang melelahkan. Ini seperti membawa beban emosional kepada pasangan.
Selalu Merasa Menjadi Korban
Orang ini jarang bertanggung jawab atas tindakan atau mengakui peran dalam suatu konflik. Sebaliknya, dirinya menggambarkan pihak yang tidak bersalah.
Mentalitas seolah menjadi korban ini dapat menguras emosi orang-orang di sekitarnya. Ini seperti terjebak dalam permainan menyalahkan yang tidak pernah berakhir.
Mengabaikan Batasan
Batasan sangat penting untuk menjaga hubungan yang sehat . Contoh menelepon di waktu yang tidak semestinya, mengharapkan tanggapan langsung terhadap pesan, atau bersikeras membahas topik yang membuat tidak nyaman.
Mengabaikan atau tidak menghormati batasan seseorang dapat menjadi tanda orang yang menguras emosi. Mengenali hal ini membantu memperkuat batasan dan melindungi kesehatan emosional.
Penyuka Drama
Orang ini hidup dalam sinetronnya sendiri, di mana setiap masalah dibesar-besarkan menjadi sebuah krisis. Orang ini menikmati drama dan kekacauan yang ditimbulkannya.
Keadaan pergolakan yang terus-menerus ini dapat menguras emosi. Rasanya seperti selalu waspada, tidak pernah tahu kapan drama berikutnya akan terjadi.
Kurangnya Empati
Empati merupakan inti dari hubungan antarmanusia. Empati tentang memahami dan berbagi perasaan orang lain. Namun, individu yang secara emosional menguras emosi sering kali kesulitan dengan empati.
Hal ini ditandai dengan mendominasi percakapan dengan pengalaman dan masalahnya sendiri, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang bagi orang lain.
Menariknya, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa area otak yang berhubungan dengan empati dan pemahaman emosi ini menunjukkan perbedaan dengan orang yang sehat.
Kebutuhan Konstan Mendapatkan Kepastian
Artinya, harga dirinya bergantung pada persetujuan eksternal. Meskipun wajar sesekali mencari kepastian, namun kebutuhan kepastian yang terus-menerus dapat menguras emosi.
Ini seperti terjebak dalam lingkaran ketidakpastian dan ketidakamanan yang menguras energi. Mengenali pola ini langkah pertama menjaga kesehatan emosional .
Negativitas yang Berlebihan
Orang ini memandang dunia melalui sudut pandang negatif, terus-menerus berfokus pada apa yang salah daripada apa yang benar. Ngobrol bersama orang ini seperti ditarik ke dalam pusaran keluhan, kritik, dan ketidakpuasan.
Sikap negatif yang berlebihan ini dapat membebani pikiran dan emosi orang-orang di sekitarnya. Mirip seperti berada di ruangan yang perlahan terisi air, semakin lama semakin sulit bernapas. (ndi)
