Aktual.co.id – Di tengah protes Gen Z yang sedang berlangsung di Nepal, sebuah video lama seorang siswa sekolah yang menyampaikan pidato berapi-api menjadi viral di internet. Klip tersebut, yang menampilkan seorang anak laki-laki yang diidentifikasi sebagai Ora, direkam saat acara tahunan sekolahnya.
Seperti yang dirilis oleh Hindustan Times, Ora memulai pidatonya dengan nada penuh harapan dan keyakinan. “Hari ini, saya berdiri di sini dengan impian membangun Nepal yang baru. Api harapan dan semangat membara dalam diri saya, tetapi hati saya terasa berat karena impian ini tampaknya mulai sirna,” ujarnya.
Seiring berlanjutnya pidato, kata-katanya semakin intens. Ia menggambarkan visinya sebagai upaya untuk mematikan perubahan monumental dalam sejarah.

“Nepal, ibu kami, negara yang melahirkan dan membesarkan kami, apa yang dimintanya sebagai balasan? Hanya kejujuran, kerja keras, dan kontribusi kami. Tapi apa yang kami lakukan?,” ungkapnya penuh semangat.
Ora kemudian menyoroti isu-isu yang terus menghantui negara ini seperti instabilitas politik, pengangguran, dan korupsi. “Kita terbelenggu oleh rantai pengangguran, terjebak dalam permainan partai politik yang egois. Korupsi telah menenun jaring yang memadamkan cahaya masa depan kita,” ujarnya dalam klip tersebut.
Lebih lanjut, Ora mengajak generasi muda untuk maju sebagai agen perubahan. “Kita adalah pembawa obor masa depan. Kalau bukan kita yang bersuara, siapa lagi? Kalau bukan kita yang membangun bangsa ini, siapa lagi? Kita adalah api yang akan membakar habis kegelapan. Kita adalah badai yang akan menyapu bersih ketidakadilan,” tegasnya.
Pidato tersebut menjadi viral di saat Nepal sedang dilanda protes besar-besaran, yang sebagian besar dimotori oleh kaum muda.
Protes tersebut meletus setelah pemerintah memblokir 26 platform media sosial, termasuk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, karena tidak terdaftar secara lokal.
Tindakan keras ini dipandang oleh banyak orang sebagai serangan terhadap kebebasan berekspresi dan telah memicu kemarahan yang meluas.
Bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan telah berujung maut, dengan beberapa demonstran muda kehilangan nyawa mereka awal pekan ini. Hampir 200 orang juga diyakini terluka dalam bentrokan dengan polisi.
Kemarahan publik akhirnya memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri, menandai perubahan dramatis dalam lanskap politik negara tersebut. (ndi/hindustan times)
