Aktual.co.id – Militer Thailand telah melancarkan serangan udara di sepanjang perbatasan yang disengketakan dengan Kamboja saat negara tetangga Asia Tenggara itu saling menyalahkan atas bentrokan yang menewaskan seorang tentara Thailand dan melukai tiga warga sipil Kamboja.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, juru bicara militer Thailand, Mayor Jenderal Winthai Suvari, mengatakan Thailand mengerahkan pesawat itu untuk menekan serangan Kamboja setelah kematian tentara Thailand di provinsi Ubon Ratchathani.
Setidaknya empat orang lainnya juga terluka dalam insiden itu. Pernyataan Thailand mengatakan tentara Kamboja telah “menembakkan senjata ringan dan senjata melengkung” sejak sekitar pukul 5:05 pagi (22:00 GMT pada hari Minggu), dengan laporan bahwa salah satu tentaranya telah tewas diterima sekitar pukul 7 pagi (00:00 GMT).
Namun, Kamboja membantah pernyataan Thailand tersebut. Militer Kamboja, dalam sebuah pernyataan di Facebook, mengatakan bahwa pasukan Thailand-lah yang melancarkan serangan pertama pada pukul 5 pagi waktu setempat pada hari Senin (8/12).
Militer menambahkan bahwa bentrokan tersebut menyusul berbagai tindakan provokatif selama berhari-hari yang dilakukan oleh pasukan Thailand.
Kemudian pada hari itu, wakil gubernur wilayah perbatasan Kamboja, Oddar Meanchey, mengatakan tiga warga sipil, termasuk seorang wanita, terluka dalam serangan Thailand.
Met Measpheakdey tidak merinci apakah warga sipil terluka oleh serangan udara atau tembakan. Bentrokan itu terjadi sehari setelah episode pertempuran singkat lainnya di daerah Phu Pha Lek–Phlan Hin Paet Kon di provinsi Sisaket, di mana kedua belah pihak saling menyalahkan.
Militer Thailand mengatakan tembakan Kamboja melukai dua tentara Thailand dan pasukan Thailand membalas, yang mengakibatkan baku tembak yang berlangsung sekitar 20 menit.
Kamboja mengatakan bahwa pihak Thailand melepaskan tembakan terlebih dahulu dan pasukannya sendiri tidak membalas.
Bentrokan tersebut mengakibatkan kembali terjadinya pengungsian di kedua negara. Wilayah Angkatan Darat Kedua Thailand mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sekitar 35.000 orang telah dievakuasi dari daerah-daerah di sepanjang perbatasan, sementara juru bicara pemerintah provinsi Oddar Meanchey Kamboja mengatakan “sejumlah penduduk desa yang tinggal di dekat perbatasan melarikan diri ke tempat aman.”Provinsi Kamboja juga menangguhkan sekolah pada hari Senin akibat pertempuran tersebut.
Perdana Menteri Malaysia, menyatakan keprihatinan yang mendalam. “Kami mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri semaksimal mungkin, menjaga komunikasi tetap terbuka, dan memanfaatkan sepenuhnya mekanisme yang ada,” ujarnya dalam sebuah postingan di X. “Malaysia siap mendukung langkah-langkah yang dapat membantu memulihkan ketenangan dan mencegah insiden lebih lanjut. Kawasan kami tidak mampu membiarkan perselisihan yang telah berlangsung lama terjerumus ke dalam siklus konfrontasi,” tambahnya.
Thailand dan Kamboja selama lebih dari satu abad memperebutkan kedaulatan di titik-titik yang tidak dibatasi di sepanjang perbatasan darat sepanjang 817 km (508 mil).
Yang pertama kali dipetakan pada tahun 1907 oleh Prancis saat negara itu memerintah Kamboja sebagai koloni. Ketegangan yang membara kadang-kadang meledak menjadi pertempuran kecil, seperti baku tembak artileri selama seminggu pada tahun 2011. (ndi/Al Jazeera)
