Aktual.co.id – Sebuah studi yang diterbitkan dalam Behaviour Research and Therapy menunjukkan bahwa orang dengan kecemasan sosial tinggi lebih akurat dalam mengenali ekspresi marah yang halus dibandingkan dengan orang dengan kecemasan sosial rendah.
Para peneliti menemukan bahwa individu yang memiliki kecemasan sosial menunjukkan respons otak yang kuat ketika melihat wajah marah.
Respons ini muncul pada tahap pemrosesan yang mencerminkan peningkatan upaya kognitif untuk menafsirkan isyarat yang ambigu secara sosial.
Kecemasan sosial adalah kondisi yang ditandai dengan rasa takut akan dihakimi atau dievaluasi secara negatif oleh orang lain.
Orang dengan kecemasan sosial sering kali khawatir mempermalukan diri sendiri dan menghindari aktivitas berbicara di depan umum, bertemu orang baru, atau melakukan kontak mata.
Ketakutan ini melampaui rasa malu dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Salah satu ciri kecemasan sosial adalah meningkatnya kepekaan terhadap ancaman sosial, terutama dalam bentuk ketidaksetujuan, penolakan, atau kritik.
Ekspresi wajah, terutama yang menunjukkan kemarahan, memainkan peran penting dalam cara seseorang menjalani interaksi sosial.
Bagi individu dengan kecemasan sosial, wajah marah bisa sangat meresahkan, bahkan ketika ekspresinya ambigu atau halus.
Kecenderungan untuk menafsirkan ekspresi netral atau intensitas rendah sebagai ancaman dapat berkontribusi pada perilaku cemas dan penghindaran.
Sebagian besar penelitian meneliti bagaimana orang dengan kecemasan sosial memproses ekspresi wajah menggunakan gambar statis.
Meskipun gambar-gambar ini menawarkan kontrol dan konsistensi, gambar-gambar ini tidak mencerminkan cara emosi diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ekspresi nyata berkembang seiring waktu dan membawa isyarat gerakan yang dapat mengubah persepsi. Ekspresi dinamis dianggap memberikan informasi sosial yang lebih realistis.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Jing Yuan dari Universitas Hebei di Tiongkok ingin memahami bagaimana orang dengan tingkat kecemasan sosial tinggi dan rendah merespons ekspresi wajah marah yang dinamis.
Secara khusus tertarik pada bagaimana otak bereaksi terhadap ekspresi dengan intensitas yang berbeda-beda, mulai dari tanda-tanda kemarahan yang halus hingga yang lebih jelas.
Hasil penelitian ini mendukung gagasan bahwa orang dengan kecemasan sosial lebih sensitif terhadap isyarat ancaman sosial, meskipun isyarat tersebut samar.
Temuan ini menunjukkan bahwa individu dengan kecemasan menghabiskan lebih banyak menafsirkan sinyal emosional yang tidak jelas, terutama ketika mencurigai kemungkinan ketidaksetujuan atau penolakan. (ndi/psypost)
