Aktual.co.id – Sebuah studi baru memberikan bukti bahwa ciri-ciri kepribadian narsistik dan antisosial terkait dengan pola konektivitas otak yang sama maupun berbeda.
Penelitian yang dipublikasikan Psychophysiology ini menunjukkan bahwa disfungsi pada tiga jaringan otak inti, yang dikenal mode default, saliensi, dan jaringan frontoparietal, memainkan peran dalam membentuk ciri-ciri ini.
Temuan ini menawarkan kerangka kerja berbasis ilmu saraf untuk memahami ciri-ciri patologi kepribadian yang tumpang tindih namun berbeda.
Ciri narsistik dan antisosial seringkali muncul bersamaan, tetapi keduanya bermanifestasi dengan cara yang berbeda.
Narsisme cenderung melibatkan kemegahan, fokus yang berlebihan pada citra diri, dan kebutuhan akan kekaguman. Sebaliknya, antisosialitas ditandai oleh impulsivitas, pelanggaran aturan, dan pengabaian hak orang lain.
Kedua jenis ciri ini dapat muncul pada tingkat subklinis pada populasi umum atau muncul lebih parah sebagai bagian dari gangguan kepribadian.
Memahami dasar neurobiologis dapat membantu bagaimana keduanya saling tumpang tindih namun berbeda, serta cenderung mengelompok pada individu tertentu.
“Ciri-ciri kepribadian narsistik dan antisosial sering kali tumpang tindih dalam kehidupan nyata dan dapat menyebabkan masalah interpersonal yang serius,” ujar penulis studi Alessandro Grecucci, seorang profesor madya di Universitas Trento dan kepala Laboratorium Neurosains Klinis dan Afektif .
Meskipun psikologi telah menjelaskan ciri-ciri ini selama beberapa dekade, namun pengetahuan tentang ciri-ciri ini terwakili di otak masih kurang.
Kemajuan terbaru dalam neurosains jaringan, khususnya studi tentang ‘jaringan rangkap tiga’ berskala besar di otak, memberi kesempatan unik mengeksplorasi apakah ciri-ciri ini memiliki mekanisme saraf yang sama atau memiliki ciri-ciri otak yang berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat narsistik dan antisosial memiliki beberapa kesamaan fitur saraf. Dalam kedua kasus, konektivitas yang lebih rendah dalam jaringan saliensi, terutama di korteks cingulate anterior (ACC) yang merupakan prediktor yang konsisten.
Wilayah ini memainkan peran kunci dalam kesadaran emosional dan mengintegrasikan informasi tentang risiko dan imbalan.
Konektivitas yang berkurang di area ini dapat mencerminkan gangguan dalam mengenali konsekuensi tindakan seseorang dalam mengatur impuls emosional. Sehingga berpotensi pada kesulitan interpersonal yang terlihat pada kedua sifat tersebut.
Penelitian ini memiliki keterbatasan. Sampelnya terdiri dari partisipan non-klinis, dan hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasikan kepada orang-orang dengan diagnosis formal seperti gangguan kepribadian narsistik atau antisosial.
Penggunaan MRI dalam kondisi istirahat juga temuan mencerminkan aktivitas otak dasar, bukan respons terhadap tugas-tugas tertentu.
Meskipun para peneliti menggunakan metode statistik tingkat lanjut, beberapa temuan, terutama yang didasarkan pada ambang batas yang belum dikoreksi, harus ditafsirkan dengan hati-hati hingga direplikasi. (ndi/psypost)
