• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Kasus Bunuh Diri, Antara Stigma, dan Kepedulian
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pakar Menulis

Kasus Bunuh Diri, Antara Stigma, dan Kepedulian

Redaktur III Rabu, 6 Mei 2026
Share
6 Min Read
Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik
Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik

Beberapa waktu terakhir, informasi  tentang kematian akibat bunuh diri banyak lewat di timeline dan FYP media sosial. Mulai dari kasus bunuh diri di Cangar, Mojokerto, hingga peristiwa di Surabaya, yang seakan mengiris hati tiap orang yang mengetahui beritanya.

Rentetan peristiwa ini terjadi begitu berurutan, yang membuatnya semakin pilu dan memprihatinkan. Hal ini menunjukkan bahwa kematian akibat bunuh diri haruslah dipandang dan ditanggulangi dengan serius.

Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2019 menunjukkan bahwa lebih dari 720.000 orang meninggal karena bunuh diri secara global setiap tahunnya,

Sedangkan di Indonesia, data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan karena angka kasus yang dilaporkan ke kepolisian menunjukkan tren meningkat tajam, terutama sejak tahun 2022.

Bersadarkan data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri. Total Kasus Nasional 2025 mencapai 1.492 kasus (meningkat signifikan dari tahun 2023 yang mencatat 1.288 kasus).

Angka sebenarnya bisa jadi lebih besar dari yang tercatat secara resmi. Jadi, kita semua bisa sepakat, bahwa peristiwa bunuh diri perlu ditangani dengan serius, tidak hanya oleh pihak-pihak berwenang saja, namun oleh kita semua.

Perlu diketahui, bahwa kematian akibat bunuh diri seringkali adalah kulminasi dari banyaknya masalah dibaliknya yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Korban yang meninggal karena bunuh diri seringkali sudah menunjukkan tanda-tanda krisis mental sebelumnya, seperti perilaku menarik diri, sikap dan kata-kata yang menunjukkan keputusasaan, keinginan mengakhiri hidup, hingga mood yang menurun drastis.

Baca Juga:  UPN Veteran Jatim Kenalkan Gastronomi Mangrove Lewat Praktikum Lapangan di KRM Surabaya

Ironisya, sebagian dari kita seringkali kurang menganggap serius tanda-tanda bahaya tersebut, sebagian lainnya mungkin menyadari, namun ragu untuk melangkah lebih lanjut.

Ketika Penyangkalan Berubah Jadi Pengabaian

Ketidakinginan atau keraguan untuk menolong seseorang yang berada dalam krisis bunuh diri sering kali bukan disebabkan oleh rasa tidak peduli yang murni (sikap apatis), melainkan hambatan psikologis dan sosial yang kompleks.

Salah satu hambatan psikologis tersebut adalah sikap denial  (menyangkal) atas existensi masalah nyata yang ada dibaliknya.

Sering kali lebih mudah bagi otak kita untuk menganggap tanda-tanda tersebut sebagai “hanya mencari perhatian” atau “berlebihan” daripada menghadapi kenyataan pahit bahwa seseorang yang kita kenal benar-benar ingin mengakhiri hidupnya.

Tidak mengherankan, karena denial adalah salah satu mekanisme pertahankan diri unuk melindungi diri kita dari perasaan tertekan atau tidak nyaman.

Sikap denial tersebut juga dapat berkembang menjadi pengabaian jika tidak segera disikapi dengan baik. Tak bisa dipungkiri, kita hidup di dunia yang penuh tantangan, serba cepat, dan seringkali juga serba egois.

Semua orang berjuang dengan masalah masing-masing. Beberapa di antara mereka ada yang beranggapan bahwa mereka sendirian dalam perjuangan, dan tak akan ada yang bersedia membantu.

Baca Juga:  Kebiasaan Sehari Hari Orang yang Hidup Bahagia

Yang menyedihkan, kadang anggapan itu berkembang menjadi keraguan untuk saling membantu atau pengabaian terhadap tanda-tanda kesulitan orang lain.

Sekali lagi, pengabaian itu bukan didasari karena murni ketidakpedulian, namun karena rentetan pengalaman pahit dan pengabaian yang mereka alami sebelumnya, yang berujung pada runtuhnya kepercayaan bahwa setiap orang perlu saling membantu.

Secercah Harapan yang Mulai Terlihat

Di tengah situasi seperti itu, masih ada harapan yang bisa kita menfaatkan sebaik mungkin, yaitu meningkanya kesadaran tentang kesehatan jiwa 1-2 dekade terakhir.

Kita mungkin tidak banyak menemukan pembicaraan tentang topik kesehatan jiwa 20-30 tahun yang lalu. Jarang pula orang yang mau terbuka terhadap masalah kesehatan jiwa yang dialaminya.

Namun, 10 tahun terakhir, topik kesehatan jiwa menjadi semakin relevan Tak jarang kita temukan pembahasan dan pembicaraan yang menjadi hit di media sosial, terkait kesehatan jiwa, mulai keluhan, penanganan, hingga akses kesehatan jiwa.

Tak jarang pula kita temukan berbagai komentar positif dan suportif di dalamnya.  Hal ini tentu menumbuhkan harapan bahwa yang dulunya sangat di stigma, kini perlahan mulai diterima, dan diharapkan dapat berujung pada meningkatnya kepedulian.

Baca Juga:  Kebiasaan Malam yang Membuat Tidak Segar Sepanjang Hari

Menumbuhkan Kembali Kepedulian.

Jadi, yang harus kita lakukan adalah memperkuat tren peningatan kesadaran akan kesehatan jiwa ini, dan mengembangkannya menjadi aksi nyata, khususnya terkait pencegahan bunuh diri.

Tidak perlu ragu untuk menolong atau memberi perhatian ketika bertemu orang yang membutuhkan.

Penting diketahui bahwa, orang dalam kondisi distres seringkali tidak butuh solusi konkret. Mereka hanya butuh didengarkan dan dipahami.

Jadi, tidak perlu menjadi pahlawan serba bisa. Mulailah peduli pada siapapun yang membutuhkan, baik tetangga, rekan kerja, keluarga, sepupu, sesama pejalan kaki, dan lain-lain.

Pertanyaan dan perhatian sederhana seperti  “Anda baik-baik saja?” atau “Anda terlihat lelah dan tertekan. Apa ada yang bisa saya bantu?” dapat menyelamatkan tidak hanya nyawa, namun juga kehidupan seseorang.

Tidak perlu pula enggan untuk membahas keinginan bunuh diri dengan seseorang yang menunjukkan tanda-tanda ke arah sana.

Bertanyalah secara langsung dan penuh empati, tanpa menghakimi. Jelaskan keinginan bunuh diri adalah sesuatu yang diluar kendali penderitanya, dan bukan sesuatu yang tabu.

Tak lupa, beri juga apresiasi pada mereka yang sudah berkenan menceritakan masalahnya, karena seringkali itu adalah awal dari solusi ke depannya.

dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ
dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ

dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya

 

SHARE
Tag :depresiKasus Bunuh DiriMental health
Ad imageAd image

Berita Aktual

Samsung Galaxy M44/ Foto: Gizmochina
Samsung Bakal Meluncurkan Samsung Galaxy M47 yang Mulai Dilirik Pasar
Sabtu, 16 Mei 2026
Petugas layanan darurat bekerja di lokasi kecelakaan di Jalan Asok-Din Daeng yang melibatkan tabrakan kereta api dengan bus dan beberapa mobil/ Foto: Aljazeera
Delapan Orang Tewas dan 25 Luka Luka Kecelakaan KA vs Mobil Barang di Bangkok
Sabtu, 16 Mei 2026
Presiden Prabowo usai meresmikan koperasi merah putih/ Foto: setneg
Presiden Prabowo: MBG dan Koperasi Merah Putih Bangkitkan Ekonomi Rakyat
Sabtu, 16 Mei 2026
Ketua Samsung Electronics Co., Lee Jae-yong / Foto: Yonhap
Ketua Samsung Electronics Mengatakan Semua Pekerja Adalah Keluarga
Sabtu, 16 Mei 2026
Jang Dong Joo / Foto: Allkpop
Sebelum Mengudurkan Diri, Jang Dong Joo Terlibat Pembayaran Tagihan Hiburan Malam
Sabtu, 16 Mei 2026

Mental Health

Makanan bernutrisi/ Foto: Freepik

Studi Menyebutkan Konsumsi Makanan Bernutrisi Menekan Risiko Depresi

Tanda wanita tidak bahagia adalah kecemasan / Foto : Freepik

Studi Menemukan Intervensi Kesehatan Mental Lewat Medsos Mampu Mengurangi Kecemasan

Ilustrasi pria dan ponsel/ foto: freepik

Peneliti Menyebutkan Berhenti dari Medsos Tidak Signifikan Menghentikan Stres

Ilustrasi serangan asma/ Foto: national today

Hari Asma se Dunia Memperingatkan Bahaya Kesehatan Pernapasan

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Tiga Anggota tripleS Mengalami Kecelakaan Mobil Ringan dan Tidak Tampil

Instagram Meluncurkan Aplikasi Foto Baru Bernama Instants.

Awal Penanggalan Hari Kenaikan Yesus yang Beragam

Serikat Pekerja Samsung Elektronik Berencana Mogok Kerja Terkait Bonus Kinerja

Studi Menemukan Intervensi Kesehatan Mental Lewat Medsos Mampu Mengurangi Kecemasan

More News

Sikap tidak konsisten orang tua bisa menyebabkan anak tidak hormat / foto : Istimewa

Sikap Orang Tua yang Menyebabkan Tidak Dihormati Oleh Anak

Kamis, 6 Maret 2025
Ilustrasi minum kopi/ Foto: freepik

Studi Meneliti Batasan Kafein yang Dikonsumsi Sehari-hari dengan Kepanikan

Senin, 27 April 2026
Tingginya beban pekerjaan bisa menyebabkan seseorang tidak disiplin mengerjalan tugas / Foto : freepik

Perilaku Orang yang Terhambat Tujuan Padahal Sudah Terencana Baik

Kamis, 29 Mei 2025
Ilustrasi suka menyela saat berbicara / Foto: freepik

Alasan Orang Selalu Menyela pada Saat Pembicaraan Menunjukkan Sikap Seperti Ini

Minggu, 21 September 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id