• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Kesiapsiagaan Gizi di Tengah Banjir: Pemerintah Harus Hadir Sepenuh Hati
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pakar Menulis

Kesiapsiagaan Gizi di Tengah Banjir: Pemerintah Harus Hadir Sepenuh Hati

Redaktur III Rabu, 4 Februari 2026
Share
4 Min Read
Banjir membutuhkan banyak penanganan/ foto: BPBD Babel
Banjir membutuhkan banyak penanganan/ foto: BPBD Babel

Banjir membutuhkan banyak penanganan/ foto: BPBD BabelKesiapsiagaan gizi semestinya menjadi pengingat bahwa gizi adalah fondasi kualitas manusia dan daya tahan bangsa, terutama di negara rawan bencana.

Namun refleksi ini terasa timpang ketika digaungkan di tengah banjir yang terus berulang di berbagai daerah. Dari Aceh dan Sumatera Utara, Jawa Barat, hingga Jawa Timur, air kembali merendam rumah warga, memutus akses pangan, dan memaksa ribuan orang bertahan di pengungsian.

Dalam situasi ini, gizi tidak lagi soal kampanye pola makan seimbang, melainkan soal bertahan hidup. Di titik inilah kehadiran pemerintah diuji: hadir sepenuh hati atau sekadar menjalankan prosedur darurat.

Banjir bukan bencana mendadak. Ia dapat diprediksi, bahkan dipetakan. Namun ironisnya, dampak banjir terhadap status gizi masyarakat masih jarang diposisikan sebagai isu strategis.

Penanganan bencana lebih banyak berfokus pada evakuasi, distribusi logistik, dan pendataan kerusakan fisik. Gizi kerap ditempatkan sebagai urusan lanjutan, padahal justru pada fase darurat dan pascabencana risiko penurunan status gizi meningkat tajam, terutama pada kelompok rentan.

Baca Juga:  Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jatim Bekali Mahasiswa Bibit Unggul Surabaya Keterampilan Public Speaking

Pola bantuan pangan saat banjir di berbagai wilayah menunjukkan masalah klasik yang berulang. Bantuan dianggap cukup ketika pengungsi tidak kelaparan.

Akibatnya, makanan instan tinggi karbohidrat mendominasi, sementara protein, sayur, buah, dan mikronutrien esensial hadir tidak konsisten.

Pendekatan ini mencerminkan cara pandang sempit bahwa gizi identik dengan rasa kenyang. Pemerintah memang hadir, tetapi belum sepenuh hati memahami kebutuhan biologis dan kesehatan jangka panjang warganya.

Dampaknya nyata. Balita kehilangan asupan penting pada fase pertumbuhan kritis. Ibu hamil dan menyusui berisiko mengalami anemia serta gangguan kesehatan ibu dan anak.

Lansia serta penderita penyakit kronis harus bertahan dengan makanan yang tidak sesuai kebutuhan medis. Dalam konteks ini, banjir bukan hanya bencana lingkungan, melainkan juga pemicu krisis gizi tersembunyi yang jarang tercermin dalam laporan resmi pascabencana.

Kesiapsiagaan gizi seharusnya menjadi pilar dalam kebijakan kebencanaan nasional. Di wilayah rawan banjir seperti Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Jawa Timur, gizi tidak bisa diperlakukan sebagai isu sektoral yang hanya relevan pada kondisi normal.

Baca Juga:  Awas, Bau Mulut Menjadi Pertanda Ada Gangguan Paru-Paru

Gizi adalah bagian dari ketahanan nasional. Pemerintah yang serius membangun sumber daya manusia tidak boleh membiarkan kualitas gizi warganya runtuh setiap kali bencana datang.

Sayangnya, kebijakan masih terfragmentasi. Urusan gizi berjalan sendiri, sementara urusan kebencanaan berjalan sendiri.

Standar bantuan pangan darurat belum sepenuhnya berbasis kebutuhan gizi spesifik kelompok rentan. Pemerintah pusat menetapkan pedoman umum, sementara pemerintah daerah sering kali terbatas pada kemampuan logistik dan anggaran.

Akibatnya, bantuan bersifat seragam, kurang kontekstual, dan minim evaluasi dampak gizi. Kehadiran sepenuh hati menuntut lebih dari sekadar penyaluran bantuan.

Pemerintah perlu memastikan bahwa intervensi pangan darurat memenuhi standar gizi minimal, berkelanjutan, dan berbasis data kerentanan.

Edukasi kesiapsiagaan gizi harus menjadi bagian dari kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan banjir. Ketahanan pangan dan gizi rumah tangga semestinya masuk dalam indikator kesiapsiagaan bencana, bukan sekadar pelengkap program.

Baca Juga:  Kementerian ESDM Menjelaskan Tentang Penyebab Bencana di Aceh dan Sumatera

Lebih jauh, kehadiran sepenuh hati berarti keberanian berinvestasi pada pencegahan. Ketahanan gizi tidak bisa dilepaskan dari pengelolaan lingkungan, tata ruang, dan perlindungan sosial.

Selama banjir diperlakukan sebagai musibah musiman tanpa pembenahan struktural, krisis gizi akan terus berulang.

Pemerintah akan selalu hadir, tetapi sering terlambat. Kesiapsiagaan gizi di tengah banjir seharusnya menjadi alarm moral dan politik.

Pemerintah tidak cukup hadir dengan slogan dan seremoni. Pemerintah harus hadir sepenuh hati melalui kebijakan terintegrasi, perlindungan kelompok rentan, dan komitmen jangka panjang.

Jika tidak, setiap banjir akan terus menenggelamkan bukan hanya rumah dan harta benda, tetapi juga kualitas generasi yang sedang kita bangun.

Dr. dr. Sukma Sahadewa, M.Kes/ foto: dok pribadi
Dr. dr. Sukma Sahadewa, M.Kes/ foto: dok pribadi

Penulis:

Dr. dr. Sukma Sahadewa, M.Kes.

Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

SHARE
Tag :BanjirDarurat BencanaPemenuhan Gizi

Berita Aktual

Presiden Prabowo Subianto/ Foto: setneg
Pejabat Negara Ramai Mengucapkan Ultah Kepada Prabowo Subianto
Sabtu, 17 Oktober 2026
Samsung Galaxy/ Foto: gizmochina
Samsung Galaxy A38 Bocor dengan Berbagai Spesifikasi
Sabtu, 17 Oktober 2026
Aktifitas pemandaman kebakaran hutan dan lahan/ Foto: vietnam
Singapura Menyiapkan Tuntutan Hukum Terhadap Perusahaan Pembakar Hutan di Indonesia
Sabtu, 17 Oktober 2026
Penampakan erupsi Gn Semeru/ Foto: ANTARA
Gunung Semeru Mengalami Erupsi Tinggi Letusan 1 Kilometer
Sabtu, 17 Oktober 2026
Triton Aviation / Foto: vn
Pesawat Triton Aviation Mendarat Darurat Akibat Pintu Pesawat Terbuka
Sabtu, 17 Oktober 2026

Mental Health

Mencuci tangan/ Foto: freepik

Cuci Tangan Mampu Menurunkan Penyebaran Infeksi dan Menyelamatkan Nyawa

Ilustrasi mendengarkan musik/ Foto: freepik

Mendengarkan Musik Jazz dari Platform Digital Diyakini Mampu Meredam Stres

Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost

Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting

Ilustrasi kebosanan/ Foto: freepik

Penelitian Menyebutkan Kebosanan Bisa Memicu Sikap Agresif

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

KPK Menggeledah Ruang Kepala BNPB Terkait Dugaan Korupsi Dana Siap Pakai

Ahmad Hidayat Gabung PSI Sesuai Semangat Soekarnoisme dan Marhaenisme

Gempa Bumi 4,1 Mag Terjadi di Barat Daya Kota Bogor Jawa Barat

Letjen TNI Kristomei Sianturi Dilanti Menjadi Kepala BNPB

Jenderal TNI Maruli Simanjuntak Menjabat Wakil Panglima TNI dan Kepala BNPPDT

More News

Foto bersama usai pelatihan/dok.aktual.co.id

Pelatihan Literasi Digital di Gunung Anyar Tambak Tingkatkan Pemahaman Masyarakat tentang Media Digital

Senin, 18 Mei 2026
Dr. dr. Sukma Sahadewa, M.Kes/ foto: dok pribadi

dr. Sukma Sahadewa: Waspada Risiko Penyakit Pascabanjir di Aceh dan Sumatera

Jumat, 28 November 2025
Genangan banjir merendam pintu masuk Perumahan Pondok Gede Permai / Foto : X

Banjir Tenggelamkan Perum Pondok Gede Permai Bekasi

Selasa, 4 Maret 2025
ilustrasi indonesia emas dan tantangannya/dok.istimewa

Parade Indonesia Emas di Balik Gemerlap Kenaikan Harga Emas

Kamis, 13 November 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id