Aktual.co.id – Sebuah studi yang diterbitkan Physiologi dan Behavior mengungkapkan seseorang akan makan lebih banyak pasca berendam air dingin di jam berikutnya.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa partisipan mengonsumsi lebih banyak makanan secara signifikan setelah sesi berendam di air dingin dibandingkan ketika mereka duduk di air hangat.
Temuan ini penting bagi orang-orang yang menggunakan air dingin untuk mendukung pemulihan, meningkatkan kesejahteraan, atau mengelola berat badan.
Perendaman dalam air dingin untuk tujuan terapi atau rekreasi, semakin populer. Banyak atlet dan penggemar kebugaran menggunakannya untuk mengurangi nyeri otot setelah berolahraga.
Sebagian orang juga menggunakannya sebagai cara meningkatkan suasana hati atau meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Namun, seiring banyaknya orang yang melakukan perendaman dalam air dingin, para peneliti mulai mempertanyakan apakah hal itu dapat memengaruhi perilaku lain terutama makan.
Karena tubuh kehilangan panas lebih cepat di dalam air daripada di udara, dan harus bekerja lebih keras untuk tetap hangat, paparan air dingin dapat meningkatkan pengeluaran energi.
Beberapa penelitian menunjukkan hal ini juga dapat meningkatkan nafsu makan atau menyebabkan makan berlebihan setelahnya.
Hingga saat ini, masih belum jelas apakah paparan air dingin saja, tanpa disertai olahraga, memengaruhi asupan makanan.
Untuk menyelidiki pertanyaan ini, tim peneliti di Inggris merancang sebuah eksperimen untuk mengisolasi efek dari perendaman pasif di air dingin.
Mereka merekrut 15 orang dewasa yang sehat dan aktif secara fisik, 10 pria dan 5 wanita, berusia antara 20 dan 59 tahun.
Para peserta tidak sedang berdiet, tidak merokok, dan berat badannya stabil selama tiga bulan. Untuk menghindari bias, peserta diberi tahu bahwa penelitian tersebut membahas tentang perendaman air memengaruhi pengeluaran energi, bukan nafsu makan atau perilaku makan.
Setiap peserta menyelesaikan tiga kondisi uji coba yang berbeda secara acak, dengan jarak setidaknya seminggu antar masing-masing kondisi.
Dalam satu kondisi, mereka duduk di dalam air bersuhu 16°C (sekitar 61°F) setinggi dada selama 30 menit.
Dalam kondisi lain, mereka duduk di air yang lebih hangat bersuhu 35°C (95°F), suhu yang dianggap termnetral untuk air.
Dalam kondisi ketiga, mereka duduk di ruangan yang suhu udaranya diatur ke 26°C (79°F), yang juga dianggap termnetral.
Dalam ketiga uji coba, peserta dicelupkan atau duduk pada waktu yang sama dan mengikuti rutinitas pra-perendaman yang sama, termasuk sarapan standar.
Sepanjang sesi imersi, para peneliti mengukur pengeluaran energi menggunakan kalorimetri tidak langsung dan memantau suhu inti tubuh, menggigil, detak jantung, serta perasaan subjektif lapar dan kenyang.
Setiap sesi, para peserta dikeringkan dan disajikan makanan pasta yang homogen. Mereka diinstruksikan untuk makan sampai merasa “cukup kenyang”.
Para peneliti kemudian menimbang jumlah makanan yang dimakan dan menghitung total asupan energi. Hasilnya menunjukkan pola yang jelas. Setelah berendam di air dingin, partisipan mengonsumsi makanan yang jauh lebih banyak.
Rata-rata, mengonsumsi sekitar 2.783 kilojoule (kJ), dibandingkan dengan 1.817 kJ setelah berendam di air hangat dan 1.894 kJ setelah berendam di udara termonetral.
Peningkatan asupan energi setelah berendam di air dingin sekitar 34% lebih tinggi dibandingkan setelah berendam di air hangat dan 32% lebih tinggi dibandingkan setelah berendam di udara.
Perbedaan ini signifikan secara statistik dan diamati di seluruh partisipan, terlepas dari ukuran atau komposisi tubuh peserta.
Yang penting, peserta tidak melaporkan rasa lapar setelah sesi air dingin. Peserta juga tidak menilai tingkat kepenuhan atau kepuasan secara berbeda di ketiga kondisi tersebut.
Hal ini menunjukkan peningkatan nafsu makan yang tidak didorong oleh perasaan subjektif akan nafsu makan, tetapi respons fisiologis terhadap paparan dingin itu sendiri.
Para peneliti juga menemukan pengeluaran energi lebih tinggi selama perendaman di air dingin. Peserta membakar sekitar 224 kJ selama sesi dingin selama 30 menit, dibandingkan 135 kJ di air hangat dan 129 kJ di udara termonetral.
Menggigil, yang tidak terjadi dalam kondisi hangat, umumnya dilaporkan selama perendaman di air dingin dan berkisar dari ringan hingga berat.
Para peneliti juga menemukan bahwa asupan makanan tidak lebih tinggi setelah perendaman di air hangat, yang menunjukkan bahwa berada di dalam air saja tidak cukup untuk memicu makan berlebih.
Tidak pula terdapat perbedaan signifikan antara kondisi air hangat dan udara thermoneutral. Hal ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan peningkatan asupan energi setelah perendaman di air hangat dan dingin setelah berolahraga.
Dalam penelitian ini, peserta tidak aktif secara fisik sebelum sesi perendaman, dan suhu tubuh diukur menggunakan metode yang lebih akurat.
Para penulis mendorong penelitian di masa mendatang untuk mengeksplorasi apakah efek serupa terjadi setelah perendaman yang lebih lama atau berulang. Bagaimana paparan dingin memengaruhi hormon pengatur nafsu makan, dan apakah perbedaan individu seperti komposisi tubuh atau tingkat kebugaran memengaruhi respons.
Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk menguji apakah strategi seperti waktu makan atau komposisi makanan dapat membantu mengimbangi kecenderungan makan berlebihan setelah berada di air dingin. (ndi/psypost)
