Aktual.co.id – Ada garis tipis antara kesopanan sejati dan kekejaman yang terselubung. Orang yang menyembunyikan kekejaman akan berlaku sopan untuk tujuan tertentu.
Karena bersembunyi dari kesopanan sehingga sulit menemukan mana yang sopan sejati dengan sebagai topeng untuk menutupi kejahatannya.
Berikut kesopanan berbalut kejahatan yang telah dianalisa oleh psikolog Isabella Chase berdasarkan literatur dan penelitian tentang orang pemilik sifat racun.
Mengendalikan dengan Halus
Orang yang menyembunyikan kekejaman di balik kesopanan sering kali berusaha mengendalikan orang-orang di sekitarnya.
Orang ini menggunakan kesopanan sebagai alat memanipulasi situasi dan orang demi keuntungannya. “Caranya sangat halus namun dibalik kehalusan tersebut ada kalimat yang mengatur serta meminta orang untuk mengikuti keinginannya,”tulis Isabella Chase.
Kesopanan diberikan dengan harapan akan kepatuhan atau respons tertentu. Kejahatan mentalnya akan tampak ketika mulai menunjukkan manipulasinya.
Selalu Menjadi Korban
Orang ini sering memutarbalikkan narasi agar selalu menggambarkan diri sebagai pihak korban. Narasi ini untuk menutupi kesalahan yang dilakukan selama ini.
Taktik ini memiliki dua tujuan. Pertama, mengalihkan perhatian dari perilaku kejamnya. Kedua, menimbulkan simpati, sehingga sulit mengkritik atas tindakannya.
Jika melihat seseorang berpura-pura menjadi korban, berhati-hatilah, pol aini untuk menutupi kekejaman mentalnya.
Tidak Pernah Minta Maaf
Orang yang menyembunyikan kekejaman di balik kesopanan jarang sekali, bahkan mungkin tidak pernah, meminta maaf.
Kalau toh meminta maaf akan menyalahkan lawan bicaranya. Contoh, “Saya minta maaf atas perasaan Anda.” Artinya orang lain yang tetap dipersalahkan karena memiliki perasaan yang rapuh.
Dengan menolak mengakui kesalahan, orang ini mempertahankan citra kesempurnaan dan kesopanannya, sambil membuat perasaan orang lain bersalah
Mengeksploitasi Kerentanan
Orang-orang ini punya bakat mengidentifikasi rasa tidak aman dan memanfaatkan orang yang rapuh . Dirinya akan akan mengangkat topik yang sensitif bagi lawan bicara atau membuat ‘lelucon’ tentang titik lemah partner.
Dia melakukan ini dengan cara halus bahkan partnernya pun tidak terasa jika dirinya sedang diperlakukan direndahkan. Itu adalah tindakan terencana untuk menyakiti sekaligus menjaga agar tangannya tetap bersih.
Pujian yang Menghinakan
Lebih tepatnya adalah pujian yang terselubung untuk melakukan penghinaan. Misalnya kata – kata “Kamu sangat percaya diri untuk seseorang seukuranmu,” atau “Kamu lebih pintar dari yang terlihat.”
Ini pujian namun meninggalkan rasa perih. Seolah-olah memberi hadiah, tetapi hadiah itu penuh duri. Komentar-komentar semacam ini dirancang untuk menjatuhkan partner yang dibungkus dalam kesopanan dan kelemahlembutan.
Kurang Empati
Empati adalah kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain. Orang yang benar-benar sopan sering kali memiliki tingkat empati yang tinggi, yang memungkinkan mereka untuk terhubung dengan orang lain pada tingkat yang lebih dalam.
Sebaliknya, orang yang menyembunyikan kekejaman di balik kesopanan sering kali tidak memiliki sifat utama ini.
Meskipun berkata manis dan bertingkah laku manis, orang ini kesulitan memahami perasaan orang lain. Perhatikan bagaimana orang ini merespons saat berbagi perasaan atau pengalaman.
Pasif Agresif
Dibalik kelemahlembutannya dia menyimpan perangai yang buruk dengan merendahkan orang lain. Komentar-komentar ini dibungkus dengan basa-basi, tetapi sindiran terhadap orang.
Selain itu mereka memilih diam jika suasana atau kondisi tidak sesuai dengan kehendaknya. Pasifnya ini berujung pada konflik karena terlalu mengabaikan persoalan.
Sikap pasif-agresif merupakan ciri orang yang mencoba menyembunyikan kekejamannya di balik kesopanan. Jadi, berhati-hatilah jika melihat komentar-komentar licik yang dilontarkan oleh orang seperti ini.
Pujian yang Menjatuhkan
Orang-orang yang menutupi kekejaman dengan kesopanan sering kali memberikan pujian namun berakhir menjatuhkan.
Pujian yang dilontarkan terlalu dibesar-besarkan atau tidak sesuai dengan situasi. Sangat terasa ketika memuji namun dengan alasan yang untuk meremehkan
Orang ini menggunakan sanjungan bukan untuk membuat merasa senang, tetapi melayani tujuan diri sendiri.
