Aktual.co.id – Para dokter peserta didik (Co assistant/koas) yang diduga ikut melakukan perundungan terhadap kematian seorang mahasiswa FISIP Universitas Udayana TAS di kembalikan oleh Rumah Sakit Umum Pusat Prof IGNG Ngoerah Denpasar, Bali.
Disampaikan oleh Plt Direktur Utama RS Ngoerah dr. I Wayan Sudana dalam keterangan resminya di Denpasar, menjelaskan peserta didik yang dikembalikan ke Universitas Udayana tersebut dinilai mencoreng nama baik RSUP Prof Ngoerah dengan mengeluarkan komentar yang tidak pantas di media sosial.

“Terkait adanya peserta didik (co ass) yang diduga terlibat dalam komentar tidak pantas di media sosial, sehingga menimbulkan citra buruk terhadap RS Ngoerah dan Universitas Udayana, RS Ngoerah mengambil tindakan tegas untuk mengembalikan peserta didik tersebut ke Universitas Udayana untuk dilakukan pendalaman dan investigasi,” kata Sudana seperti dikutip ANTARA.
Disampaikan oleh Sudana, jika terbukti melakukan perundungan, maka pihaknya akan mengenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Terkait dengan munculnya komentar mahasiswa yang tidak menunjukkan rasa empati terhadap korban yang meninggal dunia, kata dia, status mereka bukan karyawan RSUP Prof Ngoerah Denpasar melainkan hanya peserta didik yang sedang belajar di RSUP Prof Ngoerah Denpasar.
“Kami tegaskan mereka adalah peserta didik yang sedang belajar di RS Ngoerah, bukan sebagai karyawan RS Ngoerah sehingga tidak bisa disebut mewakili RS Ngoerah,” katanya.
Dia menegaskan RSUP Ngoerah Denpasar berkomitmen menciptakan lingkungan belajar dan kerja yang aman, beretika, dan saling menghargai.
RS Ngoerah juga mengajak semua pihak untuk menggunakan media sosial secara bijak dan menjaga nama baik institusi serta profesi kesehatan.
Sebelumnya, beredar informasi terkait adanya dugaan tiga orang mahasiswa peserta didik (koas) yang diduga ikut berkomentar tidak pantas terhadap kematian TAS.
Tangkapan layar percakapan di media sosial yang diduga mahasiswa koas tersebut pun beredar luas dan memicu kemarahan publik.
Mananggapi hal itu, Universitas Udayana sendiri telah melakukan rapat di tingkat Fakultas FISIP dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Program Studi dan mahasiswa yang terlibat dalam percakapan di media sosial yang diduga menyinggung kematian TAS.
Pihak kampus menyatakan dari hasil rapat dipastikan percakapan di media sosial dilakukan setelah almarhum TAS meninggal dunia, sehingga ucapan nir empati yang dilakukan oleh oknum mahasiswa tersebut bukan penyebab kematian TAS.
Universitas Udayana juga telah membentuk tim Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) untuk penanganan lebih lanjut, sehingga bisa ditemukan fakta yang terang benderang dan jelas. (ndi/ANTARA)
