Aktual.co.id – Pengadilan Filipina telah memerintahkan penangkapan Wakil Presiden Sara Duterte karena mengancam Presiden Ferdinand Marcos Jr., Ibu Negara, dan mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat
Surat perintah penangkapan dikeluarkan pengadilan distrik atas tiga dakwaan penyerangan berat. Pengadilan menetapkan jaminan sebesar 120.000 peso (Rp33,472,-) untuk setiap dakwaan.
Pengacara Duterte mengatakan kliennya tidak berniat menghindari hukum dan akan terus menggunakan semua cara hukum dalam pembelaannya.
“Terlepas dari masalah yurisdiksi, dia tidak berniat menghindari hukum dan terus menggunakan semua opsi hukum yang dimilikinya,” kata pengacara Duterte.
Kasus ini bermula dari pernyataan yang dibuat Duterte pada November 2024. Saat itu, ia mengatakan telah berbicara dengan seorang pembunuh bayaran dan menginstruksikan membunuh Presiden Marcos, istrinya, dan sepupunya Martin Romualdez, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.
Namun Duterte membantah mengancam orang-orang tersebut. Pernyataan-pernyataan ini juga digunakan dalam proses pemakzulan terhadap Wakil Presiden Filipina.
Duterte saat ini sedang diadili di hadapan Senat Filipina, yang bertindak sebagai pengadilan dalam proses ini. Jika terbukti bersalah, ia menghadapi pemakzulan.
Kasus ini juga dapat membahayakan ambisi kepresidenannya dalam pemilihan umum 2028. Selain tuduhan intimidasi, Duterte dituduh menyalahgunakan dana publik selama menjabat sebagai Wakil Presiden dan Menteri Pendidikan.
Hubungan antara Presiden Duterte dan Presiden Marcos pernah membentuk aliansi politik yang penting di Filipina. Keduanya ikut serta pemilihan umum 2022, tetapi hubungan mereka memburuk dan meningkat menjadi perselisihan politik yang berkepanjangan. (Vietnam/ndi)
