• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Studi : Publik Menginginkan Sikap Otoriter Ketika Negara Penuh Konflik
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Studi : Publik Menginginkan Sikap Otoriter Ketika Negara Penuh Konflik

Redaktur III Senin, 16 Juni 2025
Share
3 Min Read
ILustrasi pemerintah otoriter / Foto : capture psypost
ILustrasi pemerintah otoriter / Foto : capture psypost

Aktual.co.id – Sebuah studi internasional besar yang diterbitkan Journal of Personality menemukan bahwa orang-orang di seluruh dunia cenderung mendukung bentuk pemerintahan otoriter ketika terancam oleh bahaya seperti kejahatan, kemiskinan, atau ketidakstabilan politik.

Pola ini diamati di 59 negara, menjadikannya uji lintas budaya terbesar. Otoritarianisme, dalam penelitian psikologis, merujuk pada preferensi terhadap kepemimpinan yang kuat, tatanan sosial yang ketat, dan kepatuhan terhadap otoritas, yang sering mengorbankan prinsip demokrasi.

Konsep ini awalnya dikembangkan setelah Perang Dunia II untuk memahami bagaimana orang biasa dapat mendukung rezim totaliter. Selama beberapa dekade, banyak teori yang menyatakan bahwa perasaan terancam atau tidak aman dapat memicu pergeseran psikologis pemerintahan otoriter.

Akan tetapi, sebagian besar penelitian sebelumnya didasarkan pada studi yang relatif kecil yang dilakukan di masyarakat Barat, Terdidik, Terindustrialisasi, Kaya, dan Demokratis (WEIRD), menimbulkan kekhawatiran tentang apakah temuan tersebut dapat digeneralisasi ke seluruh dunia.

Baca Juga:  Kebiasaan Orang yang Menyetel Volume TV Pada Angka Genap. Berikut Kepribadiannya.

“Ada banyak literatur tentang bagaimana otoritarianisme muncul dari orang-orang yang merasa terancam, tetapi literatur tersebut hampir seluruhnya berfokus pada kaum konservatif dalam konteks Barat,” kata penulis studi Lucian (Luke) Gideon Conway III, seorang professor di Grove City College dan penulis Liberal Bullies: What Psychology Teaches Us About the Left’s Authoritarian Problem – And How to Fix It.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, Conway menganalisis data dari World Values ​​Survey, sebuah proyek penelitian global yang berlangsung lama yang mengumpulkan informasi tentang keyakinan politik, nilai-nilai budaya, dan sikap sosial dari sampel representatif di puluhan negara.

Baca Juga:  Pekan Ayah untuk Mengenang Perjuangan Ayah Buat Keluarga

Otoritarianisme dinilai menggunakan skala yang mengukur dukungan terhadap pemerintahan otokratis, dengan menanyakan kepada responden apakah lebih menyukai kepemimpinan oleh orang kuat, pemerintahan militer, atau pengambilan keputusan teknokratis tanpa masukan publik.

Yang penting, skala ini secara luas dianggap netral secara ideologis, menghindari bias yang terlihat dalam banyak pengukuran sebelumnya yang menyamakan otoritarianisme dengan ideologi politik tertentu.

Sampel akhir mencakup 84.677 orang dari 59 negara di enam benua, dengan negara-negara WEIRD dan non-WEIRD terwakili. Model statistik digunakan untuk menilai apakah ancaman yang dirasakan memprediksi dukungan terhadap pemerintahan otoriter sambil mengendalikan variabel-variabel seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, dan ideologi politik.

Hasilnya menunjukkan hubungan yang konsisten antara tingkat ancaman dan sikap otoriter. Individu yang melaporkan ancaman pribadi, lingkungan, atau politik cenderung mendukung bentuk pemerintahan otoriter.

Baca Juga:  Gejala Anxiety yang Jarang Disadari

Studi ini melengkapi bukti banyak yang mendukung teori bahwa psikologi manusia memprioritaskan kepemimpinan yang kuat selama masa-masa ancaman. Sebuah makalah terbaru yang diterbitkan dalam Evolution and Human Behavior juga menemukan bahwa orang-orang di 25 negara lebih memilih pemimpin yang dominan ketika dalam keadaan konflik.

Meskipun skalanya besar, studi baru ini memiliki keterbatasan. Karena data berasal dari satu gelombang respons survei, temuannya bersifat korelasional dan tidak dapat membuktikan ancaman menyebabkan otoritarianisme.

Ada kemungkinan orang-orang yang mendukung pemerintahan otoriter lebih cenderung menganggap dunia sebagai ancaman. Studi eksperimental dalam sampel yang lebih kecil telah menunjukkan bahwa memanipulasi ancaman dapat meningkatkan sikap otoriter. (ndi/psypost)

SHARE
Tag :Mental healthOtoriterPemerintah Otoriterpsikologi
Ad imageAd image

Berita Aktual

Kapal tangker di Selat Hormuz/ Foto: Aljazeera
Iran Dilaporkan Menolak Usulan Gencatan Senjata dengan Amerika Serikat
Jumat, 24 Juli 2026
Kim Soo Hyun / Foto: Allkpop
Penggemar Kim Soo Hyun Menyumbangkan Pakaian Anak Tidak Mampu di Korea
Jumat, 24 Juli 2026
Gambaran iPhone Ultra/ Foto: GSM Arena
Beredar Rumor iPhone Ultra Akan Ditunda Tanggal Perilisannya
Jumat, 24 Juli 2026
Sebuah kapal tanker yang diserang di Laut Merah/ Foto: Anadolu
Kemenlu RI Kecam Penyerangan Kapal di Perairan Laut Merah
Jumat, 24 Juli 2026
Dampak gempa di Peru/ Foto: Ist
Pemerintah Peru Mengumumkan Keadaan Darurat Bencana Pasca Gempa Magnitude 5,1
Jumat, 24 Juli 2026

Mental Health

Meditasi sarana menenangkan diri ala Stoikisme/ foto : istimewa

Lima Kecerdasan yang Bisa Dilatih untuk Kesehatan Mental

Ilustrasi manipulasi/ Foto: freepik

Berikut Cara Manipulator Mempengaruhi Orang Lain Agar Mengikuti Kehendaknya

Ilustrasi menenangkan diri/ Foto: freepik

Seni Menenangkan Diri untuk Menghadapi Setiap Persoalan

Ilustrasi depresi/ Foto: freepik

Peristiwa Negatif Memicu Gejala Depresi pada Remaja Putri dan Putra.

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Nanik Berkomitmen Tetap Mengawal Program Makan Bergizi Gratis

Kemenkes Venezuela Umumkan Tiga Kematian Akibat Hantavirus

Harga Emas Antam Terbaru Rp2,635 Juta Per Gram

Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN dengan Alasan Kesehatan

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono Menggantikan Nanik S Deyang Sebagai Kepala BGN

More News

Ilustrasi kepemimpinan / Foto : freepik

Penelitian : Pemimpin Radikal Meningkatkan Loyalitas pada Pendukung

Minggu, 29 Juni 2025
Menunjukkan ketertarikan bagian magnetik untuk berkenalan dengan orang/ Foto : Freepik

Trik Psikologis Menjadi Magnetis Ketika Bertemu Orang Baru

Sabtu, 22 Maret 2025
Gita Savitri Devi alias Gitasav

Media Sosial Dihebohkan Pandangan Childfree oleh Selebgram Gitasav

Kamis, 13 Maret 2025
Sibuk menjadi alasan orang enggan mencari jejaring yang baru / Foto : yourtango

Alasan Orang Kehilangan Minat Mecari Jejaring Sosial Baru

Selasa, 15 April 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id