Aktual.co.id – Para ilmuwan dari Universitas Georgia telah menemukan sesuatu yang meresahkan tentang remaja yang tidak mendapatkan cukup tidur berkualitas: otaknya mungkin membentuk pola konektivitas yang membuat berisiko lebih tinggi mengalami masalah perilaku di kemudian hari.
Sebuah studi besar yang melacak hampir 3.000 remaja menemukan bahwa remaja dengan durasi tidur yang lebih pendek dan efisiensi tidur yang lebih rendah menunjukkan perubahan yang jelas dalam cara jaringan otak berkomunikasi satu sama lain.
Yang paling mengkhawatirkan, pola otak yang berubah ini meramalkan anak-anak yang akan mengembangkan masalah eksternalisasi yang lebih serius, seperti agresi, pelanggaran aturan, dan perilaku impulsif.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Brain and Behavior ini menggunakan perangkat Fitbit untuk melacak pola tidur secara objektif pada anak usia 11 dan 12 tahun. Lalu memindai otak untuk memetakan konektivitas saraf.
Untuk meneliti bagaimana tidur memengaruhi jaringan otak, para peneliti meminta 2.811 peserta muda mengenakan perangkat Fitbit selama rata-rata 14 malam. Peneliti mengukur dua aspek utama kesehatan tidur yakni durasi (berapa lama remaja tidur) dan efisiensi (berapa persen waktu di tempat tidur yang benar-benar dihabiskan untuk tidur).
Para peserta menjalani pemindaian otak untuk mengukur konektivitas dalam jaringan mode default dan empat jaringan otak utama lainnya yang bertanggung jawab untuk perhatian, pengaturan emosi, dan kontrol kognitif.
Masa remaja merupakan masa kritis ketika otak mengalami reorganisasi besar-besaran, khususnya di area yang bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan , pengendalian impuls, dan pengaturan emosi.
Selama masa perkembangan ini, tidur memiliki fungsi penting yakni mengonsolidasikan ingatan, membersihkan sisa metabolisme dari jaringan otak, dan mendukung pemangkasan serta penguatan koneksi saraf.
Pada otak yang sehat, jaringan mode default biasanya menunjukkan koneksi internal yang kuat dan menjaga keseimbangan yang cermat dengan jaringan perhatian dan kontrol kognitif. Ketika tidur terganggu, keseimbangan ini bergeser dengan cara yang bermasalah.
Kurang tidur dapat mengganggu organisasi alami ini, sehingga memaksa otak bekerja lebih keras untuk mempertahankan perhatian dan pengendalian diri.
Studi tersebut menemukan bahwa perbedaan waktu tidur yang relatif kecil sekalipun dikaitkan dengan perubahan yang dapat diukur dalam konektivitas otak.
Durasi tidur rata-rata dalam studi tersebut adalah 7,5 jam, dengan efisiensi tidur sekitar 89%. Angka yang tampak masuk akal tetapi mencerminkan kurang tidur optimal.
Penelitian ini dilakukan pada saat tidur remaja menjadi masalah kesehatan masyarakat. Waktu di sekolah, paparan layar , tekanan sosial, dan sikap budaya terhadap tidur semuanya berkontribusi terhadap kualitas tidur remaja.
Otak remaja yang sedang berkembang sangat rentan terhadap gangguan tidur, dengan perubahan yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan perilaku selama bertahun-tahun mendatang. (ndi/studyfinds)
