Aktual.co.id – SDN Banyu Urip IX Surabaya merupakan salah satu sekolah yang berlokasi dekat dengan kampus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yaitu terletak di Jl. Girilaya No.3, Kelurahan Banyu Urip, Kecamatan Sawahan, kota Surabaya, NPSN: 20532965.
Sekolah ini menjadi tujuan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat di tahun 2025. Pengabdian Masyarakat ini berfokus pada pelatihan bagaimana siswa belajar dengan menggunakan pendekatan Deep Learning sebagai pengganti kurikulum merdeka belajar yang pada saat ini ramai diinformasikan dan disampaikan oleh menteri pendidikan dasar dan menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.
Hal ini dirasa penting untuk dilaksanakan, karena guru harus terus melakukan pembaharuan terus-menerus dan berinovasi secara aktif dan kreatif sesuai dengan perkembangan kurikulum yang terus mengalami perubahan untuk membuat pembelajaran yang terkini terkait dengan pendekatan, strategi, metode dan model pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah seiring dengan perkembangan jaman dengan kemajuan teknologi.
Dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat yang kelompok kami lakukan ini, kegiatan pengabdian masyarakat telah dilaksanakan pada bulan oktober tahun 2025.
Tepatnya pada hari Jumat tanggal 31 Oktober 2025 pukul 13.00 s/d 15.00 WIB. Pelaksanaan pengabdian masyarakat tersebut dihadiri oleh para guru SDN Banyu Urip IX Surabaya yang berjumlah 11 orang guru.
Pengabdian masyarakat tersebut dilaksanakan di ruang rapat lantai 3 kampus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya atas permintaan dari pihak sekolah yang menginginkan pelaksanaan pengabdian masyarakat diselenggarakan di kampus.
Penmas dihadiri oleh wakil dekan 1 Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang mewakili dekan dalam memberi sambutan, kepala sekolah beserta guru SDN banyu urip XI Surabaya, 4 orang tim dosen pengabdian masyarakat, dan 2 orang mahasiswa yang membantu pelaksanaan pengabdian masyarakat yang bertugas untuk dokumentasi kegiatan.

Pelaksanaan pengabdian masyarakat berjalan lancar, dengan narasumber bapak Yudha Popiyanto, S.Pd.,M.Pd pakar teknologi pembelajaran yang mempresentasikan materi mengenai pendekatan deep learning.
Setelah pemaparan dari pemateri selanjutnya disertai dengan sesi diskusi dan tanya jawab oleh guru. Para guru antusias mendengarkan materi yang disampaikan dan aktif bertanya mengenai materi yang dipaparkan.
Terdapat 5 pertanyaan yang diajukan dari para guru SDN Banyu Urip IX Surabaya.
Adapun materi yang disampaikan oleh narasumber menjelaskan mengenai Pendekatan deep learning dalam konteks pendidikan. Pendekatan deep learning adalah metode pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal.
Pendekatan ini berfokus pada tiga elemen utama: meaningful learning (belajar bermakna), mindful learning (belajar penuh kesadaran), dan joyful learning (belajar menyenangkan). Tujuannya adalah agar siswa mampu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman mereka, berpikir kritis, dan menjadi pembelajar yang aktif serta mandiri.
Penerapan Deep Learning dalam sistem pendidikan Indonesia tidak hanya berfokus pada peningkatan pemahaman akademik, tetapi juga pada pengembangan keterampilan yang esensial untuk menghadapi tantangan abad ke-21. Menurut laporan World Economic Forum (WEF), pendekatan ini sangat relevan dengan konsep 21st Century Skills, yang terdiri dari tiga aspek utama:
Foundational Literacies – Kemampuan dasar seperti literasi, numerasi, literasi sains, teknologi, dan keuangan yang menjadi fondasi bagi siswa dalam memahami dunia.
Competencies – Keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dan menyelesaikan masalah secara efektif.
Character Qualities – Nilai-nilai seperti keingintahuan, inisiatif, ketahanan, dan kepemimpinan yang membantu siswa menjadi individu yang adaptif dan inovatif.
Dengan mengadopsi pendekatan Deep Learning, siswa diharapkan lebih memahami konsep secara mendalam, menjadi pembelajar aktif, serta memiliki motivasi tinggi dalam menjalani proses pendidikan.
Pendekatan ini juga memungkinkan guru untuk berperan sebagai fasilitator yang mendorong eksplorasi dan pemecahan masalah, bukan sekadar penyampai materi.
Tim Penmas Noviana Desiningrum, Yudha Popiyanto, Leni Yuliana, Savitri Suryandari
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
