• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Pilkada Langsung Vs Pilkada Oleh DPRD
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pakar Menulis

Pilkada Langsung Vs Pilkada Oleh DPRD

Redaktur III Senin, 19 Januari 2026
Share
7 Min Read
Ilustrasi pemilihan umum/ Foto: freepik
Ilustrasi pemilihan umum/ Foto: freepik

Perdebatan mengenai Pilkada langsung vs Pilkada oleh DPRD hingga sekarang ini terus berlanjut. Pihak koalisi pendukung Pemerintahan Prabowo-Gibran tetap bersikukuh agar Pilkada dipilih oleh DPRD.

Sedangkan PDIP dan Sebagian akademisi serta pegiat pemilu juga bersikukuh agar Pilkada dipilih langsung oleh rakyat sebagaimana praktik yang terjadi selama ini.

Yusril Ihza Mahendra sebagai bagian dari pemerintahan menegaskan kalau Pilkada oleh DPRD tidak bertentangan dengan konstitusi.

Pasal 18 ayat (4) UUD NRI Tahun 1945 menyatakan “Gubernur, Bupati, Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah dipilih secara demokratis.”

Dari bunyi Pasal ini memang tersirat bahwa model pemilihan kepala daerah merupakan kebijakan hukum terbuka (open legal policy) dari pembentuk undang-undang. Baik itu dipilih langsung oleh rakyat maupun dipilih oleh DPRD sama-sama demokratis.

Namun demikian, bagi pendukung Pilkada yang dipilih langsung oleh rakyat memiliki argumentasi yang tidak hanya berkisar pada dasar hukum semata.

Argumentasi dari penolak Pilkada dipilih oleh DPRD juga berbicara mengenai ekses jika Kepala Daerah dipilih oleh DPRD.

Terkait dengan dasar hukum mereka mendasarkan pada putusan MK No. 85/PUU-XX/2022 yang intinya memasukkan Pilkada dalam rezim pemilu.

Putusan MK No. 85/PUU-XX/2022 kemudian diperkuat dengan putusan MK No. 135/PUU-XXII/2024 yang memisahkan antara pemilu nasional dan pemilu local.

Pemilu nasional diselenggarakan untuk memilih anggota DPR RI, anggota DPD RI dan Presiden-Wapres. Sedangkan pemilu local diselenggarakan untuk memilih anggota DPRD Provinsi, anggota DPRD Kabupaten/Kota dan Kepala Daerah.

Baca Juga:  Mahasiswa UPN Veteran Jatim Gaungkan Pesan Lingkungan Lewat Seni Daur Ulang di “Mahakarya Vol. VI: Ecotive”

Dengan lahirnya putusan MK No. 135/PUU-XXII/2024 ini maka MK semakin yakin dengan putusan MK No. 85/PUU-XX/2022 bahwa Pilkada masuk dalam rezim pemilu.

Para akademisi dan pegiat pemilu yang menolak wacana Pilkada oleh DPRD ini berargumen bahwa kehendak pembentuk UU untuk mengembalikan model Pilkada langsung oleh rakyat menjadi dipilih oleh DPRD merupakan kebijakan yang bertentangan dengan kedua putusan MK tersebut.

Argumen yang diajukan oleh pendukung Pilkada langsung terkesan benar secara normative, tetapi argumentasi yang diajukan oleh mereka itulah yang justru menjadi trigger dari koalisi pendukung pemerintahan untuk melakukan perubahan terhadap format Pilkada dari langsung dipilih oleh rakyat menjadi dipilih oleh DPRD.

Mengapa demikian ? Kita tentu ingat ketika putusan  No. 135/PUU-XXII/2024 ini dibacakan oleh MK, pada saat itulah terjadi gelombang penolakan, khususnya dari beberapa anggota DPR.

Beberapa anggota DPR itu beranggapan kalau putusan MK ini sudah kebablasan. Karena MK memasukkan rezim Pilkada ke dalam rezim Pemilu. Sebagai pihak yang memiliki kewenangan untuk mengubah atau melakukan pembaharuan terhadap suatu UU, maka reaksi mereka tentu tidak hanya berhenti pada pernyataan.

Mereka tentu juga akan bergerak secara politik untuk memperkuat harga diri mereka sebagai pembentuk UU, yang oleh mereka tidak bisa sembarangan diintervensi oleh pihak manapun, termasuk oleh MK.

Kehendak mereka untuk mengembalikan model Pilkada tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, melainkan dipilih oleh DPRD tidak lain dan tidak bukan dipicu oleh putusan MK yang memasukkan rezim Pilkada ke dalam rezim Pemilu.

Baca Juga:  UPN Veteran Jatim Edukasi Siswa SDN Medokan Ayu 2 Surabaya Cara Cuci Tangan yang Benar

Kehendak untuk mengembalikan model Pilkada oleh DPRD dengan alasan biaya politik yang tinggi adalah alasan yang dibuat-dibuat. Selama ini mereka juga ikut dalam kontestasi Pilkada langsung dan mereka tidak mempermasalahkan. Bahkan Pilkada langsung merupakan salah satu ajang bagi parpol untuk unjuk kekuatan dalam kontestasi lima tahunan tersebut.

Alasan lain yang semakin memperkuat dugaan bahwa keinginan mereka untuk mengembalikan Pilkada langsung oleh rakyat menjadi dipilih oleh DPRD, dipicu oleh putusan MK juga dapat kita lihat pada konstelasi politik dukungan parpol yang mendukung serta menolak Pilkada dipilih oleh DPRD.

Kita tentu ingat, pada masa penghujung kekuasaan Presiden SBY, PDIP merupakan parpol yang getol agar Pilkada dipilih oleh DPRD. Sedangkan Partai Demokrat merupakan parpol yang getol agar Pilkada dipilih langsung oleh rakyat.

Sikap kedua parpol tersebut sekarang menjadi berubah. PDIP yang awalnya getol mendukung Pilkada dipilih oleh DPRD sekarang menolak jika Pilkada dipilih oleh DPRD.

Begitu juga dengan Partai Demokrat, yang awalnya mendukung Pilkada dipilih langsung oleh rakyat, sekarang berada pada jajaran parpol yang mendukung Pilkada dipilih melalui DPRD.

Perubahan sikap kedua parpol tersebut tentu tidak lepas pada konfigurasi politik yang ada di legislatif. Pada tahun 2014, PDIP bersikap menolak Pilkada dipilih langsung oleh rakyat karena pada waktu itu,

Baca Juga:  Dosen FKIP UWKS Memberikan Pelatihan Deep Learning Bagi Guru di SDN Banyu Urip IX Surabaya

Partai Demokrat sebagai Partai penguasa berkehendak agar Pilkada dipilih langsung oleh rakyat. Oleh karena itu, sebagai parpol “oposisi,” tentu PDIP harus memiliki sikap yang berbeda dengan Partai Demokrat.

Sebagai partai pendukung pemerintah, tentu Partai Demokrat juga ikut merasa terusik dengan sikap dari MK, sehingga Partai Demokrat juga masuk dalam jajaran pendukung Pilkada oleh DPRD, meski pada awalnya merupakan parpol yang getol mendukung Pilkada langsung oleh rakyat.

Meskipun terjadi perubahan sikap dari PDIP dan Partai Demokrat, tetapi sebenarnya perubahan sikap tersebut hanya sekedar pertukaran sikap semata, karena sikap Partai Demokrat yang masuk dalam koalisi penguasa bersikap mendukung Pilkada dipilih oleh DPRD, sehingga wajar jika PDIP sebagai parpol “oposisi,” bersikap menolak Pilkada dipilih oleh DPRD.

Terlepas pada opsi Pilkada dipilih oleh DPRD atau dipilih langsung oleh rakyat, tetapi ada satu hal yang perlu dipahami jika terjadi pergeseran model Pilkada oleh rakyat menjadi dipilih oleh DPRD, karena jika pilihan pembentuk UU ini tetap pada Pilkada oleh DPRD maka akan memiliki akibat hukum yang serius pada level regulasi.

Tidak cukup hanya mengubah Pasal dipilih oleh rakyat menjadi dipilih oleh DPRD. Oleh karena itu, pergeseran model Pilkada langsung oleh rakyat menjadi dipilih oleh DPRD tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Dr. Hananto Widodo, MH / Foto : Ist
Dr. Hananto Widodo, MH / Foto : Ist

Oleh Hananto Widodo

Penulis adalah Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya

SHARE
Tag :Pemilihan UmumPilkada
Ad imageAd image

Berita Aktual

Annie ALLDAY PROJECT saat wisuda/ Foto: allkpop
Annie ALLDAY PROJECT Menjadi Wisudawan dari Universits Colombia
Rabu, 20 Mei 2026
Google Gemini/ Foto: engagatged
Gemini Spark dari Google Asisten AI yang Memiliki Kemampuan Bertindak
Rabu, 20 Mei 2026
Foto korban penembakan di Masjid San Diego, California/ Foto: APNews
Polisi Mengatakan Pelaku Teror Menembak di Sekitar Masjid San Diego, California
Rabu, 20 Mei 2026
Presiden Prabowo/ Foto: parlement TV
Presiden Prabowo Target Turunkankan Kemiskinandari 6,0 hingga 6,5 Persen
Rabu, 20 Mei 2026
Presiden Prabowo dalam KEM-PPKF/ Foto: Parlemen TV
Pemerintah Target Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Rp16,800,- Hingga Rp17,500,-
Rabu, 20 Mei 2026

Mental Health

Ilustrasi introvert / Foto : freepik

Banyak Tidak Sadar Kelemahan Justru Kekuatan di Dalam Diri

Makanan bernutrisi/ Foto: Freepik

Studi Menyebutkan Konsumsi Makanan Bernutrisi Menekan Risiko Depresi

Tanda wanita tidak bahagia adalah kecemasan / Foto : Freepik

Studi Menemukan Intervensi Kesehatan Mental Lewat Medsos Mampu Mengurangi Kecemasan

Ilustrasi pria dan ponsel/ foto: freepik

Peneliti Menyebutkan Berhenti dari Medsos Tidak Signifikan Menghentikan Stres

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Lisa BLACKPINK Pamerkan Gelas Seharga Rp23 Ribu di Media Sosial

Bocoran Ponsel Huawei Nova 16 Akan Segera Diluncurkan

Ella Langley Menyapu Bersih Semua Kategori di ACM Awards 2026

Harga Emas Antam Turun Rp5.000 Menjadi Rp2,764 juta/gr

Banyak Tidak Sadar Kelemahan Justru Kekuatan di Dalam Diri

More News

Ilustrasi depresi bisa memicu bunuh diri / Foto: freepik

Bersama Mencegah Bunuh Diri

Rabu, 10 September 2025
Mahasiswa foto bersama dengan para siswa/dok.aktual.co.id

UPN Veteran Jatim Edukasi Siswa SDN Medokan Ayu 2 Surabaya Cara Cuci Tangan yang Benar

Rabu, 6 Mei 2026
Foto bersama usai kegiatan/dok.aktual.co.id

UPN Veteran Jatim Ajak Siswa SMP PGRI 61 Surabaya Belajar Hidup Rukun Lewat Moderasi Beragama

Selasa, 11 November 2025
Ilustrasi pemotongan anggaran/istimewa

Gaduh Pemangkasan Anggaran dan Tantangan Komunikasi Publik

Rabu, 12 Februari 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id