Aktual.co.id – Ada pribadi yang tersenyum lebar saat swafoto, mengunggah kutipan inspiratif, dan memuji orang lain di depan umum. Namun, di balik pintu tertutup, ceritanya berbeda.
Semua pernah mengalaminya di mana orang-orang yang tampak baik dan sopan di permukaan, tetapi karakter aslinya terbongkar dengan cara yang tak terkendali.
Psikolog Lachlan Brown menyebut ini “efek kebocoran” yakni ketika sifat asli seseorang terpancar melalui celah-celah persona mereka yang telah dikurasi dengan cermat.
Menjadikan Kebaikan Sebagai Senjata
Sekilas, orang ini tampak murah hati—membantu, memuji, dan berpura-pura menjadi orang baik dan penuh kasih sayang. Namun, ada agenda di baliknya.
Orang ini menggunakan kebaikan untuk memanipulasi, sehingga ada rasa berhutang kepadanya ketika ada perasaan bersalah ketika terhubung dengan dirinya.
Bergosip dengan Kedok Kepedulian
Di depan umum memuji seseorang: “Wah, dia memang luar biasa.” Tapi kalau di belakang layar dia mengolok dan cenderung memfitnahnya.
Orang-orang yang berpura-pura baik menyamarkan gosip sebagai kekhawatiran, curahan hati, atau kejujuran semu.
Namun, gosip bukan tentang kepedulian, yang dimaksud gosip ini adalah kontrol, perbandingan, dan merendahkan orang.
Mengubah Kepribadian Tergantung pada Siapa yang Dihadapi
Dengan figur otoritas, orang ini hangat dan menyenangkan. Dengan rekan sejawat, mungkin kompetitif atau meremehkan. Dengan bawahan bisa sangat kejam.
Perilaku ini disebut manajemen kesan, yakni istilah psikologis untuk orang yang menyesuaikan identitas sesuai dengan audiens.
Kebaikan sejati tidak bergantung pada siapa yang ada di ruangan itu. Orang-orang yang berpura-pura baik hati menyesuaikan perilaku seperti aktor yang memainkan peran berbeda.
Menjatuhkan Lewat Pujian
Kedengarannya seperti pujian, tetapi ada yang terasa aneh.
“Kamu berani banget pakai warna itu, aku nggak akan pernah bisa.”
“Beruntung kamu nggak terlalu peduli sama penampilanmu seperti aku.”
“Penampilanmu tadi bagus banget, untuk orang yang masih baru.”
Inilah kebaikan yang kompetitif yakni permainan kekuasaan halus yang disamarkan. Orang yang berpura-pura baik memuji untuk menunjukkan superioritas, membuat orang lain kehilangan keseimbangan, atau tampak murah hati sambil secara halus merendahkan orang lain.
Terobsesi Terlihat Baik
Orang ini menjaga citra dengan cermat. Media sosial penuh dengan gestur kebaikan, kegiatan amal, dan swafoto yang penuh senyum.
Orang ini berbicara tentang menjadi “orang yang berempati”, “pemberi”, atau “orang baik”. Namun, ketika ada orang yang tidak setuju dengan dirinya, maka sifat aslinya akan terlihat.
Mengendalikan Melalui Kebaikan Semu
Orang ini akan menampakkan sikap manis sehingga sulit untuk menolak ajakannya. Namun orang ini akan membuatmu merasa bersalah dengan senyuman.
Orang yang berpura-pura baik tidak agresif secara terang-terangan, melainkan pasif-agresif . Pesona nya adalah tali kekang, bukan anugerah. (ndi)
