Aktual.co.id – Studi yang diterbitkan jurnal The Lancet Diabetes and Endocrinology mengungkapan bahwa 40% orang berusia 15 tahun ke atas menderita diabetes tidak diagnosis atau penderita tidak mengetahui jika memiliki diabetes.
Menurut rilis CNN, studi ini mengkaji data dari 204 negara dan wilayah dari tahun 2000 hingga 2023 dalam tinjauan sistematis literatur dan survei yang dipublikasikan. Temuan di tingkat global ditujukan untuk orang berusia 15 tahun ke atas.
“Mayoritas penderita diabetes yang kami laporkan dalam penelitian ini menderita diabetes tipe 2,” kata Lauryn Stafford, penulis utama penelitian tersebut.
Menurut Yayasan Diabetes Internasional, sekitar 1 dari 9 orang dewasa di seluruh dunia menderita diabetes. Di Amerika Serikat, 11,6% orang Amerika menderita diabetes, menurut data Asosiasi Diabetes Amerika tahun 2021 .
“Kami menemukan bahwa 56% penderita diabetes menyadari bahwa mereka menderita kondisi tersebut,” kata Stafford, seorang peneliti di Institute for Health Metrics and Evaluation.
Menurutnya, secara global terdapat banyak variasi geografis, dan juga berdasarkan usia. Jadi, secara umum, negara-negara berpenghasilan tinggi lebih baik dalam mendiagnosis penderita dibandingkan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Dikatakan bahwa qrang di bawah usia 35 tahun jauh lebih kecil kemungkinannya untuk didiagnosis menderita diabetes dibandingkan orang di usia paruh baya atau lebih tua. Hanya “20% dewasa muda penderita diabetes yang menyadari kondisi mereka,” kata Stafford.
Skrining rutin tidak terlalu dipromosikan untuk dewasa muda dibandingkan untuk lansia. Banyak organisasi yang lebih besar, seperti Asosiasi Diabetes Amerika, menyarankan skrining rutin tahunan untuk dewasa berusia 35 tahun ke atas.
“Anda bisa bertahan hidup dengan kadar glukosa tinggi selama bertahun-tahun namun akhirnya didiagnosis diabetes ketika mengalami komplikasi,” ungkap Stafford.
Seperti Rita Kalyani, kepala staf ilmiah dan medis dari America Diabetes Association mengatakan mendiagnosis diabetes sejak dini penting karena penanganan yang tepat untuk mencegah atau menunda komplikasi jangka panjang seperti penyakit jantung, gagal ginjal, kerusakan saraf, dan gangguan kehilangan penglihatan
Gejala diabetes meliputi peningkatan rasa haus atau lapar, sering buang air kecil, penglihatan kabur, penurunan berat badan yang tak terduga, dan kelelahan.
“Namun, pada tahap awal, kebanyakan penderita diabetes tidak menunjukkan gejala, yang menyoroti pentingnya skrining dan diagnosis,” ujar Kalyani.
Secara global, pada tahun 2023, menurut Stafford, sekitar 40% penderita diabetes yang diobati mendapatkan hasil optimal dan menurunkan gula darah. “Oleh karena itu, penting bagi upaya ke depan untuk berfokus pada memastikan lebih banyak orang menerima dan mengikuti perawatan yang tepat pascadiagnosis,” pungkas Stafford. (ndi)
