Aktual.co.id – Sebuah studi dari Jerman menemukan bahwa wanita dengan keterikatan cemas mengalami gejala depresi lebih tinggi dengan pasangannya. Studi ini dipublikasikan dalam Personal Relationships .
Gejala depresi meliputi kesedihan yang terus-menerus, kehilangan minat atau kesenangan, kelelahan, perubahan nafsu makan atau tidur, dan kesulitan berkonsentrasi.
Gangguan depresi mayor merupakan diagnosis kesehatan mental yang umum dikeluhkan pasien dengan gangguan cemas ini, namun banyak juga individu pemilik gangguan cemas yang tidak memiliki keluhan seperti pada umumnya.
Dalam sebuah hubungan romantas, jika salah seorang mengalami gangguan depresi, maka akan mempengaruhi kepada pasangannya. Sehingga pasangannya juga akan mengalami peningkatan cemas kelak pada suatu waktu.
Fenomena ini disebut spillover atau crossover. Karena kedua pasangan terpapar stresor eksternal yang sama, terkadang tidak jelas apakah perubahan tersebut disebabkan oleh spillover atau pengaruh lingkungan kedua individu.
Penulis studi Preston C. Morgan dan rekan-rekannya berusaha meneliti keterikatan cemas pasangan dapat meredam luapan gejala depresi dalam hubungan romantis.
Para peneliti menganalisis data dari Analisis Panel Jerman tentang Hubungan Intim dan Dinamika Keluarga (Pairfam), menggunakan lima gelombang data yang dikumpulkan antara tahun 2010 dan 2014.
Pada awal penelitian, usia rata-rata sekitar 36 tahun untuk pria dan 33 tahun untuk wanita, dan 72% pasangan telah menikah. Peserta menyelesaikan penilaian yang divalidasi terhadap gejala depresi dan keterikatan yang cemas.
Hasilnya menunjukkan tingkat awal gejala depresi pada peserta tidak berhubungan secara signifikan dengan perubahan gejala depresi pada pasangan selama periode empat tahun.
Secara khusus, wanita dengan tingkat keterikatan cemas yang lebih tinggi lebih mengalami peningkatan gejala depresi ketika pasangan pria memiliki gejala depresi yang meningkat pada awal penelitian.
“Secara umum, depresi pada pasangan dapat ditularkan ke pasangan romantisnya. Secara khusus, wanita yang lebih mudah cemas, mencari kepastian, berada pada risiko untuk limpahan gejala depresi dalam hubungan romantis,” penulis studi menyimpulkan.
Studi ini menyoroti efek limpahan gejala depresi dalam pasangan. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa tingkat depresi rata-rata peserta studi rendah dan bukanlah individu yang mengalami depresi klinis. (ndi)
