• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Berikut Pola Asuh yang Bisa Merusak Mental Psikologi Anak
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Berikut Pola Asuh yang Bisa Merusak Mental Psikologi Anak

Redaktur III Minggu, 1 Maret 2026
Share
6 Min Read
Ilustrasi mendidik anak/ Foto: freepik
Ilustrasi mendidik anak/ Foto: freepik

Aktual.co.id – Pernyataan bahwa orang tua selalu benar sering dijadikan tameng menutupi perilaku yang melukai anak. Faktanya, banyak penelitian psikologi perkembangan menunjukkan pola asuh yang salah dapat meninggalkan luka emosional mendalam hingga anak dewasa.

Sebuah studi dari University of Cambridge menemukan anak yang tumbuh dalam keluarga otoriter berisiko lebih tinggi mengalami kecemasan sosial dibanding anak yang dibesarkan dengan pendekatan hangat dan suportif.

Fakta ini mengingatkan bahwa menjadi orang tua bukan berarti otomatis memahami cara membesarkan anak dengan sehat.

Dalam kehidupan sehari-hari sering melihat bagaimana anak dimarahi bukan karena salah, melainkan karena orang tua sedang lelah.

Ada pula anak yang tidak diberi ruang berpendapat, karena dianggap masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Situasi seperti ini menciptakan luka tak terlihat yang sering terbawa hingga dewasa.

Berikut poin kritis yang perlu dipahami agar tidak mengulang kesalahan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Memaksa Anak Menuruti Kehendak Tanpa Memberi Ruang Dialog

Banyak orang tua merasa keputusan mereka mutlak, tanpa perlu didiskusikan. Anak dianggap objek yang harus patuh, bukan subjek yang punya hak suara.

Psikologi perkembangan menekankan pentingnya ruang dialog agar anak belajar mengekspresikan diri dengan sehat. Contoh nyata terlihat saat anak ingin memilih jurusan kuliah.

Alih-alih mendengar keinginan anak, orang tua menentukan jurusan yang dianggap lebih bergengsi. Anak yang dipaksa akhirnya belajar menekan keinginannya sendiri, dan tumbuh dengan rasa tidak percaya diri pada pilihannya.

Baca Juga:  Tips Menghadapi Orang Beracun yang Ingin Menjatuhkan

Ketika ruang dialog diabaikan, anak bukan kehilangan kesempatan mengembangkan kemandirian, tetapi terbiasa hidup dengan standar orang lain.

Akibatnya, mereka bisa merasa kosong ketika dewasa karena tidak pernah benar-benar mengenal dirinya.

Menggunakan Kekerasan Fisik atau Verbal Cara Mendidik

Banyak orang tua yang meyakini pukulan atau bentakan bentuk kasih sayang agar anak disiplin. Penelitian psikologi menunjukkan hukuman fisik hanya menciptakan kepatuhan jangka pendek, namun meninggalkan trauma jangka panjang.

Seorang anak yang sering dipukul karena nilai jelek di sekolah mungkin terlihat lebih rajin belajar. Tetapi, di balik itu ia tumbuh dengan rasa takut, bukan motivasi yang sehat.

Lebih parah lagi bisa menganggap kekerasan cara wajar menyelesaikan masalah. Kekerasan verbal tidak kalah berbahaya. Ucapan seperti “kamu bodoh” atau “kamu tidak bisa apa-apa” membekas lebih lama daripada luka fisik.

Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Niatnya memotivasi, tetapi membandingkan anak dengan saudara atau teman menumbuhkan rasa tidak pernah cukup.  Anak elajar kasih sayang orang tua bersyarat, tergantung seberapa baik dibandingkan orang lain.

Seorang anak yang dibandingkan dengan kakaknya yang pintar bisa merasa hidupnya tidak ada artinya. Meski ia berusaha keras, pencapaiannya tidak pernah diakui karena standar selalu diarahkan pada orang lain.

Baca Juga:  Tanda Saatnya Seseorang Detok dari Media Sosial Menurut Psikologi

Lama-kelamaan, ia tumbuh dengan rasa iri, minder, bahkan membenci dirinya sendiri. Membandingkan bukan hanya merusak harga diri anak, tetapi juga menghancurkan hubungan antar saudara.

Mengabaikan Perasaan Anak

Ada orang tua yang terbiasa meremehkan emosi anak. Ketika anak sedih, tangisnya dianggap cengeng. Saat anak marah, emosinya dinilai tidak sopan. Padahal, perasaan anak adalah bagian penting dari perkembangan psikologinya.

Misalnya, anak yang menangis karena kehilangan mainan sering dimarahi dengan ucapan “masa gara-gara mainan aja nangis.”

Akibatnya, anak belajar menekan emosinya, bukannya belajar memahami dan mengelolanya. Mengabaikan perasaan membuat anak tumbuh tanpa kecerdasan emosional yang matang.

Anak kesulitan mengenali apa yang sebenarnya dirasakan, dan hal ini bisa merembet ke kesulitan dalam menjalin hubungan sehat saat dewasa.

Menuntut Anak Sempurna Tanpa Memberi Ruang Gagal

Ada orang tua yang menuntut anak selalu menjadi yang terbaik, tanpa memberi ruang untuk kesalahan. Padahal, kegagalan adalah bagian penting dari proses belajar.

Misalnya, seorang anak yang diminta selalu mendapat nilai 100 di sekolah akan tumbuh dengan rasa takut berbuat salah.

Alih-alih termotivasi, ia justru terbebani. Rasa takut ini bisa membuat anak tidak berani mencoba hal-hal baru, karena terlalu khawatir akan gagal.

Tekanan untuk sempurna membuat anak tidak punya toleransi terhadap kelemahannya sendiri. Akibatnya, ia tumbuh menjadi perfeksionis yang rapuh, mudah stres, dan tidak bisa menerima diri apa adanya.

Baca Juga:  Perilaku Orang yang Memilih Transaksi di Teller Bank Dibanding Lewat Online

Menjadikan Anak Sebagai Pelampiasan Masalah Orang Tua

Stres kehidupan sehari-hari sering membuat orang tua tanpa sadar melampiaskan emosinya pada anak. Anak dimarahi bukan karena berbuat salah, tetapi karena orang tua sedang menghadapi tekanan di pekerjaan atau masalah rumah tangga.

Pelampiasan ini membuat anak tumbuh dengan rasa bersalah kronis. Mereka terbiasa merasa dirinya Sumber masalah, padahal hanya korban keadaan. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa pola asuh bisa merusak jika tidak dikelola dengan bijak.

Tidak Memberi Teladan yang Konsisten

Anak belajar lebih banyak dari teladan daripada dari kata-kata. Namun, ada orang tua yang menuntut anak jujur tetapi mereka sendiri sering berbohong.

Atau orang tua yang menyuruh anak sabar, tetapi mudah meledak di depan anak. Ketidakkonsistenan ini menciptakan kebingungan dalam diri anak.

Anak belajar bahwa ucapan tidak sejalan dengan tindakan, dan hal itu merusak kepercayaan anak terhadap figur orang tua.

Ketika teladan tidak konsisten, anak kesulitan membangun standar moral yang jelas. Anak bisa tumbuh bingung membedakan benar dan salah, karena pesan yang diterima bertolak belakang.

Tidak semua orang tua benar. Ada yang justru merusak mental anak dengan pola asuh yang keliru. Menjadi orang tua bukan sekadar melahirkan, tetapi juga belajar, merefleksi, dan terus memperbaiki diri. (fb)

SHARE
Tag :Gangguan Cemasgangguan jiwaMental healthpsikologi

Berita Aktual

Austrian Airlines/ Foto: Ist
Austrian Airlines Menerima Ancaman Bom Usai Lepas Landas dari Tel Aviv Israel
Senin, 19 Oktober 2026
Ilustrasi remaja dan depresi/ Foto: gemini
Perilaku Tidak Sehat pada Remaja Memicu Risiko Kecemasan dan Depresi
Senin, 19 Oktober 2026
Ilustrasi konsultasi KPU dan DPR RI/ foto: gemini
Pasal Selundupan PKPU dan Ujian Pengawasan DPR
Senin, 19 Oktober 2026
Presiden Prabowo Subianto/ Foto: setneg
Pejabat Negara Ramai Mengucapkan Ultah Kepada Prabowo Subianto
Sabtu, 17 Oktober 2026
Samsung Galaxy/ Foto: gizmochina
Samsung Galaxy A38 Bocor dengan Berbagai Spesifikasi
Sabtu, 17 Oktober 2026

Mental Health

Ilustrasi remaja dan depresi/ Foto: gemini

Perilaku Tidak Sehat pada Remaja Memicu Risiko Kecemasan dan Depresi

Mencuci tangan/ Foto: freepik

Cuci Tangan Mampu Menurunkan Penyebaran Infeksi dan Menyelamatkan Nyawa

Ilustrasi mendengarkan musik/ Foto: freepik

Mendengarkan Musik Jazz dari Platform Digital Diyakini Mampu Meredam Stres

Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost

Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

KPK Menggeledah Ruang Kepala BNPB Terkait Dugaan Korupsi Dana Siap Pakai

Singapura Menyiapkan Tuntutan Hukum Terhadap Perusahaan Pembakar Hutan di Indonesia

Pesawat Triton Aviation Mendarat Darurat Akibat Pintu Pesawat Terbuka

Gunung Semeru Mengalami Erupsi Tinggi Letusan 1 Kilometer

Sekjen PBB Antonio Guterres Akan Berkunjung ke Indonesia

More News

Ilustrasi wanita sedih bersama pria / Foto : freepik

Alasan Seorang Wanita Meninggalkan Pria yang Perlu Diungkapkan

Senin, 30 Juni 2025
Ilustrasi melihat jam tangan / Foto : freepik

Orang yang Mengecek Waktu dan Lupa Biasanya Menunjukkan Ciri Ini.

Jumat, 13 Juni 2025
Ilustrasi diam saat mendengarkan orang berbicara / Foto : freepik

Situasi yang Diharuskan Diam untuk Menambah Kekuatan dalam Diri

Minggu, 29 Juni 2025
Ilustrasi sosok manipulasi/ Foto: freepik

Ini Alasan Orang Manipulasi Jarang Meminta Secara Langsung

Rabu, 25 Februari 2026
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id