Aktual.co.id – Sri Susuhunan Pakubuwono XIII atau PB XIII merupakan tokoh penting dalam sejarah Kasunanan Surakarta di era modern.
Dibalik gelar yang dimiliki, PB XIII harus menghadapi tantangan besar setelah wafatnya sang ayah, Sri Susuhunan Pakubuwana XII (PB XII).
Konflik antara dualisme kepemimpinan dua putra Pakubuwana XII, KGPH. Hangabehi dan KGPH. Tejowulan, menjadi peristiwa kontroversial yang membutuhkan beberapa delapan tahun untuk diselesaikan.
Pakubuwono XIII merupakan putra tertua dari garwa ampil Susuhunan Pakubuwana XII, KRAy. Pradapaningrum. Ia lahir dengan nama GRM. Suryadi pada 28 Juni 1948, PB XIII Namun karena sakit-sakitan, membuat neneknya, GKR. Pakubuwana, mengganti namanya menjadi GRM. Suryo Partono.
Sebagai pangeran tertua, dia diberi gelar Hangabehi dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH), menandakan statusnya sebagai calon penerus tahta.
PB XIII menikah tiga kali yaitu dengan Nuk Kusumaningdyah/KRAy. Endang Kusumaningdyah (bercerai sebelum naik takhta), Winari Sri Haryani/KRAy. Winari (bercerai sebelum naik takhta), dan Asih Winarni/KRAy. Adipati Pradapaningsih/GKR. Pakubuwana.
Dari pernikahan dengan KRAy. Endang Kusumaningdya, PB XIII mempunyai tiga putri yaitu GRAy. Rumbai Kusuma Dewayani/GKR. Timoer, GRAy. Devi Lelyana Dewi, GRAy. Dewi Ratih Widyasari.
Kemudian, dari pernikahan dengan KRAy. Winari, PB XIII mempunyai satu putra yaitu GRM. Suryo Suharto/GPH. Mangkubumi/KGPH. Mangkubumi/KGPH. Hangabehi (dari KRAy. Winari), dan dua putri yaitu BRAy. Sugih Oceania (dari KRAy. Winari), dan GRAy. Putri Purnaningrum (dari KRAy. Winari).
Sedangkan dengan Asih Winarni/KRAy. Adipati Pradapaningsih/GKR. Pakubuwana, PB XIII dikaruniai satu orang putra yaitu GRM. Suryo Aryo Mustiko/GPH. Purubaya/KGPH. Purubaya/KGPAA. Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram.
Setelah wafatnya Susuhunan Pakubuwana XII pada 11 Juni 2004, terjadi ketidaksepakatan di antara putra-putri Pakubuwana XII mengenai siapa yang akan menggantikan kedudukan raja.
Pada 31 Agustus 2004, salah satu putra Pakubuwana XII, KGPH. Tejowulan, dinobatkan sebagai raja oleh beberapa putra-putri Pakubuwana XII di Sasana Purnama, Badran, Kottabarat, Surakarta.
Padahal, sebelumnya dalam rapat Forum Komunikasi Putra-Putri (FKPP) Pakubuwana XII yang berlangsung 10 Juli 2004, menetapkan bahwa putra tertua Pakubuwana XII, KGPH. Hangabehi, yang berhak menjadi raja selanjutnya, dan memilih tanggal penobatan Hangabehi sebagai raja pada 10 September 2004.
Puncak konflik pun terjadi, pada awal September 2004, secara tiba-tiba KGPH. Tejowulan bersama para pendukungnya menyerbu dan mendobrak pintu Keraton Surakarta.
Keributan ini bahkan sempat menimbulkan beberapa orang luka-luka, termasuk para bangsawan dan abdi dalem yang saat itu berada di dalam keraton.
Atas kejadian tersebut, K.P. Edy Wirabumi (suami GKR. Wandansari) selaku ketua Lembaga Hukum Keraton Surakarta didampingi beberapa orang kuasa hukum bahkan melaporkan para pendukung Tejowulan ke Polresta Surakarta atas dasar perusakan cagar budaya di lingkungan keraton.
Akhirnya pada 10 September 2004, KGPH. Hangabehi tetap dinobatkan sebagai raja oleh para pendukungnya di Keraton Surakarta.
Kehadiran tiga sesepuh keraton, yaitu Brigjen. Prof. GPH. Harya Mataram, S.H., BKPH. Prabuwinata, dan GRAy. Panembahan Bratadiningrat, yang merestui KGPH. Hangabehi menjadi Pangeran Adipati Anom di Dalem Ageng Prabasuyasa, merupakan salah satu legitimasi bertahtanya Hangabehi sebagai raja baru Kasunanan Surakarta.
Ketiga sesepuh keraton tersebut juga berkenan mengawal Hangabehi ketika berjalan menuju ke Bangsal Manguntur Tangkil di Kompleks Sitihinggil Lor untuk menyaksikan dan merestui penobatan Hangabehi sebagai Susuhunan Pakubuwana XIII, berikut disaksikan oleh sejumlah putra-putri dalem, para cucu Susuhunan Pakubuwana XII (wayah dalem), para bangsawan dan pejabat keraton (sentana dalem), para abdi dalem, para duta besar negara asing, utusan-utusan dari kerajaan-kerajaan di Indonesia, serta masyarakat.
Sejak dinobatkan sebagai raja, PB XIII aktif dalam pelestarian budaya Jawa. Hangabehi mengemban berbagai jabatan penting, termasuk Pangageng Museum Kraton Surakarta.
Prestasinya diakui dengan anugerah Bintang Sri Kabadya I atas peran dalam mengatasi kebakaran Kraton Surakarta tahun 1985.
Selain itu, ia juga mengadakan berbagai upacara adat dan acara besar kraton seperti Labuhan, Garebeg, Sekaten, dan Kirab Malam 1 Sura, PB XIII juga meneruskan tradisi pemberian gelar kebangsawanan kepada tokoh berprestasi dan berjasa terhadap Kraton Surakarta dan budaya Jawa.
Sebagai pelindung kebudayaan Jawa, PB XIII juga terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian budaya, seperti pameran keris dan tosan aji, serta pergelaran wayang kulit.
Bahkan, pada tahun 2018, PB XIII mendapatkan penghargaan sebagai pemrakarsa pergelaran wayang kulit dengan kelir terpanjang di dunia. (berbagai sumber)
