Aktual.co.id – Masyarakat Kediri meyakini gethuk pisang sudah ada sejak zaman Kerajaan Kediri. Pada masa penjajahan dulu, warga Kediri hidup dari hasil bumi seperti singkong, pisang, dan kelapa.
Untuk mengolah bahan-bahan tersebut agar tidak cepat rusak maka diciptakan berbagai resep tradisional, salah satunya gethuk pisang.
Menurut artikel dari For Your Plate, sebenarnya masyarakat membuat gethuk pisang dengan cara yang sama seperti membuat gethuk dari singkong atau ubi.
Namun, gethuk pisang ini menggunakan bahan dasar pisang raja, Nangka, dan mencampurnya dengan gula jawa serta singkong.
Dulu, menemukan pisang raja ini di pinggir Sungai Brantas karena tanah di sepanjang aliran sungai itu sangat subur. Ketika membuat gethuk pisang, keluarga atau tetangga sering bekerja sama dalam suasana gotong royong.
Momen ini sebagai cara mempererat tali persaudaraan. Para pembuat gethuk pisang juga masih mengandalkan tangan-tangan terampil, yang menambah nilai otentik pada makanan ini.
Lebih dari itu, menjadikan gethuk pisang sebagai simbol keramah-tamahan dalam menyambut tamu. Seiring waktu, masyarakat tidak hanya menyajikan gethuk pisang sebagai makanan rumahan.
Gethuk dibagikan dengan kelezatannya hingga makanan ini menjadi ikon kuliner di Kota Tahu. Para pedagang mulai menjualnya di pasar-pasar tradisional, terminal, hingga pusat oleh-oleh.
Awalnya, gethuk pisang disajika dalam acara-acara adat, hajatan, atau perayaan panen. Dari waktu ke waktu kuliner ini makin banyak yang menyukai sehingga perlahan menjadi oleh – oleh khas Kediri.
Kuliner ini dibentuk memanjang 10 cm, dibungkus dengan daun pisang segar yang membuat aromanya makin wangi.
Masyarakat tidak hanya membuat gethuk pisang sebagai makanan ringan. Di balik teksturnya yang lembut dan rasanya yang khas, menyimpan cerita panjang tentang sejarah, budaya, dan ketekunan menjaga warisan kuliner Kediri. (ndi)
