Aktual.co.id— Ambisi menjadi negara maju tak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Perubahan besar, menurut para akademisi dan pemerintah daerah di Bojonegoro, justru harus dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten: kebersihan, kerapian, dan kedisiplinan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi bertajuk Kolaborasi Gagasan 3K (Kebersihan, Kerapian, dan Kedisiplinan) sebagai Pondasi Indonesia Menuju Negara Maju yang digelar di Pendopo Kecamatan Kota Bojonegoro. Program ini menjadi hasil kolaborasi antara Pemerintah Kecamatan Kota Bojonegoro dan akademisi UPN “Veteran” Jawa Timur, yakni Samas Adimisa Mishbah Habibie dan Condro Widodo.
Dalam pemaparannya, tim akademisi menekankan pentingnya penguatan atomic habits—kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan—sebagai fondasi perubahan sosial. Menurut mereka, persepsi masyarakat tentang negara maju kerap terjebak pada aspek ekonomi dan teknologi, padahal pembangunan karakter kolektif merupakan elemen yang tak kalah penting.
“Atomic habits bukan sekadar konsep pengembangan diri, tetapi strategi membangun budaya. Ketika kebiasaan positif dilakukan secara konsisten dan masif, ia akan membentuk identitas masyarakat,” ujar salah satu dosen UPN Veteran Jatim dalam sesi diskusi.
Contoh sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga ruang publik tetap rapi, hingga disiplin terhadap waktu dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap ketertiban sosial dan produktivitas daerah. Negara-negara maju, menurut akademisi, berhasil bukan hanya karena kekuatan ekonominya, tetapi karena konsistensi perilaku kecil warganya yang tumbuh menjadi budaya nasional.
Camat Kota Bojonegoro, Mochlisin Andi Irawan, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai penguatan karakter masyarakat harus berjalan seiring dengan pembangunan fisik daerah. “Kami ingin memulai perubahan dari hal yang paling mendasar: kebersihan, kerapian, dan disiplin. Jika tiga nilai ini melekat dalam keseharian warga, maka proses menuju kota modern akan lebih cepat dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, kolaborasi ini akan diwujudkan dalam sejumlah program konkret, di antaranya Gerakan Kampung Rapi dan Bersih berbasis partisipasi warga, pelatihan pembentukan kebiasaan positif bagi kader kelurahan, pengawasan lingkungan di ruang publik, hingga kemitraan edukatif dengan sekolah untuk menanamkan budaya disiplin sejak dini. Pemerintah kecamatan juga berencana memberikan apresiasi bagi wilayah yang menunjukkan capaian signifikan dalam penerapan indikator 3K.
Inisiatif ini mendapat respons positif dari peserta yang hadir. Pemerintah kecamatan bersama tim akademisi berkomitmen menggelar edukasi lanjutan secara rutin agar gerakan 3K tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat Bojonegoro—sebuah langkah kecil yang diharapkan membawa dampak besar bagi masa depan Indonesia.
(Penulis: Samas Adimisa Mishbah Habibie/Dosen Prodi Akuntansi UPN Veteran Jawa Timur)
