Banjir membutuhkan banyak penanganan/ foto: BPBD BabelKesiapsiagaan gizi semestinya menjadi pengingat bahwa gizi adalah fondasi kualitas manusia dan daya tahan bangsa, terutama di negara rawan bencana.
Namun refleksi ini terasa timpang ketika digaungkan di tengah banjir yang terus berulang di berbagai daerah. Dari Aceh dan Sumatera Utara, Jawa Barat, hingga Jawa Timur, air kembali merendam rumah warga, memutus akses pangan, dan memaksa ribuan orang bertahan di pengungsian.
Dalam situasi ini, gizi tidak lagi soal kampanye pola makan seimbang, melainkan soal bertahan hidup. Di titik inilah kehadiran pemerintah diuji: hadir sepenuh hati atau sekadar menjalankan prosedur darurat.
Banjir bukan bencana mendadak. Ia dapat diprediksi, bahkan dipetakan. Namun ironisnya, dampak banjir terhadap status gizi masyarakat masih jarang diposisikan sebagai isu strategis.
Penanganan bencana lebih banyak berfokus pada evakuasi, distribusi logistik, dan pendataan kerusakan fisik. Gizi kerap ditempatkan sebagai urusan lanjutan, padahal justru pada fase darurat dan pascabencana risiko penurunan status gizi meningkat tajam, terutama pada kelompok rentan.
Pola bantuan pangan saat banjir di berbagai wilayah menunjukkan masalah klasik yang berulang. Bantuan dianggap cukup ketika pengungsi tidak kelaparan.
Akibatnya, makanan instan tinggi karbohidrat mendominasi, sementara protein, sayur, buah, dan mikronutrien esensial hadir tidak konsisten.
Pendekatan ini mencerminkan cara pandang sempit bahwa gizi identik dengan rasa kenyang. Pemerintah memang hadir, tetapi belum sepenuh hati memahami kebutuhan biologis dan kesehatan jangka panjang warganya.
Dampaknya nyata. Balita kehilangan asupan penting pada fase pertumbuhan kritis. Ibu hamil dan menyusui berisiko mengalami anemia serta gangguan kesehatan ibu dan anak.
Lansia serta penderita penyakit kronis harus bertahan dengan makanan yang tidak sesuai kebutuhan medis. Dalam konteks ini, banjir bukan hanya bencana lingkungan, melainkan juga pemicu krisis gizi tersembunyi yang jarang tercermin dalam laporan resmi pascabencana.
Kesiapsiagaan gizi seharusnya menjadi pilar dalam kebijakan kebencanaan nasional. Di wilayah rawan banjir seperti Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Jawa Timur, gizi tidak bisa diperlakukan sebagai isu sektoral yang hanya relevan pada kondisi normal.
Gizi adalah bagian dari ketahanan nasional. Pemerintah yang serius membangun sumber daya manusia tidak boleh membiarkan kualitas gizi warganya runtuh setiap kali bencana datang.
Sayangnya, kebijakan masih terfragmentasi. Urusan gizi berjalan sendiri, sementara urusan kebencanaan berjalan sendiri.
Standar bantuan pangan darurat belum sepenuhnya berbasis kebutuhan gizi spesifik kelompok rentan. Pemerintah pusat menetapkan pedoman umum, sementara pemerintah daerah sering kali terbatas pada kemampuan logistik dan anggaran.
Akibatnya, bantuan bersifat seragam, kurang kontekstual, dan minim evaluasi dampak gizi. Kehadiran sepenuh hati menuntut lebih dari sekadar penyaluran bantuan.
Pemerintah perlu memastikan bahwa intervensi pangan darurat memenuhi standar gizi minimal, berkelanjutan, dan berbasis data kerentanan.
Edukasi kesiapsiagaan gizi harus menjadi bagian dari kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan banjir. Ketahanan pangan dan gizi rumah tangga semestinya masuk dalam indikator kesiapsiagaan bencana, bukan sekadar pelengkap program.
Lebih jauh, kehadiran sepenuh hati berarti keberanian berinvestasi pada pencegahan. Ketahanan gizi tidak bisa dilepaskan dari pengelolaan lingkungan, tata ruang, dan perlindungan sosial.
Selama banjir diperlakukan sebagai musibah musiman tanpa pembenahan struktural, krisis gizi akan terus berulang.
Pemerintah akan selalu hadir, tetapi sering terlambat. Kesiapsiagaan gizi di tengah banjir seharusnya menjadi alarm moral dan politik.
Pemerintah tidak cukup hadir dengan slogan dan seremoni. Pemerintah harus hadir sepenuh hati melalui kebijakan terintegrasi, perlindungan kelompok rentan, dan komitmen jangka panjang.
Jika tidak, setiap banjir akan terus menenggelamkan bukan hanya rumah dan harta benda, tetapi juga kualitas generasi yang sedang kita bangun.

Penulis:
Dr. dr. Sukma Sahadewa, M.Kes.
Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
