Aktual.co.id – Hidup dalam penyiksaan narsistik dapat mengubah seseorang menjadi sosok pribadi yang dianggap aneh oleh psikologi.
Ada beberapa kebiasaan kecil yang seharusnya tidak dilakukan oleh seseorang namun karena mendapat pelecehan dari narsisistik menjadi kebiasaan dalam kehidupannya.
Psikolog Isabella Chase membeberakan beberapa kebiasaan yang diangap aneh orang yang dilecehkan oleh narsisistik dalam kehidupannya.
Kelelahan Emosional
Kebiasaan yang paling signifikan adalah kelelahan emosional. Menurut Isabella Chase menjelaskan jika korban pelecehan narsisistik membuat depresi karena kelelahan emosi yang sangat tinggi.
“Kelelahan ini berasal dari stres dan gejolak emosi yang terus-menerus akibat hubungan yang tidak sehat. Sikapnya bagai pelari maraton tanpa garis finis yang terlihat,” katanya.
Dirinya menyarankan agar korban narsisistik untuk meluangkan waktu untuk dirinya sendiri seperti bersantai dan beristirahat guna memulihkan keadaan mentalnya.
Berpikir Berlebihan
Berpikir berlebihan kebiasaan lain dialami setelah mengalami pelecehan narsistik. Setiap percakapan dengan narsisistik akan tersimpan dalam ingatan sehingga selalu terancam dan memunculkan ketakutan tanpa alasan.
“Keadaan ini akibat taktik manipulasi dan gaslighting yang digunakan oleh para narsisis. Bila terus-menerus terpapar manipulasi maka akan mengarah siklus berpikir berlebihan dalam segala hal,” ungkapnya.
Dampak dari kebiasaan inin dapat menyebabkan stres dan kecemasan. Isabella Chase menyarankan untuk melakukan teknik mindfulness dan latihan grounding dapat menjadi cara mengelola stress dan depresi seseorang.
Terlalu Menyenangkan Orang Lain
Bertahun-tahun lalu, setelah keluar dari hubungan yang beracun, korban narsisistik akan berusaha menyenangkan semua orang.
“Korban akan berusaha keras membuat orang lain bahagia dan mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri,” katanya. Upaya ini dilakukan utuk menghindari konflik dengan orang narsisistik yang secara kepribadian sangat melelahkan.
Merasa Tidak Layak untuk Dicintai
Salah satu hal tersulit yang dihilangkan korban narsistik adalah perasaan tidak layak untuk dicintai. Narsisis punya bakat membuat korbannya merasa rendah diri, seolah-olah tidak pantas mendapatkan kasih sayang atau rasa hormat.
Hal ini dapat meninggalkan luka yang dalam sehingga sulit untuk percaya bahwa individu tersebut pantas mendapatkan cinta. “Harga diri adalah segalanya maka cintai diri sendiri dan mulai melepaska berbagai tekanan dari narsisistik,” ungkapnya.
Pemulihan dari perasaan ini bisa jadi merupakan perjalanan yang panjang, tetapi perjalanan tersebt layak ditempuh untuk mengembalikan kondisi semula.
Kesulitan Mempercayai Orang Lain
Korban pelecehan narsistik sering kali mengalami kewaspadaan terhadap orang lain. Hal ini sering kali terwujud dalam bentuk kesulitan mempercayai orang lain, meskipun terhadap orang yang bisa dihandalkan.
“Pengkhianatan dari seorang narsisis dapat menghancurkan kepercayaan, sehingga sulit mempercayai bahwa ada orang yang benar-benar baik dan tulus,” katanya.
Membuka diri untuk kepercayaan butuh waktu namun harus tetap dilakukan untuk menuju penyembuhan. Menetapkan batasan dan menjalani segala sesuatunya secara perlahan dapat membantu melewati perjalanan yang penuh tantangan ini.
Kewaspadaan Berlebihan
Setelah mengalami pelecehan narsistik, bukan hal yang aneh mengembangkan rasa kewaspadaan yang tinggi. Hal ini ditandai dengan gelisah sebagai bentuk mengantisipasi adanya bahaya psikologis yang mengancamnya.
Ini adalah cara otak mencoba melindungi dari bahaya. Ahli saraf berpendapat bahwa otak terprogram untuk mengingat pengalaman menyakitkan sehingga melakukan penghindaran di masa mendatang.
“Inilah sebabnya menjadi sangat berhati-hati atau curiga, terutama dalam situasi yang menyerupai trauma masa lalu sering dilakukan korban narsisistik,” ungkap Isabella Chase.
Keraguan Terhadap Diri Sendiri
Bagaimana bisa terjadi ? Karena narsisistik punya cara untuk merendahkan korban dan membuatnya mempertanyakan persepsi dan keyakinannya.
“Ini adalah taktik manipulatif yang dikenal sebagai gaslighting, dan ini dapat mengguncang kepercayaan diri korban. Maka penyembuhannya perlu waktu dan pendampingan profesional jika tidak bisa menguasai diri sendiri,” katanya.
Butuh diagnose untuk menetapkan orang tersebut mengalami keraguan terhadap diri sendiri agar mendapatkan terapi yang sesuai.
Terlalu Banyak Meminta Maaf
Setelah selamat dari pelecehan narsistik, dampak jangka panjang adalah sering mengucapkan kalimat maaf. Bahkan permintaan maaf ini diucapkan meski tidak berkaitan dengan benar atau salah.
“Orang narsisistik sering menyalahkan korban atas kesalahan dan kekeliruannya sendiri. Hal ini dapat menyebabkan respons terkondisi di mana perlu meminta maaf bahkan ketika melakukan kesalahan apa pun,” katanya Isabella Chase.
Memahami akar penyebab kebiasaan ini adalah langkah pertama untuk menghentikannya. Maka Isabella mengingatkan bahwa tidak perlu meminta maaf secara berlebihan atas tindakan kepada orang lain selama tidak merugikan orang tersebut. (ndi)
