Aktual.co.id – Segera ke dokter jika seseorang mengalami ganguan tidur, cemas, sedih berlebihan, emosi gak stabil. Hal ini disampaikan dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ, dokter spesialis kedokteran jiwa RS Bhakti Darma Husada Surabaya, Jumat (10/10)
“Gejala tersebut menimbulkan penderitaan hingga kegawatan seperti keinginan bunuh diri, melukai diri sendiri, menelantarkan diri, membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” kata dr Riko.
Menurutnya, kelelahan mental adalah kondisi di mana seseorang mengalami kejenuhan dan tidak mampu menanggulangi masalah yang dihadapinya.
“Pertemanan dan pekerjaan bisa menjadi sumber stress yang dapat memicu kelelahan mental. Contohnya pertemanan tidak sehat, lingkungan kerja yang toxic bisa menyebabkan kelelahan mental,” ungkapnya.

Kelelahan mental bisa semakin parah dengan dipengaruhi paparan media sosial yang semakin kuat. Dikatakan oleh dr. Riko, paparan pemberitaan di media sosial memiliki kontribusi membawa seseorang menjadi stress, karena kemampuan otak untuk mencerna menjadi lebih berat.
“Apalagi paparan info hoax membuat otak menjadi kewalahan, dan akhirnya lelah,” ungkapnya. Jika kondisi ini berkembang, maka akan memperberat hingga berakibat gangguan mental, seperti depresi, cemas, insomnia, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang.
Disampaikan, jika masalah dianggap terlalu berat, kemudian merasa sendiri dan tidak ada harapan lagi, bukan tidak mungkin memiliki keinginan untuk mati sebagai opsi penyelesaian masalah.
Untuk memberikan pertolongan pertama, katanya, dengan cara mendengar cerita. “Jadilah pendengar yang baik, empatik, tanpa menghakimi. Lalu beri dukungan sesuai kebutuhan, dan yakinkan kita siap membantu. Arahkan juga untuk mencari pertolongan profesional jika gejala berat,” katanya.
Salah satu pencegahan agar tidak lelah mental terutama yang diakibatkan oleh pertemanan menurut dr Riko adalah dengan boundaries atau batasan yang jelas, tentang apa yang bisa di kompromi, apa yang tidak. Dengan batasan yang jelas, memudahkan seseorang bisa memilah dan memilih, serta mengevaluasi, sehingga tidak terjebak hubungan toxic. (ndi)
