Aktual.co.id — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan ekonomi siber, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) menegaskan komitmennya untuk membangun masyarakat yang cerdas, beretika, dan tangguh di dunia maya. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Literasi Digital sebagai Fondasi Keamanan dan Etika Sosial di Era Ekonomi Digital”, kampus bela negara ini mengajak publik untuk menumbuhkan kesadaran kritis terhadap etika dan keamanan di ruang digital.
Kegiatan yang digelar pada Kamis (4/11/2025) ini menghadirkan Singgih Manggalou, S.IP., M.IP., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPNVJT, sebagai narasumber utama, serta Bagus Nuari Harmawan sebagai dosen pendamping. Keduanya menekankan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gawai, melainkan kecakapan berpikir kritis, memahami konteks informasi, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara daring.
“Kebebasan digital tidak berarti bebas tanpa batas. Justru di sanalah pentingnya etika dan tanggung jawab sosial agar kebebasan tidak berubah menjadi ancaman bagi masyarakat,” ujar Singgih dalam paparannya.
Ia menyoroti meningkatnya kasus disinformasi di media sosial. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sepanjang 2024–2025 tercatat lebih dari 1.900 konten hoaks beredar, terutama seputar isu bantuan sosial, politik, dan kesehatan. “Setiap kali memasuki tahun politik, ujaran kebencian meningkat tajam. Banyak masyarakat belum mampu membedakan antara opini, fakta, dan manipulasi digital. Karena itu, literasi digital kini menjadi kebutuhan nasional,” tambahnya.
Selain disinformasi, Singgih juga mengingatkan bahaya kejahatan siber yang terus meningkat. Kerugian finansial akibat serangan siber di Indonesia pada awal 2025 mencapai Rp476 miliar, diikuti maraknya kasus kebocoran data pribadi. Ia menegaskan pentingnya penerapan prinsip “One Person One Data” dalam tata kelola digital. “Tanpa perlindungan data pribadi, kepercayaan publik terhadap teknologi akan runtuh. Padahal kepercayaan adalah modal utama dalam ekonomi digital,” ujarnya.
Dosen pendamping kegiatan, Bagus Nuari Harmawan, menambahkan bahwa literasi digital juga harus dilihat dari sisi sosial dan budaya. “Etika digital bukan hanya soal tidak menyebarkan hoaks, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun komunikasi yang sehat, empatik, dan produktif di dunia maya,” jelasnya.
Kegiatan ini juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin merambah kehidupan publik, mulai dari pendidikan hingga ekonomi. Menurut Singgih, AI membawa peluang efisiensi dan inovasi, tetapi juga potensi bias dan manipulasi jika tak dibarengi kesadaran etis. “AI bisa menjadi alat bantu yang luar biasa, tapi tanpa panduan moral, ia bisa menjadi ancaman,” katanya.
Dari sisi ekonomi, peserta juga diajak memahami peluang di era ekonomi digital. Data BPS dan Kominfo menunjukkan jumlah pengusaha muda digital pada 2025 mencapai 58,81 juta orang, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Singgih menilai hal ini sebagai potensi besar jika diimbangi kesadaran etika dan keamanan data.
“Anak muda adalah motor ekonomi digital kita. Tapi tanpa kesadaran etis, mereka bisa terseret dalam praktik curang atau eksploitasi data pribadi. Pendidikan digital harus menjadi bagian dari karakter bela negara,” tegasnya.
Baik Singgih maupun Bagus sepakat, penguatan literasi digital harus menjadi gerakan kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil. Perguruan tinggi, menurut mereka, berperan penting sebagai katalis perubahan melalui riset, edukasi, dan pengabdian masyarakat.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di UPN Veteran Jatim tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter masyarakat digital yang etis, tangguh, dan berdaya saing global.
“Kami ingin masyarakat bukan hanya pengguna teknologi, tapi pelaku yang berdaulat di dunia digital,” pungkas Singgih. (Penulis: Bagus Nuari Harmawan)
