Aktual.co.id – Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Complex Psychiatry menemukan bahwa orang dengan riwayat depresi yang mengonsumsi kafein dalam jumlah tinggi cenderung melaporkan tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi.
Para peneliti juga menemukan bahwa perbedaan genetik tertentu dikaitkan dengan seberapa banyak kafein yang diminum orang dan seberapa sensitif terhadap efeknya. Meskipun penggunaan kafein tidak terkait erat dengan kepuasan tidur, orang yang mengatakan kafein mengganggu tidur biasanya mengonsumsi lebih sedikit kafein.
Penelitian ini dirancang untuk meneliti hubungan antara konsumsi kafein, kepuasan tidur, dan tekanan psikologis pada orang dengan riwayat depresi.
Penelitian ini juga ingin menjawab apakah varian genetik dapat menjelaskan hubungan ini. Kafein adalah zat psikoaktif yang paling banyak digunakan di dunia, yang sering dipuji karena efeknya yang meningkatkan kewaspadaan.
Dosis yang lebih tinggi, atau pada individu yang sensitif, kafein dapat meningkatkan kecemasan dan mengganggu tidur. Meskipun penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kafein dalam jumlah sedang dapat mengurangi risiko timbulnya depresi pada individu yang sehat.
Untuk menyelidiki pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan data dari Australian Genetics of Depression Study. Lebih dari 11.000 orang dewasa yang telah didiagnosis depresi mengisi kuesioner terperinci tentang konsumsi kafein, tidur, dan kesehatan mental.
Dari jumlah tersebut, sekitar 9.000 memberikan sampel DNA, untuk diperiksa perbedaan genetik yang sebelumnya dikaitkan dengan metabolisme dan sensitivitas kafein.
Konsumsi kafein diukur menanyakan kepada peserta berapa banyak porsi kopi, teh, minuman ringan, dan minuman berenergi berkafein yang biasanya diminum per hari. Peserta dikelompokkan menjadi konsumen kafein rendah (0–2 minuman), sedang (3–5 minuman), atau tinggi (6 minuman atau lebih).
Distres psikologis dinilai menggunakan Skala Distres Psikologis Kessler, ukuran umum yang digunakan untuk gejala kecemasan dan depresi. Kepuasan tidur diukur dengan satu pertanyaan dari Indeks Keparahan Insomnia.
Para peneliti menggunakan model regresi linier untuk memeriksa bagaimana penggunaan kafein berhubungan dengan tekanan dan kepuasan tidur, dengan menyesuaikan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, dan penggunaan zat lain seperti alcohol, nikoti, dan pereda nyeri.
Analisis menemukan bahwa peserta yang minum enam atau lebih kafein per hari mendapat skor lebih tinggi pada skala tekanan psikologis dibandingkan yang mengonsumsi lebih sedikit minuman tersebut.
“Pekerjaan kami difokuskan pada mereka yang didiagnosis dengan depresi,” kata McIntosh kepada PsyPost. Konsumsi kafein yang lebih tinggi dikaitkan dengan tingkat stres saat ini lebih tinggi pada orang-orang terlepas dari kualitas tidur.
Ukuran efeknya tidak besar tetapi signifikan secara statistik. Namun, kami tidak dapat menetapkan hubungan kausal karena peserta dapat meningkatkan konsumsi kafein sebagai respons terhadap gejala depresi seperti kelelahan atau kurangnya motivasi.
Varian genetik umum memainkan peran yang cukup besar dalam cara tubuh menangani kafein dan dikaitkan dengan konsumsi minuman berkafein dalam jumlah yang banyak atau lebih sedikit.
Peringatan lainnya adalah sampel penelitian terdiri dari orang-orang dengan riwayat depresi. Ini berarti hasilnya tidak berlaku untuk populasi umum, terutama yang tidak memiliki kondisi kesehatan mental.
Penelitian di masa mendatang dengan menggunakan ukuran asupan kafein yang lebih tepat dan desain longitudinal dapat membantu menjelaskan bagaimana hubungan ini berkembang seiring waktu. (ndi)
