Aktual.co.id – Pelukan bukan hanya tentang dua orang yang berpelukan namun pertukaran kehangatan, kenyamanan, dan penerimaan tanpa syarat. Namun, tidak semua orang tumbuh dalam keluarga yang terbiasa berpelukan. Peneliti kepribadian Isabella Chase memberikan gambaran sikap orang yang tidak terbiasa dipeluk sejak kecil.
Kesulitan Memulai atau Menerima Kasih Sayang Fisik
Banyak budaya menyatakan berpelukan adalah cara yang normal untuk mengatakan, “Aku peduli padamu.” Namun, bagi seorang yang tidak pernah memiliki dasar tersebut, hal itu dapat terasa invasif atau dipaksakan.
Sebuah studi yang diterbitkan selama pandemi COVID-19 menemukan bahwa orang-orang dengan tingkat kontak kasih sayang yang rendah di masa kanak-kanak menunjukkan kecemasan yang meningkat saat menerima sentuhan saat dewasa.
Kemandirian Kronis
Ketika pelukan dan sentuhan yang menenangkan tidak tersedia selama masa kecil, maka ketika remaja sering kali belajar menenangkan diri dengan cara lain.
Meskipun kemandirian dapat menjadi kekuatan, terkadang bisa menjadi tembok emosional. Tidak adanya pengalaman berpelukan masa kecil akan sulit meminta bantuan atau berbagi kelemahan kepada orang lain.
Kesulitan Menterjemahkan Emosi Kasih Sayang
Anak-anak yang tumbuh dengan minim kasih sayang fisik berakhir dengan kehidupan dewasa yang ditandai kesulitan menterjemahkan kasih sayang yang sulit dijelaskan.
Studi yang dipublikasikan Comprehensive Psychoneuroendocrinology menemukan bahwa sentuhan yang lembut dan konsisten dapat menurunkan kortisol (hormon stres) dan meningkatkan hubungan emosional.
Kesulitan Mengekspresikan Kebutuhan Emosional
Sebuah studi yang diterbitkan Journal of Family Issues mencatat bahwa kasih sayang fisik adalah mengajarkan anak-anak untuk belajar emosi yang valid dan layak dirawat.
Tanpa kebiasaan bersentuhan fisik sejak kecil akan muncul pertanyaan tentang kebutuhan kasih sayang. Di usia dewasa akan kesulitan menterjemahkan kesedihan, kesenangan, dan stres pada diri anak anak.
Dampaknya permintaan dukungan emosional atau hanya mengatakan “Saya merasa kesepian” akan terasa kaku. Maka dibutuhkan pendampingan dari terapis untuk menterjemahkan suasana emosi tersebut.
Rapuh Terhadap Penolakanan
Tanpa adanya kebiasaan kedekatan fisik, terkadang anak – anak kesulitan mengembangkan rasa harga diri yang rapuh.
Misalnya seorang teman yang membatalkan rencana untuk bertemu, maka masa kecil yang tidak terbiasa dengan pelukan kasih sayang akan memicu menyalahkan diri sendiri.
Hipersensitivitas ini dapat membuat hubungan menjadi tegang, dengan kedua belah pihak merasa bingung tentang mengapa kesalahpahaman kecil meletus menjadi konflik yang lebih besar.
Kesadaran adalah langkah menuju penyembuhan. Seiring berjalannya waktu, menjadi lebih mudah menyadari bahwa kekecewaan akibat penolakan adalah hal wajar.
Kebingungan Memberikan Kasih Sayang kepada Orang Lain
Jika tidak diajarkan cara menerima pelukan dengan nyaman, maka akan kesulitan memberikan kasih sayang pada orang lain. Orang tua yang jarang mendidik kasih sayang berupa pelukan kepada anak, ketika dewasa akan kebingungan ketika membalas kasih sayang tersebut.
Pelukan bukan tentang berpelukan namun memberikan kehangatan dan kepastian kepada orang lain meski sekedar menepuk punggung atau berpegangan tangan dengan baik.
Sentuhan yang penuh perhatian tidak ubahnya meminta persetujuan, tetap hadir di saat ini, dan mendengarkan isyarat yang dapat menjembatani kesenjangan itu. (ndi)
