Aktual.co.id – Pengumuman Donald Trump tentang kerangka kesepakatan masa depan yang akan menyelesaikan masalah Greenland disambut dengan skeptisisme yang mendalam dari masyarakat di wilayah Arktik tersebut.
Skeptitisme tersebut terjadi setelah presiden menggunakan pidatonya di Forum Ekonomi Dunia untuk menegaskan bahwa ia menginginkan Greenland. Termasuk hak, kepemilikan, dan penguasaan, tanpa intervensi militer yang lebih agresif.
Trump menggunakan media sosial mengumumkan kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland setelah pembicaraan dengan sekretaris jenderal NATO Mark Rutte dan menarik ancaman tarif terhadap delapan negara Eropa.
Ia menyebutnya sebagai “konsep kesepakatan” ketika berbicara kepada jaringan bisnis CNBC segera setelah Wall Street tutup.
“Hari ini berakhir lebih baik daripada saat dimulai,” kata Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen.
“Sekarang, mari kita duduk bersama dan mencari tahu bagaimana kita dapat mengatasi kekhawatiran keamanan Amerika di Arktik sambil tetap menghormati batasan-batasan Kerajaan Denmark ,” ujarnya.
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, juga menyambut baik keputusan Trump, tetapi Rutte, yang menegosiasikan kesepakatan hari Rabu dengan Trump, mengeluarkan catatan peringatan, dengan mengatakan bahwa masih ada “banyak pekerjaan yang harus dilakukan”.
Ketika ditanya oleh Fox News apakah Greenland akan tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark berdasarkan kesepakatan tersebut, Rutte mengatakan bahwa masalah itu belum dibahas, dan hanya memberikan sedikit detail tentang perjanjian tersebut.
Juru bicara NATO, Allison Hart, mengatakan pembicaraan tentang kerangka kerja yang dirujuk Trump akan fokus pada memastikan keamanan Arktik melalui upaya kolektif sekutu.
Namun, beberapa anggota parlemen Denmark, termasuk Sascha Faxe, meluapkan kemarahannya karena Greenland dikecualikan dari negosiasi pada hari Rabu. “Ini bukan negosiasi sungguhan; ini percakapan antara dua orang pria,” katanya kepada Sky News.
Menurut laporan media, kesepakatan kompromi tersebut memberikan kedaulatan kepada AS atas sebagian kecil wilayah Greenland.
Menurut Telegraph, kerangka kerja tersebut berpotensi memungkinkan AS untuk menambang mineral tanah jarang tanpa perlu meminta izin dari Denmark.
Masih belum jelas apakah Denmark menandatangani kesepakatan tersebut, tetapi pada Rabu malam Aaja Chemnitz Larsen, seorang anggota parlemen Denmark dari Greenland, mengatakan bahwa gagasan bahwa NATO harus ikut campur dalam kedaulatan atau mineral wilayah tersebut adalah tidak mungkin. (ndi/the guardian)
