Aktual.co.id – Setidaknya tujuh ledakan dan pesawat terbang rendah terdengar sekitar pukul 2 dini hari waktu setempat pada hari Sabtu di ibu kota Venezuela, Caracas.
Pemerintah menuduh Amerika Serikat menyerang instalasi sipil dan militer di beberapa negara bagian. Terkait hal ini pihak Pentagon mengarahkan agar mengkonfirmasi ke Gedung Putih.
Sementara itu, Administrasi Penerbangan Federal telah melarang penerbangan komersial AS di wilayah udara Venezuela karena “aktivitas militer yang sedang berlangsung” menjelang ledakan di Caracas.
Upaya menghubungi Komando Selatan AS, yang mengawasi operasi militer di wilayah tersebut, tidak mendapat tanggapan.
Ledakan di Caracas terjadi dalam waktu kurang dari 30 menit. Warga di berbagai lingkungan bergegas ke jalan, sementara yang lain menggunakan media sosial untuk melaporkan ledakan tersebut.
Dua jam kemudian, berbagai wilayah kota masih mengalami pemadaman listrik, tetapi kendaraan tetap bergerak bebas.
Asap terlihat mengepul dari hanggar pangkalan militer di Caracas. Instalasi militer lain di ibu kota juga mengalami pemadaman listrik.
“Seluruh tanah bergetar. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan pesawat,” kata Carmen Hidalgo, seorang pekerja kantoran berusia 21 tahun.
Pemerintah Venezuela menyerukan para pendukungnya untuk turun ke jalan. “Rakyat turun ke jalan!” bunyi pernyataan itu.
“Pemerintah Bolivarian menyerukan kepada semua kekuatan sosial dan politik di negara ini untuk mengaktifkan rencana mobilisasi dan menolak serangan imperialis ini,” kata pemerintah Venezuela
Pernyataan itu menambahkan bahwa Presiden Nicolás Maduro telah memerintahkan semua rencana pertahanan nasional untuk siaga dan menyatakan keadaan darurat eksternal.
Keadaan darurat itu memberinya kekuasaan menangguhkan hak-hak rakyat dan memperluas peran angkatan bersenjata. (ndi/AP News)
