Aktual.co.id – Banyak yang mencoba meningkatkan kesehatan mental dengan beristirahat dari aplikasi media sosial, namun sebuah penelitian menyebutkan bahwa cara tersebut tidak sepenuhnya benar.
Penelitian yang diterbitkan jurnal Scientific Reports menjelaskan perangkat digital menawarkan akses konstan ke informasi dan dukungan sosial.
Pada saat bersamaan, perangkat tersebut menjebak pengguna dalam siklus kewajiban tanpa akhir untuk membalas pesan dan mendapatkan informasi terbaru.
Ketegangan ini membuat banyak orang mencari cara mendapatkan kembali kendali atas perhatiannya. Untuk mengatasi perasaan negative tersebut, muncul strategi populer yang disebut detoks digital.
Strategi ini dengan pola berhenti menggunakan media sosial untuk jangka waktu tertentu. Harapannya dengan memutuskan koneksi akan meningkatkan produktivitas, mengurangi stres, dan meningkatkan kebahagiaan secara umum.
Namun dalam jurnal tersebut menjelaskan keluar dari media sosial akan memperbaiki suasana hati, sementara pendapat lain justru membuat orang merasa terputus dan kesepian. Sementara eksperimen lain tidak menemukan perubahan yang terukur sama sekali.
Mengutip dari psypost, Laura Lemahieu seorang peneliti komunikasi dari Universitas Antwerp, memimpin tim ilmuwan untuk menyelidiki perbedaan ini.
Bersama koleganya dari Universitas Ghent, Lemahieu berupaya mendamaikan hasil yang bertentangan ini. Para ilmuwan menduga menggabungkan data dari berbagai eksperimen akan mengungkap tren mendasar yang sebenarnya.
Secara total, tim tersebut mengidentifikasi 10 studi yang sesuai. Eksperimen ini secara kolektif melibatkan 4.674 partisipan.
Para peneliti memfokuskan analisisnya pada tiga pengukuran emosional spesifik yang didokumentasikan dalam eksperimen sebelumnya.
Dalam penelitian psikologi, istilah afek umumnya merujuk pengalaman mendasar dari perasaan, emosi, atau suasana hati.
Para peneliti memisahkan konsep ini menjadi dua kategori yang berbeda. Pengukuran pertama adalah afek positif, yang mencakup perasaan antusiasme, kewaspadaan, dan energi.
Pengukuran kedua adalah efek negatif, yang mencakup emosi tidak menyenangkan seperti kemarahan, ketakutan, dan rasa bersalah.
Pengukuran terakhir adalah kepuasan hidup. Kepuasan hidup adalah metrik penilaian global, yang mewakili evaluasi luas seseorang tentang seberapa baik kehidupan mereka berjalan.
Ketika para peneliti menggabungkan data tersebut, hasilnya tidak signifikan untuk ketiga kategori tersebut. Berhenti menggunakan media sosial tidak meningkatkan perasaan gembira atau antusiasme. Hal itu juga gagal secara konsisten mengurangi emosi negatif seperti kesedihan atau kecemasan.
Demikian pula, beristirahat dari aplikasi tidak memiliki efek signifikan secara statistik terhadap kepuasan hidup seseorang secara keseluruhan. Eksperimen tersebut juga menguji masa istirahat mulai dari satu hari hingga hampir sebulan.
Berhenti selama empat minggu tidak efektif daripada berhenti selama satu minggu. Para peneliti menyarankan manfaat dan kerugian diasumsikan dari berhenti merokok saling meniadakan.
Sebagai contoh, seseorang merasa lebih rileks tanpa aliran notifikasi yang terus-menerus. Pada saat yang sama, mereka merasa bosan atau terisolasi karena kehilangan interaksi sosial daring. Hasil akhirnya adalah keadaan emosional yang netral.
Penulis utama dan rekan-rekannya mencatat keterbatasan dalam data yang tersedia. Sebagian besar dari 10 eksperimen asli memiliki ukuran sampel yang relatif kecil.
Keterbatasan ini berarti studi individual memiliki kekuatan statistik yang rendah, sehingga menyulitkan para peneliti mendeteksi perubahan emosional yang halus.
Keterbatasan lainnya adalah data yang tersedia sangat bergantung pada demografi tertentu. Partisipan sebagian besar adalah mahasiswa di negara-negara industri Barat.
Para ilmuwan kelompok ini sebagai populasi WEIRD, yang merupakan singkatan dari Western (Barat), Educated (Terdidik), Industrialized (Terindustrialisasi), Rich (Kaya), dan Democratic (Demokrat).
Para ilmuwan berpendapat bahwa ukuran agregat seperti kepuasan hidup secara keseluruhan mungkin terlalu luas untuk menangkap efek dari jeda penggunaan aplikasi.
Peneliti merekomendasikan agar eksperimen di masa mendatang melacak perubahan suasana hati menit demi menit dalam jangka waktu yang lama.
Studi ini menunjukkan bahwa menghentikan penggunaan media sosial secara tiba-tiba bukanlah cara terbaik untuk mengatasi stres digital modern.
Para peneliti mengusulkan agar studi menyelidiki metode pemutusan koneksi alternatif. Menetapkan batasan waktu harian atau mematikan notifikasi merupakan pendekatan yang lebih berkelanjutan daripada berhenti secara mendadak.
Mempelajari cara menyeimbangkan koneksi dan pemutusan koneksi akan tetap menjadi keterampilan penting seiring semakin terintegrasinya ponsel pintar dalam rutinitas sehari-hari.
Orang mungkin akan lebih berhasil jika menyesuaikan menggunakan perangkat digital daripada meninggalkannya sepenuhnya. (ndi/psypost)
