Aktual.co.id – Ada perbedaan mencolok antara menghadapi masalah secara langsung dan menjauhinya. Melarikan diri dari masalah adalah tanda ketakutan, cara menghindari konfrontasi yang membuat tidak nyaman.
Namun, menghadapinya secara langsung memerlukan keberanian, ketahanan, dan kemauan untuk bergulat dengan ketidaknyamanan tersebut.
Berikut perilaku melarikan diri dari masalah dari pada menghadapinya berdasarkan analisa psikolog
Lucas Graham.
Hidup di Masa Lalu atau Masa Depan
Hidup di masa lalu atau masa depan adalah perilaku umum di antara yang menghindari masalah. Orang ini terjebak dalam penyesalan masa lalu atau dengan cemas mengantisipasi skenario masa depan.
“Satu-satunya momen yang dapat dipengaruhi adalah masa kini. Jadi, berkutat pada apa yang telah terjadi atau apa yang mungkin terjadi akan membuang energy. Fokuslah pada apa yang sedang terjadi,” kata Lucas.
Tangani masalah saat muncul, daripada menundanya untuk masa depan atau berharap dapat mengubah keputusan masa lalu.
Menghindari Percakapan yang Sulit
Konfrontasi tidaklah mudah karena mengundang ketidaknyamaan serta memunculkan rasa canggung. Orang yang lari dari masalah sering kali menghindari pembicaraan yang sulit.
“Menghindari diskusi yang melibatkan kritik, umpan balik negatif, atau kebenaran yang tidak mengenakkan membuat tidak nyaman orang yang memiliki kepribadian seperti ini,” kata Lucas.
Menurutnya, dengan menghadapi percakapan yang menantang memberi diri kesempatan untuk mengatasi masalah sebelum masalah tersebut menjadi tidak terkendali.
Menyalahkan Orang Lain
Menyalahkan orang lain adalah cara yang bisa dilakukan orang untuk menghindari masalah. Lebih mudah menyalahkan orang lain daripada melihat ke dalam diri sendiri dan menerima menjadi bagian dari masalah.
“Menyalahkan orang lain bukan saja cara untuk lari dari tanggung jawab, tetapi menghambat pertumbuhan pribadi karena menciptakan penghalang yang menghalangi untuk belajar dari kegagalan dan melangkah maju,” tulis Lucas.
Mengambil tanggung jawab bukan berarti merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri. Ini tentang memahami bahwa memiliki kekuatan untuk membuat pilihan yang lebih baik di masa depan.
Penyangkalan
Penyangkalan merupakan perilaku bagi yang menghindari masalah. Ini adalah mekanisme pertahanan psikologis saat seseorang menolak untuk mengakui realitas dalam sebuah situasi yang rumit.
“Orang menggunakan penyangkalan sebagai strategi mengatasi masalah untuk menghindari situasi yang menyakitkan atau tidak nyaman,” ungkap Lucas.
Dikatakan bahwa penyangkalan tidak menyelesaikan masalah , ia hanya menunda hal yang tak terelakkan. Maka hadapilah secara langsung dan selesaikan masalah tersebut dengan keberanian dan tekad.
Gangguan
Orang tersebut terus bergerak, asyik dengan tugas dan aktivitas yang tak ada habisnya. Perilaku ini dikenal sebagai pengalihan perhatian, dan merupakan cara untuk menutupi kesalahannya.
Gangguan berarti mengalihkan perhatian ke tugas-tugas yang kurang penting untuk menghindari penyelesaian masalah sebenarnya yang sedang dihadapi.
Daripada membenamkan diri dalam kesibukan, luangkan waktu untuk mengenali mengapa harus menghindari masalah. Memahami akar permasalahannya merupakan langkah awal untuk mengatasinya secara efektif.
Mengabaikan Masalah
Perilaku lain yang umum dilakukan orang-orang yang menghindari masalahnya adalah mengabaikan masalah.
Menurut Lucas, mengabaikan suatu masalah bagaikan menempelkan plester pada luka. Artinya mengatasi masalah hanya sementara, tetapi tidak mempercepat penyembuhan.
Penundaan
Tanda pertama yang menunjukkan seseorang menghindari masalahnya adalah menunda-nunda.
Penundaan adalah seni penghindaran masalah. Ini adalah perilaku kompleks yang melibatkan banyak faktor seperti takut gagal, rasa perfeksionisme, dan harga diri yang rendah.
“Orang yang suka menunda-nunda cenderung mengesampingkan masalahnya dengan alasan akan mengatasinya nanti. Namun tidak akan menyelesaikan masalah justru proble akan terus menumpuk,” ungkapnya. (ndi)
