Aktual.co.id – Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengatakan pada hari Minggu bahwa ia mengundurkan diri setelah kurang dari satu tahun berkuasa.
Pengumuman ini menimbulkan ketidakpastian baru bagi ekonomi terbesar keempat di dunia saat negara itu berjuang melawan kenaikan harga pangan dan menghadapi dampak tarif AS pada sektor otomotif yang vital.
“Sekarang negosiasi mengenai langkah-langkah tarif AS telah mencapai kesimpulan, saya yakin ini adalah saat yang tepat,” ujar Ishiba dalam konferensi pers seperti dikutip Yahoo News.
“Saya telah memutuskan untuk minggir dan memberi jalan bagi generasi berikutnya,” katanya. Laporan media sebelumnya mengatakan bahwa Ishiba ingin menghindari perpecahan dalam partai dan ia tidak mampu menahan seruan yang semakin meningkat agar ia mengundurkan diri.
Menteri pertanian dan mantan perdana menteri dilaporkan bertemu dengan Ishiba pada Sabtu malam untuk mendesaknya mengundurkan diri secara sukarela. Empat pejabat senior LDP, termasuk orang nomor dua partai Hiroshi Moriyama, menawarkan pengunduran diri minggu lalu.
Para penentang Ishiba telah meminta agar dia mundur dan bertanggung jawab atas hasil pemilu, menyusul pemungutan suara majelis tinggi pada bulan Juli.
Mereka yang mendukung langkah tersebut termasuk Taro Aso, mantan perdana menteri berpengaruh berusia 84 tahun, menurut media Jepang.
Masa jabatan Ishiba sebagai pemimpin partai seharusnya berakhir pada September 2027. SEmentara pesaingnya bernama, Sanae Takaichi, akan mencalonkan diri.
Para pemilih kurang tertarik pada Takaichi yang berpandangan agresif, runner-up dalam pemilihan kepemimpinan terakhir pada tahun 2024.
Survei Nikkei yang dilakukan pada akhir Agustus menempatkan Takaichi diposisi paling “tepat”, disusul menteri pertanian Shinjiro Koizumi. Namun hampir 52 persen responden mengatakan tidak butuh hitungan kepemimpinan karena tidak diperlukan.
Setelah pemilu, pengguna media sosial menyerukan agar Ishiba yang moderat tetap berkuasa dengan tagar “#Ishiba Jangan menyerah”. (ndi/yahoonews)
