Aktual.co.id – Aktivis konservatif Charlie Kirk ditembak mati pada hari Rabu waktu setempat saat berpidato di luar ruangan Universitas Utah Valley.
Pria berusia 31 tahun ini merupakan pendiri kelompok pemuda konservatif Turning Point USA dan sekutu dekat Presiden AS Donald Trump. Ia dinyatakan meninggal beberapa jam setelah dibawa ke Rumah Sakit Regional Timpanogos.
Sekitar 3.000 orang hadir, kata departemen keselamatan publik Utah (DPS) ketika Kirk terkena satu peluru sekitar pukul 12:20 siang.
Pihak berwenang yakin penembak melepaskan tembakan dari atap yang menghadap ke halaman. “Klarifikasi tambahan tidak dapat diberikan untuk melindungi integritas penyelidikan kami,” demikian bunyi siaran pers dari DPS.
Dua orang ditangkap tak lama setelah insiden tersebut, tetapi keduanya dibebaskan setelah pemeriksaan singkat setelah penyelidik tidak menemukan hubungan dengan penembakan Charlie Kirk.
Petugas penegak hukum mengatakan tidak ada seorang pun yang masih ditahan hingga Rabu malam waktu setempat.
Namun, seorang petugas penegak hukum, yang berbicara kepada Associated Press, mengonfirmasi bahwa penyidik sedang mengejar orang yang dicurigai.
“Awalnya kami menahan George Zinn sebagai tersangka. Ia kemudian dibebaskan dan didakwa dengan tuduhan menghalangi penyelidikan oleh kepolisian UVU. Tersangka kedua, Zachariah Qureshi, ditahan dan dibebaskan setelah diinterogasi oleh penegak hukum,” ujar DPS Utah.
Dalam penyidikan keduanya tidak ada kaitan dengan penembakan Charles Kirk. Penyelidikan dan perburuan terhadap pelaku penembakan pun masih berlangsung
Menurut laporan AP, Zinn pernah mengaku bersalah pada tahun 2013 atas tuduhan membuat ancaman teroris setelah mengirim email kepada penyelenggara Salt Lake City Marathon tentang penanaman bom di garis finis.
Gubernur Utah Spencer Cox mengutuk serangan itu, menyebutnya sebagai pembunuhan politik. Komisaris DPS negara bagian Beau Mason mengatakan bukti menunjukkan bahwa penembak hanya menargetkan Kirk.
Kirk meluncurkan Turning Point USA di pinggiran kota Chicago pada tahun 2012 di usia 18 tahun, bersama aktivis tea party, William Montgomery.
Kelompok ini dengan cepat menyebar ke berbagai kampus dengan advokasi tentang pajak rendah dan pemerintahan terbatas menjadi isu yang dibawanya.
Kelompok tersebut menguat ketika menjadi salah satu pendukung akar rumput Trump yang paling awal dan terkuat. Selama kampanye presiden 2016, Kirk menjabat sebagai asisten pribadi Donald Trump Jr. (ndi)
