Aktual.co.id – Bagi orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan yang kacau, baik secara fisik maupun emosional, sering mencari kedamaian dengan cara-cara yang tidak disadari oleh orang lain.
Karena tumbuh di tempat yang penuh keributan, maka menurut peniliti psikologi Megan Quinn memberikan beberapa gejala yang tidak disadari oleh banyak orang terhadap orang ini.
Mengamankan Jam Tidur
Tidur merupakan hal yang jarang didapatkan bagi orang-orang yang hidup di tengah kekacauan. Orang seperti ini akan melakukan apa saja untuk mendapatkan jam tidur.
Orang seperti ini akan mengabaikan pesan teks dan permintaan dari teman untuk keluar jika hal itu mengganggu jadwal tidurnya.
Orang-orang yang tidak pernah mendapatkan waktu tidur yang cukup mungkin akan mendedikasikan sisa hidupnya untuk menebusnya dengan memilih tidur dengan durasi panjang.
Mengambil Waktu Tenang untuk Diri Sendiri Sebelum Melakukan Interaksi Sosial
Setelah tumbuh dalam lingkungan yang kacau waktu senggang jarang dimiliki. Maka orang ini akan memilih untuk menenangkan diri sebelum bersosialisasi.
Penelitian menunjukkan bahwa waktu bersantai dapat membantu mengurangi gejala masalah kesehatan yang disebabkan oleh stres karena tidak memberi waktu istirahat kepada diri sendiri. Seperti insomnia, hipertensi, penyakit jantung, kecemasan, depresi, sakit kepala, dan nyeri kronis.
Menetapkan Rutinitas yang Stabil
Orang yang menetapkan batasan biasanya tumbuh dalam kekacauan. Akirnya di saat dewasa lebih memilih membangun rutinitas yang stabil.
Memiliki rutinitas yang ketat dapat mengurangi stres karena memberikan rasa kepastian. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Abnormal Child Psychology menemukan rutinitas membantu mengurangi sifat impulsif dan pembangkang pada anak.
Ketika seseorang tumbuh tanpa rutinitas, untuk mengamankan gejolak emosionalnya maka orang ini akan menolak ajakan untuk keluar rumah karena dianggap mengganggu jadwal rutinitasnya.
Memilih Tinggal di Lingkungan Minimalis
Orang-orang yang tumbuh di rumah yang selalu berantakan dan penuh tumpukan barang, maka kelak dewasa akan memilih tinggal di tempat yang minimalis.
Orang seperti ini akan memilih hidup dengan barang-barang yang minimal untuk menghindari kekacauan yang tidak teratur. Ruang kosong dan terbuka memungkinkan merasakan ketenangan yang tidak didapatkan saat tumbuh dewasa.
Menghindari Berbagi Berlebihan
Orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan yang kacau tidak pernah diajarkan tentang batasan pribadi. Ketika dewasa orang ini memilih untuk merahasiakan detail pribadi daripada menceritakan kepada orang lain.
Upaya ini untuk memberikan rasa kendali pada diri sendiri sehingga ruang privasinya menjadi lebih terjaga. Dia pun juga tidak akan mengorek rahasia pribadi orang lain karena merasa membongkar kebiasaan privasi bisa membuat terganggu.
Menolak Terlibat Dalam Teriakan
Orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan yang kacau sering menjadi sasaran teriakan dan makian. Sementara di dalam dirinya memiliki pandangan, suara yang tinggi dapat memicu sistem ancaman diri. “Hal ini dapat berdampak buruk pada diri sendiri,” ketik psikolog Bernard Golden, Ph.D.
Orang-orang yang tumbuh besar di lingkungan yang penuh teriakan tahu teriakan tersebut dapat merusak komunikasi yang efektif. Orang ini sangat menyadari bahwa peningkatan volume suara akan memperburuk keadaan.
Menutup Pintu di Ruang Bersama
Orang-orang yang menetapkan batasan dengan menutup pintu di ruang bersama biasanya tumbuh dalam kekacauan yang bising. Orang ini memiliki sedikit akses privasi dan selalu ada orang di ruang pribadinya, jadi tidak ada konsep batasan.
Memberikan waktu untuk memiliki ruang tanpa kehadiran orang lain sangat penting bagi harga diri dan otonomi. “Pentingnya memiliki waktu untuk merenungkan diri dan mengolah pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang tanpa harus tunduk pada pandangan dan pendapat orang lain adalah hal yang penting,” kata profesor psikologi Shoba Sreenivasan, PhD dan Linda E. Weinberger, PhD .
Menonaktifkan Notifikasi
Orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan yang bising dan kacau akan menonaktifkan notifikasi ponsel, email, dan media sosial hanya untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan.
Dengan beristirahat dari ponsel, orang ini akan melindungi ruang mental dari rangsangan konstan yang tidak pernah dihindari.
Meluangkan waktu untuk menjauh dari layar dan menonaktifkan notifikasi memungkinkan memiliki waktu tidak terganggu untuk fokus pada pekerjaan, kesehatan, atau memberikan waktu istirahat.
Memilih Menyendiri Daripada Bersosialisasi
Acara sosial bisa melelahkan bagi siapa saja yang tumbuh dalam lingkungan yang kacau. Acara sosial bisa berisik dan membutuhkan interaksi sehingga menguras energi bagi orang yang dulunya dalam kehidupan berisik.
Sebagian orang lebih suka menghabiskan akhir pekan dalam kesendirian, meringkuk di sofa sambil menonton acara favorit. Penelitian yang dipublikasikan di PLOS One menemukan bahwa menyendiri dalam jumlah yang cukup, sangat bermanfaat bagi yang mendambakan kehidupan yang tenang.
Membatasi Waktu dengan Orang Tertentu
Orang yang tumbuh dalam lingkungan yang kacau dapat membatasi jumlah waktu yang dihabiskan dengan orang lain. Jika seseorang berbicara dengan keras dan dramatis, orang ini memilih untuk menghindarinya.
Intensitas emosi dapat membebani bagi orang-orang yang tumbuh dalam suasana yang bising dan penuh emosi. Sebagai orang dewasa, mungkin lebih baik tidak membiarkan diri berada dalam lingkungan yang sama.
Tidak Menjawab Panggilan Telepon Tanpa Peringatan
Orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan yang kacau memiliki sedikit kendali atas lingkungannya.
Hal ini dapat membentuk menjadi orang yang suka diberi tahu sebelum melakukan kegiatan.
Misalnya, jika seorang teman menelepon untuk mengobrol, orang ini akan menolak panggilan tersebut. Karena jika menelepon tanpa memberi informasi lebih dahulu seperti chat online, akan membuatnya terganggu.
Banyak orang lebih suka menerima pesan teks daripada langsung meneleponnya. Sehingga tidak kewalahan melayani telepon yang dianggapnya mengejutkan. (ndi)
