Aktual.co.id – Dua remaja yang diketahui bernama Cain Clark, 17 tahun, dan Caleb Vazquez, 18 tahun, melakukan penembakan dan membunuh tiga orang dalam serangan di sebuah masjid di California.
“Pasangan itu tidak pilih-pilih siapa yang mereka benci,” kata Mark Remily, agen FBI utama di San Diego, pada hari Selasa.
Tulisan-tulisan yang diperoleh Associated Press, mencakup retorika kebencian terhadap orang Yahudi, Muslim dan Islam, serta komunitas LGBTQ+, orang kulit hitam, perempuan, dan kelompok politik kiri maupun kanan.
Keduanya mengungkapkan keyakinan orang kulit putih sedang dieliminasi, dan salah satunya menulis tentang perjuangan kesehatan mental dan penolakan yang dialaminya dari perempuan.
Para penyidik menemukan setidaknya 30 senjata api, amunisi, dan sebuah busur panah di dua rumah setelah serangan hari Senin di San Diego dan berusaha mengungkap para pelaku memiliki rencana yang lebih luas, kata Remily. Para pelaku, Cain Clark, 17 tahun, dan Caleb Vazquez, 18 tahun, bunuh diri, menurut polisi.
Keluarga dari kedua remaja tersebut tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Dalam penembakan tersebut menewaskan Amin Abdullah karena memperlambat penyerang di Pusat Islam San Diego dan mencegah terjadi penembakan lebih luas yang ada 140 anak sekolah di sekitar wilayah tersebut.
Imam Taha Hassane mengatakan Abdullah terlibat baku tembak dengan para tersangka dan menyerukan penguncian wilayah melalui radionya. “Dia mengorbankan nyawanya untuk mencegah pelaku masuk ke dalam ruang kelas,” katanya.
Penembakan itu adalah yang terbaru dalam serangkaian serangan terhadap tempat ibadah dan terjadi di tengah meningkatnya ancaman dan kejahatan kebencian yang menargetkan komunitas Muslim dan Yahudi sejak awal perang di Timur Tengah. (ndi/APNews)
