Aktual.co.id – Polisi mengatakan petugas keamanan melepaskan tembakan ketika para penembak tiba di Pusat Islam di San Diego, California.
“Saat para penembak memasuki lobi pelaku melukai penjaga yang terus menembaki, memaksa agar mundur ke luar, di mana para penyerang menembaknya hingga tewas,” kata Kepala Polisi Scott Wahl.
Menurut Wahl, kedua pria itu kembali masuk dan menggeledah ruangan-ruangan yang dikosongkan selama lockdown.
Menurut polisi, keduanya keluar ke tempat parkir, di mana menembak mati Mansour Kaziha dan Nadir Awad. Wahl mengatakan, kedua pria itu memancing para penyerang menjauh dari gedung.
“Kaziha, yang dikenal sebagai Abu Ezz, adalah segalanya bagi Pusat Islam tersebut. Dia adalah tukang serba bisa. Dia adalah juru masak. Dia adalah pengurus,” kata Hassane.
Abdullah telah bekerja di masjid itu selama lebih dari satu dekade. “Dia ingin membela orang yang tidak bersalah sehingga dia memutuskan untuk menjadi seorang petugas keamanan,” kata teman keluarga, Syekh Uthman Ibn Farooq.
Hassane menangis saat para pemimpin dari berbagai agama memeluknya di acara peringatan pada Selasa malam untuk menghormati para korban.
Dia mengatakan kepada ratusan orang yang berkumpul di taman di sebelah pusat tersebut untuk merayakan persatuan komunitas.
“Kita di sini untuk merayakan kesabaran dan ketahanan komunitas Muslim. Kita di sini untuk menghormati para pahlawan kita, para martir kita,” katanya
Pusat Islam ini terletak di lingkungan yang memiliki restoran dan pasar Timur Tengah. Di dalamnya terdapat Sekolah Al Rashid, yang menawarkan kursus bahasa Arab, studi Islam, dan Al-Quran untuk siswa berusia 5 tahun ke atas.
Josie-Ana Edenshaw, yang telah beribadah di masjid tersebut selama tiga tahun, mengatakan masjid itu sangat ramah terhadap mualaf.
“Mereka selalu membuka pintu, bahkan kepada orang-orang yang bukan Muslim, mengundang orang-orang untuk makan malam Ramadan. Setiap orang di masjid itu akan tersenyum kepada Anda,” kata Edenshaw.
Imam pusat tersebut mengatakan pada hari Selasa bahwa masjid dan komunitasnya tidak kebal terhadap ancaman selama bertahun-tahun.
“Kami tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi di Pusat Islam San Diego. Maksud saya, kami sudah terbiasa menerima surat-surat kebencian, pesan-pesan kebencian, orang-orang yang lewat sambil mengumpat, dan hal-hal semacam itu. Tetapi kejahatan mengerikan seperti ini, kami tidak pernah menyangka akan terjadi,” kata Hassane (ndi/APNews)
