Aktual.co.id – Banyak yang mengasumsikan bahwa anak yang diasuh orang tua bercerai selalu berakhir dengan depresi atau trauma.
“Harus disepakati dahulu bahwa keadaan kedua orang tua yang bercerai belum tentu menyebabkan seorang anak mengalami depresi,” kata dr. Hafid Algristian, Sp.KJ., M.H, psikiakter RSI Jemursari, Surabaya
Karena depresi sendiri, menurut dr.Hafid, suatu keadaan klinis yang memang bisa dihadapi oleh seorang anak di masa perjalanan hidupnya dengan atau tanpa stresor dari luar.

Sehingga seorang anak yang mengalami perceraian dari orang tuanya belum tentu dia berkembang menjadi keadaan depresi.
Perceraian orang tua tidak serta merta membuat anak menjadi depresi, bahwa ada kerentanan menjadi depresi memang ada.
Kalau mengalami keadaan perceraian orang tua biasanya anak akan kehilangan figur ayah ataupun ibu. Tapi selama mendapatkan grup support dari sekitarnya cukup baik, maka anak tersebut menjadi tangguh.
“Suportnya bisa didapatkan dari keluarga besar, guru, teman. Seperti contoh pasien saya yang berumur 7 tahun mengalami perceraian dari orang tua sejak umur 3 tahun. Dalam perkembagannya dia cukup baik dirawat oleh kakek dan neneknya sehingga menjadi pribadi yang baik. Ketika kakeknya wafat, maka anak ini mulai goyah,” katanya.
Konsep ini tidak serta merta menjadikan perceraian membuat anak depresi. Melainkan memunculkan faktor kerentanan saja ketika anak tersebut mendapat figur pengganti dari kedua orang tuanya.
Umumnya perceraian diawali dengan pertengkaran dalam rumah tangga. Sehingga ketika anak merasakan ada perang dingin antara kedua orang tuanya, itu suatu keadaan traumatis pada anak.
“Namun sebuah percerian belum tentu menyebabkan trauma pada anak. Jika tidak ada KDRT atau kekerasan lain, maka anak tersebut akan melewati dengan baik,” kata dr.Hafid.
Yang perlu diingat oleh masyarakat bahwa belum tentu seorang anak yang mengalami perceraian orang tua akan menjadi kenakalan remaja atau mencari validasi eksternal.
“Stigma ini yang harus diluruskan, bahwa perceraian ini bukan kemauan anak, justru perceraian menjadikan anak sebagai korban. Janganlah menimpakan stigma negatif pada anak,” ucap dr.Hafid.
Banyak anak di lingkungan rumah tangga bercerai tumbuh dengan baik berprestasi terlebih mendapatkan perhatian dari guru, kakek nenek dengan baik.
Di sini yang perlu ditekankan adalah anak harus ada figure pengganti. Sebagai masyarakat perlu membantu seorang anak yang menjadi korban perceraian ini untuk tumbuh sesuai dengan fitrahnya.
“Hingga pada akhirnya mendapatkan prestasi terbaik yang dicapai oleh anak ini,” ungkap dr.Hafid. Sehingga ada istilah mengasuh anak membutuhkan peran serta satu kampung.
Tidak boleh mengkaitkan sikap anak ketika orang tua bercerai menjadikan dirinya depresi. “Bahwa ada kerentanan memang iya, tapi tidak boleh disimpulkan bahwa perceraian menyebabkan depresi,” tambahnya. (ndi)
