Aktual.co.id – Sebuah studi baru dalam Cognition dan Emotion menemukan bahwa orang yang takut laba-laba cenderung melebih-lebihkan ukuran laba-laba. Sementara para ahli laba-laba lebih akurat dalam penilaian terhadap ukuran binatang tersebut.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa individu dengan fobia tertentu cenderung membesar-besarkan ciri-ciri bentuk yang ditakutkan.
Dalam kasus fobia laba-laba, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa individu yang takut terhadap laba-laba menganggap binatang tersebut lebih besar daripada ukuran sebenarnya.
Temuan ini sejalan dengan teori evolusi yang menyatakan persepsi ancaman yang meningkat dapat membantu kelangsungan hidup.
Yahel Dror Ben-Baruch dan rekan-rekannya meneliti membandingkan bias persepsi dalam tiga kelompok: individu yang takut laba-laba, pakar laba-laba, dan peserta kontrol.
Tujuannya untuk memahami bagaimana emosi (takut) dan pengetahuan (keahlian) berinteraksi dalam membentuk persepsi tentang ukuran laba-laba.
Meskipun penelitian sebelumnya telah meneliti setiap kelompok secara terpisah, penelitian ini adalah yang pertama yang menempatkan berdampingan dalam satu desain.
Peserta diminta memperkirakan ukuran laba-laba, tawon, dan kupu-kupu, yang memungkinkan peneliti untuk menilai apakah distorsi khusus terjadi pada laba-laba dan apakah terjadi pada berbagai tingkat keakraban dan relevansi emosional.
Sampel akhir mencakup 169 orang dewasa, berusia 18–70 tahun, dibagi menjadi tiga kelompok: 58 orang yang sangat takut laba-laba, 59 orang ahli laba-laba, dan 52 orang peserta kontrol.
Peserta yang takut laba-laba dan peserta kontrol direkrut melalui media sosial, sementara para ahli —dari mahasiswa biologi, ekologi, zoologi, entomologi, atau ilmu hayat dihubungi melalui email.
Peserta yang takut laba-laba melebih-lebihkan ukuran laba-laba dibandingkan dengan kupu-kupu. Kelompok takit ini menilai laba-laba 1,17 kali lebih besar dari kupu-kupu dan 1,80 kali lebih besar daripada tawon.
Sebaliknya, kelompok ahli secara akurat menilai kupu-kupu lebih besar daripada laba-laba, yang selaras dengan pengukuran spesies yang sebenarnya. Kelompok kontrol menilai laba-laba dan kupu-kupu hampir sama ukurannya.
Penilaian tingkat ketidaknyamanan menunjukkan bahwa kelompok yang takut laba-laba menganggap laba-laba jauh lebih tidak menyenangkan daripada serangga lainKelompok kontrol juga menilai laba-laba lebih tidak menyenangkan daripada kupu-kupu atau tawon.
Para ahli melaporkan tingkat ketidaknyamanan yang rendah pada semua serangga, yang mencerminkan netralitas emosional.
Meskipun tawon juga dianggap mengancam, namun tidak dianggap terlalu besar oleh kelompok mana pun. Hal ini menunjukkan bahwa distorsi ukuran bukan sekadar fungsi dari ancaman atau ketidaknyamanan, tetapi hasil gabungan dari ancaman dan relevansi pribadi.
Keterbatasan penelitian ini adalah melakukan percobaan secara daring mungkin menimbulkan variabilitas dalam tampilan layar yang memengaruhi ukuran yang dipersepsikan.
Namun, hal ini diatasi dengan menggunakan jangkar mental (seukuran lalat) daripada mengandalkan referensi di layar. (ndi/psypost)
