Aktual.co.id – Donald Trump secara sepihak mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dua minggu dengan Iran di tengah upaya ke meja perundingan.
“Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, dan atas permintaan Marsekal Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan , kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu,” tulisnya di platform Truth Social miliknya.
Oleh karena itu, dirinya menginstruksikan militer melanjutkan Blokade dan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal diajukan, dan diskusi diselesaikan, baik dengan cara apa pun.
Deklarasi itu muncul pada saat konflik penuh gejolak, di mana kunjungan yang diharapkan ke Islamabad oleh wakil presiden ditunda dan Trump meningkatkan retorika agresifnya, dengan mengatakan bahwa militer AS siap untuk beraksi.
Perubahan sikap Trump menuai respons dari Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen Iran yang muncul sebagai negosiator utama dalam pembicaraan baru-baru ini.
Penasihat pribadi Ghalibaf menolak perpanjangan gencatan senjata sebagai taktik untuk mengulur waktu demi serangan mendadak.
Para petinggi Korps Garda Revolusi Islam protes dengan unggahan media sosial Trump di mana menyatakan kemenangan sambil menggambarkan Iran menyerah pada poin-poin penting, termasuk program nuklirnya.
Kemarahan Iran menyebabkan Selat Hormuz ditutup kembali sehari setelah menteri luar negeri, Abbas Araghchi, menyatakan selat itu terbuka.
Namun, Sharif yang bertindak sebagai mediator utama berterima kasih kepada Trump. “Pakistan akan melanjutkan upaya sungguh-sungguhnya untuk penyelesaian konflik melalui negosiasi,” tulisnya .
Presiden AS mengatakan kepada jaringan berita bisnis AS CNBC bahwa dia tidak ingin memperpanjang gencatan senjata dengan Teheran.
Iran mengatakan AS harus mengakhiri blokade agar negosiasi dapat dilanjutkan. Namun Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent sama-sama memperingatkan blokade akan berlanjut.
“Dalam beberapa hari, penyimpanan di Pulau Kharg akan penuh dan sumur minyak Iran yang rapuh akan ditutup,” kata Bessent dalam sebuah pernyataan di X.
Dalam pertemuan dengan tim inti keamanan nasional Trump pada Selasa sore, diputuskan AS akan terus menekan Iran dengan mempertahankan blokade – mengurangi pengaruh Iran setelah menutup selat tersebut.
Presiden AS mengklaim ‘perubahan rezim’ dan mengatakan sekarang berkuasa jauh lebih rasional. Banyak ahli mengatakan konflik menyebabkan radikalisasi rezim Iran sehingga memungkinkan pejabat senior di Korps Garda Revolusi Islam meningkatkan cengkeraman kekuasaan mereka. (ndi/the guardian)
