Aktl.co.id – Masyarakat di Jepang utara dan timur dalam kondisi waspada setelah gempa dahsyat. Otoritas memperingatkan kemungkinan adanya gempa besar dan mengimbau warga untuk bersiap.
Sebelumnya gempa dengan magnitudo 7,5 mengguncang lepas pantai timur Prefektur Aomori pada Senin (08/12/2025) pukul 23.15.
Peringatan tsunami berlaku selama beberapa jam. Gelombang tsunami mencapai 70 sentimeter di Pelabuhan Kuji di Prefektur Iwate dan 50 sentimeter di Kota Urakawa, Hokkaido.
Lebih dari 9.000 orang di prefektur Hokkaido, Aomori, dan Iwate telah mengungsi ke tempat penampungan setelah gempa.
Seorang pengungsi di Hachinohe, Prefektur Aomori, mengatakan, “Saya mengungsi ke sini ketika gempa dan tsunami 2011 melanda. Pergi ke tempat yang lebih tinggi, tempat yang lebih tinggi dari rumah saya, membuat saya merasa aman.”
Badan Meteorologi Jepang menyatakan kemungkinan gempa besar dapat menyusul. Para pejabat mengatakan warga dari Hokkaido hingga Prefektur Chiba di dekat Tokyo harus tetap waspada selama sepekan ke depan.
Seorang pejabat di badan itu mengatakan skenario terburuk akan serupa dengan gempa tahun 2011. Para pejabat mendesak masyarakat untuk bersiap.
Perdana Menteri Sanae Takaichi mendesak masyarakat untuk bersiap-siap, dengan mengatakan: “Mohon ambil langkah-langkah pencegahan bencana yang tepat berdasarkan prinsip bahwa Anda bertanggung jawab untuk melindungi hidup Anda sendiri.”
Gempa bumi pada Senin malam melukai sedikitnya 34 orang dan memicu peringatan tsunami yang meluas , dengan gelombang setinggi hingga 70 cm dilaporkan di beberapa komunitas pesisir.
Semua peringatan kemudian dicabut, dan pembangkit listrik tenaga nuklir di seluruh Jepang timur laut melakukan inspeksi mendesak sebagai tindakan pencegahan.
Gempa tersebut terjadi sekitar pukul 23.15 di Samudra Pasifik , kira-kira 50 mil dari lepas pantai Aomori. Pemberitahuan hari Selasa adalah pertama kalinya peringatan tingkat atas ini dikeluarkan sejak sistem peringatan diluncurkan pada tahun 2022. (ndi/nhk)
