Aktual.co.id – Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyatakan dukungan terhadap keputusan Amerika Serikat untuk menangguhkan serangan terhadap Iran.
Tetapi dia mengatakan bahwa gencatan senjata selama dua minggu tersebut tidak mencakup operasi militer Israel yang sedang berlangsung di Lebanon.
Dalam sebuah pernyataan di X pada hari Rabu, Netanyahu mengatakan Israel mendukung upaya Presiden AS Donald Trump untuk memastikan Iran tidak lagi menimbulkan ancaman nuklir, rudal, dan teror bagi Amerika, Israel, negara-negara tetangga Arab Iran, dan dunia.
Pernyataan Netanyahu muncul setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa AS, Iran, dan sekutu mereka telah menyetujui gencatan senjata segera di mana pun, termasuk Lebanon dan tempat lain.
Sementara itu, Kantor Berita Nasional Lebanon mengatakan bahwa militer Israel terus melakukan serangan di bagian selatan negara itu.
Pasukan Israel membombardir kota Srifa di wilayah Tyre, dan juga mengeluarkan peringatan evakuasi untuk sebuah bangunan di dekat kota tersebut.
Pada hari Rabu, militer Lebanon memperingatkan warga agar tidak kembali ke wilayah selatan negara itu. “Mengingat perkembangan regional dan laporan yang beredar tentang gencatan senjata, militer mendesak warga untuk menunggu sebelum kembali ke desa dan kota di selatan untuk menghindari daerah-daerah di mana pasukan Israel telah maju. Karena dikhawatirkan terpapar serangan Israel yang sedang berlangsung,” kata militer dalam sebuah pernyataan.
Lebanon terseret ke dalam perang AS dan Israel melawan Iran pada tanggal 2 Maret 2026 setelah Hizbullah yang bersekutu dengan Teheran melancarkan serangan terhadap Israel.
Menurut pihak berwenang Lebanon, serangan Israel terhadap Lebanon telah menewaskan lebih dari 1.500 orang sejak 2 Maret 2026 dan menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi.
Militer Israel telah melancarkan invasi ke Lebanon selatan dan bertujuan merebut lebih banyak wilayah yang disebut sebagai zona penyangga.
Belum ada komentar langsung dari Hizbullah atau pemerintah Lebanon terkait pengumuman Netanyahu. (ndi/Aljazeera)
