Aktual.co.id – Pelaku penembakan di pantai Bondi diduga sepasang ayah dan anak yang menggunakan senjata api yang diperoleh secara legal untuk melakukan pembantaian tersebut, demikian disampaikan oleh aparat setempat.
Naveed Akram, 24 tahun, ditangkap di tempat kejadian dan dibawa ke rumah sakit Sydney dengan luka kritis. Ayahnya yang berusia 50 tahun, kali pertama dilaporkan oleh Sydney Morning Herald sebagai Sajid Akram, ditembak mati oleh polisi.
Pasangan itu diduga menewaskan 15 orang, dan melukai puluhan lainnya dalam penembakan yang terjadi pada hari Minggu, selama acara perayaan malam pertama Hanukkah.
Sang putra sudah terindentifikasi oleh kepolisian New South Wales dan lembaga lainnya, sementara ayahnya memiliki izin kepemilikan senjata api dengan enam senjata yang terdaftar atas namanya.
Setidaknya tiga senjata api laras panjang, termasuk senapan dan senapan laras pendek, disita di lokasi kejadian di Bond. Senjata lain juga ditemukan selama penggerebekan polisi di sebuah rumah di Campsie, di barat daya Sydney.
Komisaris polisi NSW, Mal Lanyon, mengatakan bahwa pria tersebut tinggal di rumah lain di Bonnyrigg, di bagian barat kota, yang juga digerebek pada Minggu malam.
“Indikasi bahwa salah satu dari pria yang terlibat dalam serangan kemarin sedang merencanakan serangan tersebut dan benar bahwa pria yang lebih tua memiliki izin senjata api selama satu decade,” kata Mal Lanyon
Perdana Menteri NSW, Chris Minns, mengatakan akan ada perubahan undang-undang senjata api, dan polisi menyelidiki apakah ada kegagalan sistem terkait penggunaan senjata berlisensi digunakan dalam serangan teror.
Meskipun polisi tidak mengkonfirmasi nama kedua orang tersebut kepada Guardian Australia, mereka telah merilis rincian usia, daerah tempat tinggal, dan informasi tentang izin kepemilikan senjata api pria yang lebih tua.
Menurut polisi, Sajid memiliki izin kepemilikan senjata api kategori AB. Izin ini mengharuskan seseorang menunjukkan kepada polisi bahwa mereka memiliki izin tersebut untuk kebutuhan tertentu.
Sementara itu, Lanyon menolak berkomentar mengenai laporan ABC yang menyebutkan bahwa Naveed diidentifikasi dalam penyelidikan kontra-terorisme tahun 2019 yang melibatkan sel ISIS, maupun mengenai laporan yang mengklaim manifesto atau bendera hitam ISIS ditemukan di dalam mobil yang dikendarai ke lokasi kejadian oleh pelaku penyerangan.
Minns mengatakan masih terlalu dini untuk mempertimbangkan apakah ada masalah terkait informasi intelijen yang dimiliki oleh otoritas federal yang tidak diteruskan ke kepolisian NSW.
“Ada rangkaian peristiwa penting di sini. Pertama, keselamatan masyarakat, kedua, penyelidikan – ada pelaku yang ditahan dan penuntutannya sangat penting dalam hal keadilan bagi para korban. Dan tentu saja, penyelidikan komprehensif tentang apa yang salah,” kata Minns. (ndi/the guardian)
