Aktual.co.id – Pakistan membombardir ibu kota Afghanistan, Kabul, dan dua provinsi lainnya pada hari Jumat, beberapa jam setelah serangan lintas perbatasan, yang merupakan eskalasi terbaru dari kekerasan mematikan antara kedua negara tetangga yang bergejolak ini.
Setelah berbulan-bulan terjadi bentrokan saling balas, pasukan Afghanistan menyerang pasukan perbatasan Pakistan pada Kamis malam yang dikatakan pemerintah Taliban sebagai pembalasan atas serangan udara mematikan sebelumnya.
Beberapa jam kemudian, tiga ledakan terdengar di Kabul, dengan kedua pihak memberikan klaim yang berbeda tentang jumlah korban dan lokasi yang terkena dampak.
Menteri Informasi dan Penyiaran Federal Pakistan, Attaullah Tarar, mengklaim serangan hari Jumat di Kabul, Paktia, dan Kandahar menewaskan 133 pejabat Taliban Afghanistan dan melukai lebih dari 200 orang, dengan kemungkinan korban jiwa lebih lanjut.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan bahwa angkatan bersenjata negaranya dapat “menghancurkan” para aggressor. Sementara menteri pertahanan negara itu telah menyatakan “perang terbuka”.
Dalam sebuah unggahan, Menteri Pertahanan Khawaja Mohammad Asif mengatakan bahwa Pakistan berharap adanya perdamaian di Afghanistan setelah penarikan pasukan NATO dan mengharapkan Taliban untuk fokus pada kesejahteraan rakyat Afghanistan dan stabilitas regional.
Sebaliknya, menurutnya, Taliban telah mengumpulkan militan dari seluruh dunia dan mulai mengekspor terorisme.
“Kesabaran kami sudah habis. Sekarang ini adalah perang terbuka di antara kita,” katanya. Kementerian Pertahanan Afghanistan mengatakan bahwa 55 tentara Pakistan tewas dalam bentrokan perbatasan pada hari Kamis, dengan beberapa jenazah dibawa ke Afghanistan, termasuk beberapa yang “ditangkap hidup-hidup”.
Dikatakan delapan tentara Afghanistan dilaporkan tewas, dan 11 lainnya terluka. Kementerian melaporkan hancurnya 19 pos tentara Pakistan dan dua pangkalan.
Mosharraf Ali Zaidi, juru bicara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, sebelumnya membantah bahwa ada tentara Pakistan yang ditangkap.
Hubungan antara kedua negara tetangga tersebut memburuk dalam beberapa bulan terakhir, dengan sebagian besar perbatasan darat ditutup sejak pertempuran mematikan pada bulan Oktober yang menewaskan lebih dari 70 orang di kedua belah pihak.
Islamabad menuduh Afghanistan gagal mengambil tindakan terhadap kelompok militan yang melakukan serangan di Pakistan, tuduhan yang dibantah oleh pemerintah Taliban.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mendesak kedua belah pihak melindungi warga sipil sebagaimana diwajibkan oleh hukum internasional.
Pakistan dan Afghanistan berbagi perbatasan sepanjang 2.611 km yang dikenal sebagai Garis Durand, yang belum diakui secara resmi oleh Afghanistan.
Pihak berwenang Afghanistan sedang mengevakuasi kamp pengungsi di dekat perbatasan Torkham setelah beberapa pengungsi terluka dan 13 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, tewas.
Di sisi perbatasan Pakistan, polisi setempat mengatakan bahwa warga juga dievakuasi ke daerah yang lebih aman, sementara beberapa pengungsi Afghanistan yang telah menunggu untuk menyeberang kembali ke Afghanistan juga dipindahkan ke lokasi yang aman.
Ketegangan antara kedua negara tetangga ini telah meningkat selama berbulan-bulan, dengan bentrokan perbatasan mematikan pada bulan Oktober yang menewaskan puluhan tentara, warga sipil, dan tersangka militan.
Kekerasan tersebut terjadi setelah ledakan di Kabul yang oleh pejabat Afghanistan dituding dilakukan oleh Pakistan. Islamabad, pada saat itu, melakukan serangan jauh di dalam wilayah Afghanistan untuk menargetkan tempat persembunyian militan. (ndi/the guardian)
