Aktual.co.id – Pengalaman masa kanak-kanak dapat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap jati diri pada saat dewasa.
Ada perilaku umum yang muncul di masa dewasa pada orang-orang yang tumbuh dalam lingkungan penuh gejolak emosi.
Diharapkan artikelya yang ditulis oleh psikolog Farley Ledgerwood ini memberikan gambaran tentang sifat dalam perkembangan seorang anak hingga dewasa.
Kemandirian yang Menutupi Kerentanan
Beberapa orang yang tumbuh dalam kekacauan belajar bahwa tidak dapat bergantung pada orang lain, kemandirian namun tidak mampu menunjukkan Kerentanan pada dirinya.
Ada perasaan ketika mengandalkan orang lain rasanya seperti risiko yang terlalu besar entah nanti mengecewakan atau merasa berhutang sesuatu sebagai balasan.
Kemandirian ini dapat menjadi kekuatan, tetapi juga dapat menjadi topeng yang menyembunyikan kesepian atau ketakutan akan penolakan.
Jika perasaan ini sesuai maka mulailah melakukan langkah kecil, seperti menerima tawaran teman untuk membantu atau bersikap lebih terbuka dengan perjuangan emosional.
Kecenderungan Menyabotase Diri Sendiri dengan Kecemasan
Begitu terbiasa dengan hal-hal yang berjalan keliru, maka ketika semua berjalan baik, akan ditangkap suatu yang kebetulan.
Misalnya ada seorang pebisnis yang mengawali karir bisnisnya sebagai pemula. Di dalam otaknya terbangun kecemasan akan kerugian ketika berjalan bisnisnya.
Daripada menunggu kerugian itu datang, maka dia menutup usaha bisnisnya. Dilakukan hal tersebut supaya tidak sampai kecewa ketika bisnisnya terpuruk nantinya
Jika melihat tanda-tanda ini pertimbangkan untuk bertanya pada diri sendiri, “Apa yang ditakutkan?”
Pertanyaan ini bisa mengikatkan ketika terjebak di dalam kecemasan.
Kesulitan Mengatur Emosi
Keluarga yang dipenuhi bergejolak emosi secara psikologis dapat membuat seseorang mudah meledak dalam sekejap atau menutup diri sepenuhnya.
Orang seperti ini menganggap pengungkapan perasaan itu berbahaya atau tidak ada gunanya. Karena sering menyaksikan pertengkaran yang akhirnya tidak menyelesaikan apa pun
Tumbuh di lingkungan seperti itu mengajari untuk menghindari pembicaraan yang sulit sama sekali.
Bereaksi Berlebihan Terhadap Stres
Ketika tumbuh dikelilingi oleh pasang surut emosi, tubuh akan belajar untuk tetap waspada.
Pemicu terkecil sekalipun dapat membuat respons stres meningkat pesat.
Keadaan ini karena sistem saraf yang dibentuk karena didikan masa kecil.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang tegang sering kali mengembangkan kewaspadaan berlebihan .
Itulah sebabnya rintangan yang skalanya ringan bisa terasa seperti gunung. Kecemasan seperti ini bisa dikontrol dengan mengatur pola nafas beberapa saat sebelum melanjutkan aktifitas.
Menyenangkan Orang Lain karena Takut Konflik
Jika tumbuh dalam keluarga yang suka bertengkar wajar saat dewasa orang tersebut mendambakan perdamaian.
Keadaan ini membuat seseorang kehilangan kontak dengan kebutuhan untuk diri sendiri karena berusaha membuat orang lain bahagia.
Padahal menurut psikologi, orang yang tidak menetapkan batasan yang sehat dapat merasa kelelahan secara mental.
Maka kendalikan kebutuhan orang lain serta kondisikan untuk kebutuhan diri demi kesehatan mental. Karena kesehatan mental bisa berpengaruh pada kesehatan fisik.
Berjuang untuk Percaya dan Terbuka
Bila tumbuh dalam rumah tangga yang tidak stabil maka akan memunculkan sikap selalu waspada pada saat dewasa.
Kewaspadaan berlebihan ini dapat terbawa ke dalam hubungan ketika menjalin komunikasi pada saat dewasa.
Tiba-tiba, perubahan sekecil apa pun seperti nada suara atau penundaan dalam pesan teksnya dapat memicu kekhawatiran yang berlebih.
Keintiman menjadi sebuah teka-teki karena dianggap bertentangan dengan naluri yang selama ini dalam didikan orang tua, sehingga untuk mengamankan diri memilih menjaga jarak kepada semua orang. (ndi)
