Aktual.co.id – Lansia yang mengonsumsi telur lebih dari sekali seminggu kemungkinan lebih kecil terkena demensia Alzheimer, demikian menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam The Journal of Nutrition.
Para peneliti menemukan bahwa partisipan yang mengonsumsi telur setiap minggu memiliki tingkat diagnosis klinis yang lebih rendah dan sedikit perubahan otak terkait Alzheimer setelah kematian.
Studi ini mengidentifikasi kolin, nutrisi penting yang terkandung dalam telur, sebagai salah satu kemungkinan kontributor untuk efek perlindungan ini.
Penyakit Alzheimer adalah demensia yang paling umum sebagai salah satu penyebab utama kematian pada lansia.
Penyakit ini ditandai dengan hilangnya ingatan, penurunan kognitif, dan perubahan perilaku, serta berkaitan dengan karakteristik biologis di otak seperti penumpukan plak amiloid dan kekusutan.
Ada banyak jutaan lansia yang di Amerika Serikat yang mengalami Alzheimer dan masih mencari cara untuk menanggulanginya.
Pola makan menjadi salah satu fokus penelitian, terutama nutrisi yang mendukung kesehatan otak. Telur merupakan sumber alami nutrisi tersebut, termasuk kolin, asam lemak omega-3, dan lutein.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa asupan telur dapat mendukung kinerja kognitif, tetapi hanya sedikit yang meneliti hubungannya dengan penyakit Alzheimer secara langsung.
Untuk menyelidiki hubungan ini, para peneliti menganalisis data dari 1.024 peserta dalam Rush Memory and Aging Project, sebuah studi jangka panjang terhadap lansia di wilayah Chicago.
Semua peserta bebas dari demensia saat mengisi kuesioner diet terperinci. Survei tersebut, yang diadaptasi dari kuesioner frekuensi makanan terkenal yang dikembangkan di Harvard, menanyakan tentang pola makan selama setahun terakhir, termasuk seberapa sering mengonsumsi telur.
Para peserta dipantau selama rata-rata hampir tujuh tahun, di mana menjalani penilaian tahunan untuk tanda-tanda demensia Alzheimer.
Selain evaluasi klinis, sebagian dari 578 peserta mendonorkan otak mereka untuk penelitian setelah kematian. Sampel-sampel ini memungkinkan para peneliti memeriksa karakteristik biologis yang terkait dengan penyakit Alzheimer dan menilai apakah konsumsi telur berkaitan dengan keberadaan karakteristik tersebut.
Tim peneliti mengelompokkan peserta berdasarkan frekuensi konsumsi telur: kurang dari sebulan sekali, satu hingga tiga kali sebulan, seminggu sekali, dan dua kali atau lebih seminggu.
Peneliti menggunakan model statistik untuk membandingkan berkembangnya demensia Alzheimer di antara kelompok-kelompok ini.
Model tersebut memperhitungkan berbagai faktor lain, termasuk usia, pendidikan, aktivitas fisik, genetika, dan pola makan secara keseluruhan.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi telur setidaknya sekali seminggu memiliki tingkat diagnosis Alzheimer klinis yang lebih rendah dibandingkan yang jarang mengonsumsinya.
Lebih spesifik lagi, baik kelompok yang mengonsumsi telur seminggu sekali maupun dua kali atau lebih per minggu memiliki risiko setengah lebih rendah terkena demensia Alzheimer.
Hal ini dibandingkan yang mengonsumsi telur kurang dari sebulan sekali. Hasil ini tetap signifikan secara statistik bahkan setelah disesuaikan dengan berbagai variabel perancu yang mungkin ada.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini tidak membuktikan bahwa telur dapat mencegah penyakit Alzheimer.
Studi ini bersifat observasional, artinya tidak dapat menetapkan hubungan sebab akibat. Ada juga kemungkinan hubungan sebab akibat terbalik, karena beberapa orang mungkin mengubah pola makan secara halus seiring dimulainya penurunan kognitif.
Kuesioner diet hanya diberikan satu kali, dan mengandalkan data yang dilaporkan sendiri, yang dapat menimbulkan bias ingatan atau ketidakakuratan.
Selain itu, kuesioner frekuensi makanan hanya menanyakan tentang konsumsi telur utuh, bukan tentang telur yang digunakan sebagai bahan dalam makanan lain.
Ke depan, para penulis menyarankan agar studi lanjutan mereplikasi temuan ini pada populasi lain, dan uji coba terkontrol acak dapat membantu memperjelas apakah konsumsi telur secara langsung memengaruhi risiko Alzheimer.
Jika kaitan ini terkonfirmasi, telur dapat menjadi bagian dari rekomendasi diet yang lebih luas yang bertujuan untuk mendorong penuaan otak yang sehat. (ndi/psypost)
