Aktual.co.id– Memakai barang mewah oleh sebagian orang dianggap sebagai bentuk symbol kesuksesan. Namun berdasarkan analisan psikolog Minh Tran, menunjukkan barang barang mewah dari ujung rambut sampai kaki, melambangkan kebangkrutan. Berikut ciri orang bangkrut dengan kemewahan barang yang dipakai.
Label Desainer
Orang yang mengenakan label desainer dari ujung kepala hingga ujung kaki, memamerkan logo merek seolah-olah lambang kehormatan.
Pada kenyataannya, obsesi terhadap logo dan label ini berasal dari rasa tidak aman. Ini upaya memproyeksikan citra kekayaan dan kesuksesan tanpa harus memiliki stabilitas keuangan untuk mendukungnya.
Faktanya, banyak orang kaya lebih suka menginvestasikan uangnya dalam filantropi atau aset yang nilainya akan meningkat seiring waktu, daripada menghabiskan barang-barang yang nilainya terus menurun seperti pakaian dan aksesori.
Memakai Mobil Mahal
Bagi orang yang menggunakan mobil mahal untuk keseharian, bisa jadi lambang ketidakamanan pada dirinya. Menurut Minh Tran, orang tersebut butuh pengakuan jika dirinya orang yang berada, padahal rapuh segala-galanya.
Banyak orang kaya justru menggunakan mobil tanpa merek terkenal. Mobil yang dipilih dari model yang simple serta mudah perawatan. Keuangan yang dimilikinya akan dialihkan ke bidang yang lebih produktif menghasilkan investasi baru.
Makan di Restoran Mewah
Menurut sebuah penelitian, rata-rata keluarga Amerika menghabiskan sekitar 3.000 USD per tahun untuk makan di luar. Sebaliknya, para jutawan mengalokasikan kurang dari 1% kekayaannya untuk investasi mendirikan restoran tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa yang sering makan mewah menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk mempertahankan kemewahan daripada mengumpulkan kekayaan.
Memanjakan diri dengan makanan mewah sesekali tidak masalah, namun menggunakan sebagai simbol status mungkin lebih menyulitkan keuangan daripada keuntungan finansial.
Menggunakan Gadget Canggih
Saat ini, mudah terjebak dalam kehebohan gadget terkini. Orang sukses memiliki gadget canggih untuk kebutuhan pekerjaan dan meningkatkan produktivitas. Artinya bukan untuk pamer.
Sementara yang terlilit kesulitan keuangan, kepemilikan gadget hanya sekedar menaikkan citra diri. Ironisnya, fakta sesungguhnya mereka kesulitan ekonomisehingga mengorbankan keuangannya untk foya- foya.
Liburan Mewah
Banyak yang menggunakan media sosial untuk memamerkan kehidupan topengnya. Berlibur ke tempat mewah yang diimpikan banyak orang dengan fasilitas mewah bagi orang yang rapuh hanya untuk pamer belaka.
Perjalanan memang menyenangkan dan terlihat kaya, namun jika piknik tersebut digunakan untuk simbol status dapat menyebabkan stres finansial dan utang dikemudian hari.
Sementara orang kaya sering menyukai pengalaman daripada kemewahan. Kekayaan yang dimiliki akan dipusatkan untuk berinvestasi menawarkan pertumbuhan bisnis daripada berfoya-foya.
Memakai Perhiasan Mencolok
Meskipun perhiasan dapat menjadi bentuk investasi, namun jika digunakan untuk sehari hari jatuhnya untuk pamer symbol yang menyesatkan.
Fakta, banyak orang kaya memilih perhiasan untuk investasi, bukan ajang pamer digunakan dalam keseharian. Secara sadar orang kaya menilai kehidupan bukan dari karat yang dikenakan, melainkan prestasi dan karakter pribadi.
Tinggal di Lingkungan Mewah.
Tinggal di lingkungan kelas atas dengan halaman rumput yang terawat dan mobil mewah yang diparkir di setiap jalan masuk dapat memberikan ilusi kekayaan. Namun kenyataannya, hal ini menjadi beban finansial daripada simbol kemakmuran.
Membeli rumah di luar kemampuan dapat menyebabkan tekanan finansial. Bagi orang kaya, rumah bukan sekadar simbol status, tetapi investasi. Dengan membeli properti yang mampu akan dijadikan investasi untuk pertumbuhan. (ndi)
