Aktual.co.id – Di tegah riuhnya pemasangan stairlift di tangga Borobudur di media sosial, jelang kunjungan Presiden Immanuel Macron, pihak InJournery memberikan penjelasan terkait pemasangan stairlift tersebut.
Direktur Utama InJourney Maya Watono menyampaikan semua dilakukan dengan mengedepankan agar tidak merusak struktur candi dan menjunjung tinggi ketentuan yang ditetapkan oleh UNESCO.
“Kami sudah berkali-kali dengan Kementerian Kebudayaan berdiskusi supaya apa yang kita lakukan ini sesuai dengan UNESCO,” katanya Maya Watono di Magelang, Selasa (27/5) seperti dikutip ANTARA.

Dijelaskan bahwa alat tersebut bersifat portable. Masyarakat yang tidak bisa naik candi sebelumnya, sekarang bisa naik candi terutama untuk beribadah.
“Biksu-biksu senior yang ingin sekali beribadah di atas Candi Borobudur, yang saat ini tidak bisa sekarang punya kesempatan untuk naik. Kami berpegang bahwa beribadah itu harusnya tidak ada keterbatasan, jadi kita harus bisa memfasilitasi yang mau beribadah,” katanya.
InJourney memang mengedepankan empat pilar, pertama inklusifitas, kedua spiritual and culture, ketiga hijau dan edukasi.
“Inklusivitas ini sangat penting , karena di situs-situs heritage dunia, di mana-mana ini sudah ada progres mengenai fasilitas prasarana, kami ingin juga ada di Candi Borobudur,” katanya.
Umat Buddha di seluruh dunia itu hampir 500 juta, dan di Asia sekitar 300 juta. Kalau bisa mengambil 1 persen 3 juta, devisa yang masuk untuk Indonesia luar biasa dan berdampak pada masyarakat Magelang, sekitar Borobudur dan Jateng. (ndi/ANTARA)
