• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Studi : Otak Manusia Memancarkan Sinyal Cahaya yang Redup
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Studi : Otak Manusia Memancarkan Sinyal Cahaya yang Redup

Redaktur III Sabtu, 26 Juli 2025
Share
3 Min Read
Penelitian otak memancarkan cahaya redup / Foto : psypost
Penelitian otak memancarkan cahaya redup / Foto : psypost

Aktual.co.id – Sebuah studi baru yang diterbitkan di iScience memberikan bukti bahwa otak manusia memancarkan sinyal cahaya yang sangat redup yang tidak hanya melewati tengkorak tetapi juga berubah sebagai respons terhadap kondisi mental.

Para peneliti menemukan bahwa emisi cahaya ultra-lemah ini dapat terekam dalam kegelapan total, dan tampak berubah bentuk respons terhadap tugas-tugas sederhana seperti menutup mata atau mendengarkan suara.

Temuan ini menunjukkan bahwa cahaya otak yang redup ini membawa informasi tentang aktivitas otak untuk membuka pintu bagi cara baru untuk mempelajari otak.

Semua jaringan hidup melepaskan sejumlah kecil cahaya selama metabolisme normal yang dikenal sebagai emisi foton ultralemah.

Hal ini terjadi ketika molekul yang tereksitasi kembali ke keadaan energi yang lebih rendah dan memancarkan foton dalam prosesnya.

Baca Juga:  Sikap Buruk Seseorang yang Sedang Melakukan Percakapan

Cahaya tersebut sangat redup, sekitar satu juta kali lebih lemah dari yang dilihat. Berbeda dengan bioluminesensi seperti kunang-kunang, emisi foton ultralemah dalam otak ini terjadi secara konstan di semua jaringan, tanpa enzim atau senyawa pendar.

Otak memancarkan banyak cahaya dibandingkan kebanyakan organ lain karena penggunaan energinya yang tinggi dan konsentrasi molekul fotoaktif yang padat.

Ini termasuk senyawa seperti flavin, serotonin, dan protein yang menyerap dan memancarkan cahaya. Laju emisi foton juga meningkat selama stres oksidatif dan penuaan, dan mencerminkan perubahan kesehatan atau komunikasi sel.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Hayley Casey, Nirosha Murugan, dan rekan-rekan di Algoma University, Tufts University, dan Wilfrid Laurier University, ingin mengetahui apakah emisi cahaya redup ini dapat digunakan memantau aktivitas otak.

Baca Juga:  Perilaku Tidak Sehat pada Remaja Memicu Risiko Kecemasan dan Depresi

Berbeda dengan metode pencitraan lain yang memerlukan stimulasi, seperti medan magnet kuat atau cahaya inframerah, pengukuran UPE sepenuhnya pasif. Artinya, metode ini tidak memperkenalkan hal baru ke dalam otak.

Para peneliti mengusulkan bahwa UPE menawarkan cara baru untuk memantau fungsi otak dengan aman dan tanpa gangguan, serupa dengan bagaimana EEG melacak gelombang otak elektrik tanpa menggunakan energi.

Mereka juga menguji apakah UPE mencerminkan kondisi mental seperti beristirahat dengan mata tertutup atau merespons suara. Dan apakah sinyal-sinyal ini sesuai perubahan ritme elektrik otak yang telah diketahui.

Para peneliti menemukan bahwa cahaya yang dipancarkan otak dapat dibedakan dari cahaya latar belakang berdasarkan variabilitas dan kompleksitasnya.

Baca Juga:  Menghadapi Introvert Agar Lebih Terbuka, Berikut Caranya

UPE otak menunjukkan entropi yang lebih besar dan sinyal yang lebih dinamis dibandingkan rekaman latar belakang.

Emisi ini juga menunjukkan profil frekuensi yang khas di bawah 1 Hz, yang berarti cahaya berfluktuasi dalam pola ritmis yang lambat  etiap satu hingga sepuluh detik.

Studi ini tidak menyertakan pengukuran dari bagian tubuh lain, yang dapat membantu memperjelas apakah emisi cahaya serupa terjadi pada jaringan non-otak.

Melibatkan lebih banyak partisipan dan mengeksplorasi variasi berdasarkan usia, jenis kelamin, atau status kesehatan juga dapat mengungkap pola yang bermakna.

Di masa mendatang, pembelajaran mesin dan teknik pencitraan canggih dapat memungkinkan peneliti menguraikan pola UPE dan menggunakannya mendeteksi gangguan otak atau memantau kesehatan otak. (ndi/psypost)

 

SHARE
Tag :gangguan kepribadianMental healthotak manusiapsikologi

Berita Aktual

Diperkirakan 2.000 toko dijarah dalam kerusuhan di Prancis / Foto: The Guardian
Jam Malam Diberlakukan untuk Meredam Kerusuhan di Paris
Selasa, 20 Oktober 2026
Siswa menerima makan bergizi gratis /Dok.istimewa
Badan Gizi Nasional Uji Coba MBG dengan Cara Prasmanan
Senin, 19 Oktober 2026
Moment saat salib menimpa pastor di Ekuador/ Foto: IG
Seorang Pastor Meninggal Usai Tertimpa Salib saat Khotbah di Gereja
Senin, 19 Oktober 2026
Salah satu adegan You Can See Everything/ Foto: technocrunch
Film Dokumenter “You Can See Everything” Mencuri Perhatian di Awal Penayangannya
Senin, 19 Oktober 2026
Kamarudin Simanjuntak/ Foto: ANTARA
Pengacara Kamaruddin Simanjutak Meninggal Dunia
Senin, 19 Oktober 2026

Mental Health

Ilustrasi remaja dan depresi/ Foto: gemini

Perilaku Tidak Sehat pada Remaja Memicu Risiko Kecemasan dan Depresi

Mencuci tangan/ Foto: freepik

Cuci Tangan Mampu Menurunkan Penyebaran Infeksi dan Menyelamatkan Nyawa

Ilustrasi mendengarkan musik/ Foto: freepik

Mendengarkan Musik Jazz dari Platform Digital Diyakini Mampu Meredam Stres

Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost

Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Pasal Selundupan PKPU dan Ujian Pengawasan DPR

Perilaku Tidak Sehat pada Remaja Memicu Risiko Kecemasan dan Depresi

Austrian Airlines Menerima Ancaman Bom Usai Lepas Landas dari Tel Aviv Israel

Film Dokumenter “You Can See Everything” Mencuri Perhatian di Awal Penayangannya

Pengacara Kamaruddin Simanjutak Meninggal Dunia

More News

Orang cerdas akan berfikir sebelum berbicara / Foto : Freepik

Kebiasaan Orang Cerdas Dibandingkan Orang Tidak Tahu Sama Sekali

Selasa, 25 Maret 2025
Bahagia bisa diciptakan dengan gaya hidup sehat/ Foto : Freepik

Kebiasaan Sehari Hari Orang yang Hidup Bahagia

Kamis, 13 Maret 2025
Penggunaan filter ketika posting foto dianggap pengingkaran realitas / Foto : Freepik

Kepribadian Orang yang Menggunakan Filter Setiap Mengunggah Foto

Minggu, 27 April 2025
Minimnya like dan follower bisa membuat depresi./ Foto : Freepik

Alasan Tidak Bisa Menghentikan Scrolling Medsos Menurut Ahli Saraf

Senin, 17 Maret 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id