Aktual.co.id – Sebuah studi yang diterbitkan dalam Biological Psychiatry: Cognitive Neuroscience and Neuroimaging menunjukkan bahwa testosteron mempengaruhi bagaimana pria merespons umpan balik sosial, membuatnya lebih sensitif terhadap persetujuan dan ketidaksetujuan dari orang lain.
Penelitian ini menjelaskan bagaimana testosteron membentuk apa yang oleh para psikolog disebut “harga diri negara bagian” yakni rasa harga diri sementara seseorang yang berfluktuasi sebagai respons terhadap isyarat sosial.
Hasilnya dapat membantu menjelaskan mengapa pria dengan harga diri yang lebih rendah terkadang menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap gangguan suasana hati atau perilaku antisosial.
Studi ini juga membuka pintu bagi potensi strategi pengobatan baru yang menggabungkan pendekatan hormonal dan perilaku untuk meningkatkan kesehatan mental.
Para psikolog membedakan antara sifat harga diri, yang mencerminkan harga diri seseorang secara keseluruhan, dan harga diri negara, yang dapat naik atau turun sebagai tanggapan terhadap pengalaman baru.
Fluktuasi ini dapat memiliki konsekuensi yang nyata. Orang dengan harga diri rendah atau tidak stabil lebih mungkin mengalami kecemasan, depresi, dan bahkan perilaku agresif.
Harga diri pria, lebih sensitif terhadap perubahan status sosial atau penolakan yang dirasakan. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa testosteron, hormon seks yang diketahui mempengaruhi perilaku dominasi dan kepekaan terhadap status bisa memengaruhi harga diri.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa testosteron meningkatkan harga diri pada kelompok tertentu. Sementara yang lain tidak menemukan hubungan yang jelas.
Penelitian ini dirancang untuk memberikan bukti yang tepat dengan berfokus pada testosteron mengubah proses pembaruan harga diri.
Dengan kata lain, apakah pria dengan testosteron merespons secara berbeda ketika menerima persetujuan atau tidak ada persetujuan?
Para peneliti menemukan bahwa testosteron mengubah cara peserta membentuk harapan tentang umpan balik sosial.
Pria yang menerima testosteron lebih optimis mengantisipasi persetujuan dari penilai persetujuan tinggi. Tetapi juga lebih pesimis dengan memberikan umpan balik negatif pada hubungan sosial.
Penelitian ini juga memiliki implikasi klinis. Harga diri yang rendah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, dan penarikan diri sosial.
Dalam beberapa kasus, terapi testosteron telah digunakan untuk mengobati gejala suasana hati pada pria dengan testosteron rendah. Penelitian ini menunjukkan bahwa menggabungkan testosteron dengan lingkungan sosial yang positif atau terapi berbasis umpan balik dapat meningkatkan harga diri lebih baik.
Para peneliti tidak mengukur kadar testosteron alami peserta sebelum percobaan. Karena tingkat dasar dapat mempengaruhi orang merespons testosteron tambahan.
Penelitian di masa depan dapat memeriksa apakah perbedaan individu dalam kadar hormon mengubah efek pengobatan. (ndi)
