Aktual.co.id – Pernahkah bertemu seseorang yang menceritakan seluruh kisah hidupnya dalam 10 menit pertama percakapan?
Orang-orang yang terlalu banyak berbagi ini sering kali memiliki pengalaman masa kecil yang sama. Meski terlihat membocorkan rahasia tanpa peduli, namun ada rahasia dibalik sikapnya yang mudah bercerita tersebut.
Apa yang mendasari orang ini menjadi mudah bercerita di menit awal. Berikut analisa Isabella Chase terkait orang yang mudah bercerita di awal pertemuan.
Keinginan Selalu Terhubung
Bagi banyak orang yang memiliki kebiasaan banyak berbagi adalah cara untuk menjalin hubungan dengan lingkungan sosial tersebut.
Orang ini hanya mencoba membangun jembatan, untuk menciptakan pemahaman bersama. Jadi orang ini berusaha menjangkau, mencari koneksi dengan cara bercerita di menit awal pertemuan.
Peran Pengasuh
Hidup dalam pengasuhan orang lain membuat orang ini kesulitan mengontrol pembicaraan ketika bertemu dengan orang lain.
Apalagi peran pengasuh lebih banyak mendengarkan daripada menjadi teman untuk berbagi pendapat, sehingga mengakibatkan orang tersebut lebih banyak mendominasi.
Saat dewasa, kebiasaan ini berlanjut, dan mengarah pada kecenderungan untuk berbagi informasi pribadi secara berlebihan.
Kebutuhan akan Keaslian
Bisa jadi kehidupan orang ini terbiasa berbagi dengan keluarga sehingga tidak ada batasan untuk saling bercerita di menit awal.
Kebiasaan ini menjadi identitas diri yang terbentuk keaslian sifat dasar orang tersebut. Keaslian ini akan terus melekat hingga dewasa sehingga sulit untuk dikendalikan ketika beranjak dewasa.
Jika bertemu dengan seseorang yang ‘suka berbagi berlebihan’ bisa jadi sikapnya ini mempertahankan keaslian yang dimiliki.
Pengaruh Gaya Keterikatan
Teori keterikatan , yang pertama kali dikemukakan oleh psikolog John Bowlby, menyatakan bahwa hubungan awal dengan pengasuh dapat membentuk interaksi di kemudian hari.
Individu dengan gaya keterikatan tidak aman, misalnya, mungkin mengalami perawatan atau perhatian yang tidak konsisten selama tahun-tahun pembentukan dirinya.
Hal ini dapat mengakibatkan berbagi informasi secara berlebihan sebagai upaya menjalin koneksi cepat dan menghindari penolakan yang dirasakan.
Lingkungan Validasi
Banyak yang mempercayai komunikasi terbuka merupakan hal baik, meski kadang mengarah menjadi hal yang berlebihan.
Orang ini akan berbagi detail intim tentang kehidupan, perjuangan, atau pencapaiannya dengan harapan akan divalidasi.
Bila bertemu dengan orang yang ‘suka berbagi’, ingatlah mungkin mencari validasi. Memahami kebutuhan orang ini dapat membantu mengarahkan percakapan dengan lebih baik.
Tidak Adanya Batas
Bagi banyak orang, kebiasaan ini berakar dari masa kanak-kanak, terutama di rumah yang batasannya terlalu longgar atau tidak ada sama sekali.
Saat tumbuh dewasa, orang ini terpapar pada percakapan dewasa. Pengaburan batasan usia ini sering kali menyebabkan persepsi yang keliru tentang pribadi.
Karena terbiasa berkumpul dengan orang dewasa, maka akan terbentuk pola bercerita Panjang lebar tanpa batasan yang seharusnya. (ndi)
